Rabu, 19 Februari 2025

Singa Murni yang Pertama

 InshaAllah ini akan menjadi jariyahmu nak, sebab berhasil membawa adikmu mengikuti jejakmu untuk dapat ke luar negeri secara gratis melalui tulisan”, ujarnya dengan haru. Seolah masih hangat diingatan, bagaimana wajahnya terpaku masih tak percaya bahwa anaknya yang masih terasa kecil itu akan berangkat ke luar negeri pertama kali karena ilmu bersama kakaknya.

Kisah ini berawal dari ambisi seorang kakak untuk dapat menjadikan adik-adiknya menjadi orang-orang yang jauh lebih baik darinya, ya meskipun masih dalam proses dan iapun masih jauh dari kata baik. Ups, namun di keluarga besar saya, ke luar negeri karena ilmu masih menjadi hal yang sangat “sesuatu” di benak orangtua kami sebab jikalau ilmu itu tak penting, tak mungkin Allah sampai mengutarakannya melalui Al-Qur’an bahwa Dia akan mengangkat orang yang bertakwa dan berilmu beberapa derajat. Bukan satu derajat, tak hanya dua derajat, namun ‘beberapa’ derajat seolah memberikan penekanan atasnya. Pun diucapkan setelah adanya ‘ketakwaan’, sebab ilmu tanpa takwa akan menjadi manusia yang angkuh sedangkan orang yang bertakwa sudah pasti berilmu. Setidaknya, ia pasti ‘berilmu bagaimana menjadi hambaNya yang baik hingga mencapai kata ‘takwa’ itu sendiri.

Jauh setelah komitmen untuk mengumpulkan 100% uang pemasukan saya pada salah satu pekerjaan untuk memberangkatkan orangtua ke MasjidilAqso, saya tiba-tiba berangan ingin membawa adik-adik saya ke luar negeri tapi dengan keterlibatan mereka pula melalui ilmu. Ya, setidaknya negara yang paling dekat dulu saja dengan Indonesia, setidaknya menjadi pintu pembuka mereka untuk melihat dunia dan manusia-manusia lain di luar sana yang mungkin akan sulit mereka dapatkan di Indonesia. Meskipun hanya satu atau dua hari, yang penting ada pelajaran yang dapat mereka raih. Kemudian beberapa masa setelah itu, adik pertama saya berujar pada saya bahwa ia memiliki target untuk telah menginjakkan kaki ke luar negeri sebelum usianya yang ke 20 tahun. Pun di keluarga kami sudah mudah dipahami, bahwa ucapan “ke luar negeri” artinya bukan untuk sekadar traveling tanpa tujuan sebab hanya ada dua pilihan sejauh ini: ke luar negeri untuk belajar atau pekerjaan.

Ucapannya itu membuat saya ikut tergugah, hingga saya berujar padanya “Kalau kau ingin ke luar negeri dalam waktu dekat, cara tercepat adalah melalui tulisan”. Kemudian dia bertanya pada saya bagaimana cara memulai suatu tulisan yang ilmiah dan bagaimana cara menyelesaikannya. Saat itu saya memulainya dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan bidang studi yang ia sukai: kedokteran gigi, dengan masing-masing pertanyaan harus ia jawab dengan minimal 500 kata. Pada akhirnya, tanpa disadari sebetulnya ia telah berhasil menulis satu artikel penuh. Sebab mengerti bahwa ia cukup takut untuk memulai, secara diam-diam saya mengajukan karya tulisnya yang sudah saya bantu proofread dan edit tersebut pada forum internasional terdekat di luar negeri yang juga menyediakan fully funded bagi para peserta yang tulisannya lolos seleksi. Alhamdulillah, lolos. Bahkan tak hanya satu orang yang berangkat, melainkan kami berdua sama-sama diundang untuk menghadiri acara tersebut dengan dibiayai penuh. Dan kala itu, adik saya belum tau apa-apa sebab saya buatkan email baru untuknya pun ia berada di kota rantau yang jauh dari keluarga.

Malam itu juga saya langsung menemui ibu saya dan menyatakan bahwa saya diundang untuk menghadiri forum internasional di Singapura secara gratis. Tau ga dengan siapa?”, tanya saya pada ibu saya. “Siapa?”, tanyanya sembari menegakkan posisi duduknya pertanda antusias ingin tau. Matanya seketika berkaca-kaca saat tau bahwa adik pertama saya juga diundang dalam acara tersebut sembari mendekap tubuh saya dan tak henti mendoakan kebaikan. Kami pun menanti kedatangan ayah yang tengah masih di masjid saat itu untuk membagikan kabar gembira. Adik pertama saya yang sebetulnya terlibat dalam acara ini justru sengaja belum kami kabari, “Nanti saja saat ia sudah tiba di rumah untuk liburan agar menjadi kejutan baginya” sepakat kami. Qodarullah, tanggal liburan adik saya tersebut juga dapat disesuaikan dengan acara keberangkatan kami di Singapura sehingga dapat mempermudah semuanya.

Sudah datang. Bahagia namun berpikir “Aku akan bagaimana di sana nanti?”, tanya adik saya. “Bismillah, kita bersama”, ujar saya menenangkan. Berangkat. Saat di bandara, saya berikan sedikit tugas ringan padanya untuk menuliskan setidaknya 10 pelajaran yang ia dapatkan selama di Singapura dalam berbagai segi termasuk kehidupan, budaya, atau pemikiran serta harus ia serahkan pada saya saat kami sudah tiba kembali di Indonesia nanti. Ia setuju. Entahlah, mungkin sebab ambisi awal saya ingin membantu adik saya pergi ke luar negeri pertama kali melalui ilmu sehingga saya pun tak ingin pengalaman pertamanya ini hanya berakhir sebagai cerita tanpa ada ‘isi’ di dalamnya.


Acaranya berjalan dengan sukses, Alhamdulillah. “Wah kak, kalau begini ceritanya mah aku yakin bisa berikan lebih dari 10 pelajaran yang sudah aku dapatkan selama perjalanan ini ke kau”, ucapnya dengan mata berbinar saat kami tengah perjalanan ke bandara Changi untuk kembali ke Indonesia. Saya pun mendengarnya dengan penuh kesyukuran tak terkira. Beberapa waktu setelah tiba di Indonesia, benar saja ia mengirimkan list pelajaran-pelajaran berharga yang telah ia dapatkan selama perjalanan di Singapura bahkan 5 kali lipat lebih banyak dari kesepakatan awal kami. Kesyukuran tak terkira benar-benar saya rasakan dari perjalanan ringan ini yang berawal dari ambisi ringan pula. Pun dengan doa tiada tara, ‘Semoga ini menjadi langkah pertama bagimu untuk menembus pintu-pintu kesuksesan besar tiada tara di kemudian waktu bagi adikku Yaa Rabb’.

Suatu hari nanti saat ia ‘merasa’ tak memiliki kemampuan apapun, atau tak dapat mencapai beberapa hal dalam hidup, semoga ia mengingat kembali saat ini dimana dengan kemampuan yang ia miliki pada akhirnya dapat membawanya pergi ke luar negeri secara gratis hingga dapat memperluas wawasan, pengalaman, serta kemampuan dan relasi yang ia miliki bahkan sekaligus tercapainya cita untuk dapat ke luar negeri pertamakali sebelum usia ke 20 tahun. Pun pada akhirnya kembali saya sadari, bahwa standar kesuksesan setiap orang memang berbeda-beda namun setiap pencapaian besar pasti berawal dari doa kuat, ridho orangtua dan ambisi dalam berusaha tiada tara sebab itulah perintahNya yang paling agung.

Sekian saja kisah tentang Singa Murni (Singapore, read: Singapure) dalam pengalaman adik saya ke luar negeri untuk yang pertama kalinya. Semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca, pun bagi diri saya sendiri agar dapat menjadi wasilah dalam beribadah.

Salam Semangat,

Oyek Jiddan

Sabtu, 11 Januari 2025

Panggilan Suci Dari Azerbaijan

Masih 35 tahun lagi nak kalau dari Indonesia. Nanti kalau bisa haji dari sana, berangkat aja ya. InshaAllah pasti Allah kasih jalan”. Begitulah kira-kira pesan ayah saya tepat saat pengumuman beasiswa ke Azerbaijan saya terima pada 13 September 2022 lalu.

Saya selalu berusaha tidak mengutarakan segala macam mimpi atau tujuan jangka panjang kepada orang lain sebelum tujuan itu benar-benar mendapatkan titik terang, termasuk pada keluarga saya sendiri. Namun demikian, sebab saya tidak terlahir dari keluarga yang memiliki kekuasaan atau jaringan yang luas, seringkali saya mengumpulkan puzzle-puzzle informasi dari orang lain yang kemudian dapat saya gabungkan dan menjadi kesimpulan informasi yang valid. Meski pada akhirnya, seringkali Allah seolah meminta saya untuk berusaha sendiri untuk mendapatkan informasi langsung dari sumber utamanya. Salah satunya, terkait keberangkatan haji dari Azerbaijan sebagai mahasiswa Indonesia di Baku.

Sejak awal kedatangan saya di Azerbaijan, beberapa kali saya menggali informasi terkait pemberangkatan haji dari negara ini kepada beberapa pihak khususnya yang sudah lama tinggal di Baku. Sayangnya, belum pernah ada WNI yang berangkat haji dari Azerbaijan kecuali hanya satu kali itupun beliau dari pihak KBRI dan keberangkatannya merupakan hasil kerjasama dengan Kemlu dan belum pernah terjadi lagi. Pun, jikalau ada lagi, tentu mahasiswa seperti saya agaknya tidak mungkin mendapatkan kesempatan tersebut. Sumber informasi yang saya peroleh terkait hal ini pun menceritakan pada saya betapa sulitnya proses keberangkatan mereka kala itu. Baiklah, saya terima. Pikir saya saat itu, mungkin bukan dari Azerbaijan jawabannya untuk menunaikan rukun islam yang terakhir itu. Namun demikian, ya, seperti biasa. Saya tidak pernah mengubur mimpi, saya biasa hanya menyimpannya dan terus bermunajat agar diberikan yang terbaik.

30 Desember 2023, qodarullah saya diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah umroh untuk pertama kalinya dalam hidup. Keberangkatan saya kala itupun tanpa direncanakan. Saya ingat betul, tadinya saya hanya merencanakan untuk merefresh pikiran sebelum ujian akhir semester namun qodarullah saat terbangun dari tidur tiba-tiba saya terpikir untuk mencari tahu visa transit ke Saudi. Dan saat saya coba, hanya 2 menit visa saya langsung keluar. Alhamdulillah. Dan qodarullahnya lagi, keberangkatan umroh yang tadinya hanya saya rencananya pergi sendirian, justru diikuti oleh 3 kawan saya yang lain hingga kami berangkat berempat dengan masa umroh total 4 hari sebab visa transit dari FlyNas hanya berlaku selama 96 jam. Saat itu, salah satu doa saya adalah ingin menunaikan ibadah haji atau setidaknya umroh pada bulan Ramadhan sebab pahalanya sama dengan orang yang berhaji. Doa itu pada akhirnya saya upayakan betul-betul pada bulan Ramadhan. Saya mengajak beberapa kawan saya yang lain untuk menunaikan ibadah umroh pada akhir Ramadhan hingga kami dapat menaikan ibadah Shalat Idul Fitri di masjidil Haram. 2 kawan saya tersebut belum pernah melaksanakan umrah dan belum pernah manasik sebelumnya, sehingga saya ikut membantu mereka untuk persiapan keberangkatan baik dari segi ibadah maupun dari segi dokumen. Beberapa kali pun saya bermalam di rumahnya untuk menyelesaikan dokumen-dokumen keberangkatan, khususnya dalam pencarian hotel dan tiket pesawat dengan harga miring sebab pada bulan tersebut semua harga mulai naik. Visa kami bertiga pun belum juga bisa diurus sebab masih menunggu salah satu diantara kami mendapatkan izin kerja hingga H-7 idul fitri. Di antara gelapnya malam, saya coba lagi untuk mengajukan visa namun kali ini saya dahulukan untuk mengurus visa kedua kawan saya terlebih dahulu. Berhasil, Alhamdulillah. Visa mereka berdua sudah terbit dan langsung saya kirimkan pada mereka untuk berbagi kebahagiaan. Namun qodarullah, justru visa saya tidak bisa keluar, yang entah dimana letak permasalahannya. Bahkan saya sudah mencoba untuk melakukan pembelian tiket pesawat lagi dan telah mencoba mengurus visa dari kementerian Saudi langsung namun tetap saja visa saya tidak bisa diterbitkan dan biaya yang sudah saya keluarkan tidak bisa dikembalikan. “Kalian tetap berangkat aja ya, kalau qodarullah saya berangkat ya pasti akan nyusul. Kalau ga, ya sudahlah. Jangan sampai hanya karna saya tidak berangkat, kalian batal berangkat juga”, pesan akhir saya untuk meyakinkan kedua kawan saya yang hampir membatalkan keberangkatan mereka sebab khawatir tidak ada pemandu selama ibadah nanti. Dan, mereka pun pada akhirnya yakin untuk tetap berangkat tanpa saya.

H+1 hari raya Idul Fitri. Tak henti-hentinya kepala saya bising akan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di jiwa, rahasia apa Allah tidak memberangkatkan saya umroh pada bulan Ramadhan ya? Apakah saya pernah menyakiti hati orang lain? Ataukan ada dosa besar yang menghalangi terkabulnya doa? Masa sih Allah tidak mengabulkan doa saya saat umroh kemarin? Hingga saat terbangun dari tidur hari itu, saya tiba-tiba teringat akan doa yang saya panjatkan kala umroh pada tahun baru bahwa saya tidak hanya memanjatkan “umroh pada bulan Ramadhan yaa Rabb”, melainkan ada tujuan utama di balik doa saya tersebut “sebab pahalanya setara dengan menunaikan ibadah haji”. Eh, apakah jangan-jangan ini adalah salah satu tanda bahwa Allah meminta saya untuk daftar haji dari Azerbaijan ya? Detik itu juga saya mencari-cari di internet terkait keberangkatan haji dari Azerbaijan. Dimulai dari biayanya, siapa yang memberangkatkan, rombongannya, persyaratannya, hingga travel yang mengakomodasi keberangkatan jamaahnya. Saya bahkan melakukan sholat istikharah untuk mencari agen keberangkatan haji tersebut sebab dikhawatirkan adanya penipuan meskipun saya tahu bahwa Azerbaijan adalah negara dengan tingkat kriminalitas yang sangat rendah.

Dapat. Saya mulai menghubungi beberapa travel keberangkatan haji di Azerbaijan untuk menanyakan apakah bisa mahasiswa asing bergabung dalam rombongan mereka dengan Bahasa Azeri. Kebiasaan orang Azeri yang menggunakan voice note pun pada akhirnya membuat saya meminta bantuan pada kawan Azeri saya sebagai translator. Hal ini saya lakukan juga untuk mengurangi kemungkinan adanya penipuan sebab biaya yang harus dikeluarkan nanti tentu tidak sedikit di samping adanya dokumen-dokumen pribadi yang harus dibagikan. Tidak bisa. Pendaftaran haji dari Azerbaijan sudah ditutup. Pada akhirnya saya mengurus perpanjangan paspor di KBRI sebab masa aktif paspor saya akan habis sekitar 8 bulanan lagi. Ya, hitung-hitung sebagai salah satu upaya siapa tahu Allah kasih jalan tiba-tiba berangkat haji. Pikir saya kala itu.

Masih ada 1 travel lagi yang belum merespon pesan saya. Pada akhirnya, sebagai alasan keamanan pula, saya meminta tolong pada bagian protokoler KBRI yang merupakan orang Azeri untuk membantu bicara melalui telepon pada agen travel tersebut agar jawaban dapat saya peroleh lebih cepat. Sebab travel sebelum-sebelumnya berkata bahwa pendaftaran sudah ditutup. Masih bisa. Namun saya harus membawa orang Azeri saat mengumpulkan dokumen sebab terkendala bahasa dan alasan keamanan (lagi). “Tapi kalau mau, saya ada kontaknya pengurus haji. Kamu bisa bahasa Arab kan?”, sahut beliau. Saya pun mengiyakan.

Saat itu juga saya langsung menghubungi kontak tersebut dengan Bahasa Arab, sebab beliau kurang mahir berbahasa Inggris dan saya kurang pandai berbahasa Azeri. Langsung direspon. Beliau langsung meminta saya untuk mengirimkan dokumen berupa paspor dan TRP (Surat Izin Tinggal), namun tidak lagi direspon. Keesokan harinya, saya mencoba mencari alamat kantor beliau dan langsung saya kunjungi dengan membawa kedua dokumen tadi. Maklum, saya hanya ingin agar kekhawatiran saya lekas hilang sebab pendaftaran haji melalui travel-travel sudah ditutup. Beliau pun menyambut saya dengan hangat dan penuh hormat sambil langsung mengangkat genggam teleponnya untuk menghubungi seseorang, dan bertanya “Kamu sunni atau syi’ah” lalu saya jawab “Sunni”. Hal ini memang sangat mereka butuhkan untuk pengelompokan jamaah haji agar sesuai dengan mutowwifnya pula.

Seseorang yang ditelponnya pun datang dan ikut menyambut saya dengan Bahasa Arab, yang ternyata beliau adalah ketua majlis ulama di Azerbaijan yang mengurus keberangkatan seluruh jamaah haji dan umroh dari negara ini. Sambil memasukkan data diri saya di komputernya, beliau mengajak saya berbincang hangat dan menyampaikan kesan baiknya ‘Kok bisa-bisanya pelajar Indonesia di negeri orang, sendirian, perempuan pula berani-beraninya haji dari Azerbaijan sedangkan dia cuma bermodalkan Bahasa Arab dan Inggris. Pun, hanya sedikit orang Azeri yang bisa berbahasa Inggris’. Sayapun hanya tersenyum sambil berkata “qodarullah”, dan disambut pula dengan tawa. Usai memasukkan data diri dan melakukan pembayaran secara cash, saat saya hendak berjalan keluar ruangan tiba-tiba beliau memanggil saya kembali, “Brilliant, ini ada sisa kelas bisnis. Kau kan mahasiswa, mau mengisinya kah?”. Saya hanya terdiam sambil dalam hati berpikir ‘ah, ingin sekali. Kapan lagi bisa upgrade business class gratis saat haji pula. Tapi orangtua saya belum pernah, saya tak ingin mendahulukan beliau’. “Kalau berubah pikiran langsung kabari saya saja ya, saya tunggu hingga hari H keberangkatan”, sambungnya. Kemudian beliau juga menyampaikan bahwa saya akan dihubungi kembali maksimal 7 hari lagi saat saya bertanya bagaimana proses selanjutnya.

Saat itu, kondisi saya masih bingung apakah semua orang yang daftar haji di Azerbaijan pasti akan berangkat? Apakah ada kemungkinan saya tidak dapat visanya sebab saya mahasiswa asing? Dan segala macam pertanyaan lainnya yang hanya dapat saya simpan sendiri sebab saya pun tak tahu harus bertanya pada siapa. Namun saat itu, saya hanya memiliki keyakinan yang kuat bahwa tidak mungkin Allah membiarkan saya membayar sekian banyak uang tapi visa haji tidak keluar setelah segala macam proses yang terjadi. Pun, pendaftaran haji yang pada awalnya ditutup ternyata setelah berambisi gila untuk langsung menghadiri kantor pusat nyatanya Alhamdulillah masih bisa terdaftar dengan penuh kemudahan. Ups, hampir lupa saya sampaikan. Itu adalah kali pertama saya bertemu dengan orang Azeri yang fasih berbahasa Arab dan sangat begitu baik dengan ketulusannya dan seketika itu juga pandangan saya terhadap orang Azeri berubah. Ya, di samping adanya kenyataan bahwa saya selalu merasa seperti bersama keluarga sendiri setiap kali bertemu penutur Bahasa Arab.

Di tengah sedang Video Call dengan orangtua saya, tiba-tiba pesan baru masuk dari ketua MU tersebut. Visa haji saya keluar, Alhamdulillah. Di waktu yang tepat dengan kebersamaan bersama orangtua, kami bersujud syukur atas kuasaNya Allah yang sedemikian dasyatnya. Beberapa menit kemudian saya mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal yang ternyata adanya mutowwif saya. Saya pun diminta untuk menemuinya di salah satu masjid terbesar di Baku. Itu adalah kali pertama manasik haji dilakukan dan tentu saja dengan bahasa Azeri. Usai memberikan materi dan 90% jamaah sudah meninggalkan masjid, saya menghampiri mutowwif tersebut dan bertanya dengan Bahasa Azeri “Apakah kau bisa berbahasa Inggris atau Arab?”. Beliau pun ternyata menjawab tidak. Beruntungnya, salah satu jamaah bisa berbahasa Inggris dan bersedia untuk menjadi translator kami berdua. Pada akhirnya mutowwif tersebut menyampaikan bahwa saya akan dialihkan pada jamaah kawannya di masjid lain yang bisa berbahasa Arab agar pelaksanaan ibadah haji saya dapat jauh lebih mudah. Kawannya pun langsung menghubungi saya beberapa waktu kemudian dan meminta saya untuk menemuinya di masjid tempat ia menjadi imam beberapa hari kemudian. Ups, dan sebab hal ini juga pada akhirnya saya melakukan manasik haji sendiri dengan kedua orangtua saya melalui Video Call setiap hari hingga hari keberangkatan. Sebab lainnya, ialah sebab masyarakat di sini termasuk mutowwifnya bermadzhab Hanafi dan keluarga saya bermadzhab Syafi’i, pada akhirnya manasik ini saya butuhkan untuk menghindari kesalahpahaman saat adanya perbedaan. Sebab salah satu kunci utama haji mabrur, berawal dari manasik yang sempurna. Allahummaj’al hajjana hajjan mabruron.

Singkat cerita, sebab pergantian mutowwif tersebut pada akhirnya keberangkatan saya diubah H+1 dari jadwal sebelumnya. Bandara Heydar Aliyev saat itu penuh dengan para jamaah haji yang, entahlah, mungkin memang pada waktu tersebut penerbangan sudah dikhususkan bagi para jamaah haji. Saat melakukan check in, saya bertemu kembali dengan pengurus administrasi yang saya temui di kantor saat itu, yang kemudian beliau mengenalkan saya pada beberapa kerabatnya dari kalangan business class yang sepertinya juga para pejabat “Ini dia mahasiswi Indonesia tapi haji dari Azerbaijan” lalu saya sambut dengan senyuman.

Mungkin juga sebab faktor jamaah yang jumlahnya sedikit dan tidak sebanyak di Indonesia sehingga akomodirnya jauh lebih mudah, setibanya di Bandara Jeddah kami langsung disambut dengan para petugas negara. Dilarang membawa barang bawaan sendiri, diberikan buku agama berbahasa Arab-Azeri-Turkish, disambut dengan kenikmatan kopi yang diberikan secara gratis, makanan ringan, air zam-zam, hingga transportasi bus yang sangat nyaman. Petugas dari Saudi pun langsung membagikan ID Card Nusuk pada kami sebagai pengganti paspor sebab paspor kami dikumpulkan di pusat, di samping mutowwif yang membagikan kamar kami selama di Makkah sambil berteriak “Jangan macam-macam, ini adikku dari Indonesia dia pandai berbahasa Arab dan Inggris” sambil menunjuk saya. (Baiklah, kisah spiritual dengan mutowwif ini akan saya bagikan di kisah selanjutnya). Pun setibanya di hotel, kami kembali disambut dengan makanan ringan, dan ID card berwarna merah beserta gelang haji khas bagi jamaah dari kawasan Caucasus.

Malam itu juga kami langsung melakukan Towaf Qudum bersama-sama dan serangkaian ibadah lainnya. Sang mutowwif pun juga menyampaikan beberapa hal terkait kegiatan kami selama di Makkah sebelum puncak haji berlangsung, kemudian dilanjutkan dengan segala macam hal yang perlu kami ketahui terkait akomodasi dan transportasi dari dan menuju hotel. Poin utamanya, sebab haji merupakan hasil kerjasama antar negara, sehingga segala macam hal termasuk makanan di hotel sudah disesuaikan dengan budaya negara kami berasal. Yang demikian, makanan saya sehari-hari selama di sana termasuk snack yang disediakan merupakan makanan khas Azerbaijan dan saya termasuk orang yang tak pernah mempermasalahkan terkait hal itu.

Puncak haji. Seluruh jamaah bersama-sama menuju Mina-Arofah-Muzdalifah-Mina yang di seluruh tempat tersebut Alhamdulillahnya kami difasilitasi dengan tenda yang sangat nyaman, kasur yang empuk, ruangan yang luas dan dingin, dan yang paling penting bagi saya serta paling saya syukuri ialah tenda kami selalu dipisah antara jamaah laki-laki dan perempuan. Dimana hal tersebut tidak didapatkan apabila berangkat dari Indonesia. Pun saat di Muzdalifah, seluruh jamaan haji dari Azerbaijan sudah disediakan tempat khusus dengan karpet yang tebal sehingga seluruh jamaah merasa nyaman. Yang mana dengan demikian, secara fasilitas akomodasi dan transportasi, saya sangat bersyukur Allah berikan kesempatan berangkat dari negara ini. Pun secara hablu minannas, seluruh jamaah haji di rombongan khususnya mutowwifnya seolah merasa sangat bertanggung jawab atas keamanan dan kenyamanan saya, dimana hal tersebut selalu mereka tanyakan tanpa henti. Ya, mungkin sebab saya merupakan jamaah paling muda, sendirian pula saat itu.

Email dari kampus masuk. Jadwal sidang thesis terbuka saya sudah keluar dan seluruh dokumen sudah harus diserahkan pada dekan saat itu juga. Pada akhirnya saya meminta keringanan dan meminta Hanhae (kawan belajar saya) untuk membantu mencetak thesis dan beberapa dokumen lainnya serta menyerahkan pada dekan. Ah, kalau-kalau dia tahu bahasa Indonesia. Dear Hanhae, terimakasih banyak!. Anyway, sidang thesis terbuka saya dijadwalkan tepat satu minggu sebelum jadwal tiket kepulangan saya ke Baku. Qodarullah kedua jadwal tersebut tidak bisa diganti meskipun saya sudah menghubungi beberapa pihak. Di sisi lain, ketua MU dan mutowwif saya pun beberapa kali meyakinkan saya untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga ke kembali ke Baku dari Madinah yang tentu saja membuat saya sangat dengan berat hati meninggalkan kota suci tersebut lebih cepat. Orangtua saya pun mengingatkan sebab telah dilaksanakannya seluruh rangkaian haji dengan sempurna dan jadwal sidang thesis terbuka yang terjadi tepat setelah itu semua saja, itu sudahlah merupakan nikmat Allah yang sangat begitu besar. Benar saja, tidak terbayang bagaimana jikalau sidang thesis terbuka saya dijadwalkan sebelum rangkaian haji selesai, Yassalam.

Malam itu juga pada akhirnya saya menyampaikan keputusan akhir saya pada ketua MU dan mutowwif bahwa saya harus kembali ke Baku terlebih dahulu sebab akan adanya ujian. Beliau pun kemudian memberikan kembali paspor saya serta kurma muda sebagai buah tangan, dan menyampaikan pada seluruh jamaah atas kepulangan saya tersebut. Pun pada akhirnya, malam itu juga sang mutowwif dan seluruh jamaah haji ikut mengantarkan saya menuju taxi di depan hotel. Seolah tak ingin membiarkan saya sendiri, Qodarullah, terdapat dua jamaah lainnya yang juga harus kembali ke Baku terlebih dahulu dan satu pesawat dengan saya sehingga kami bertiga dapat bersama-sama kembali ke Baku yang qodarullah pula beliau dapat berbahasa Inggris. Pun selama menunggu pesawat di bandara Jeddah kami sempat berbincang-bincang sambil menikmati hidangan makan malam yang beliau berikan pada saya.

Udara kota Baku kembali terhirup melalui hidung saya. Pertanda, perjuangan kembali dimulai. Bagaimana tidak, keesokan harinya ialah hari dimana saya harus menghadapi sidang thesis terbuka. Yang, Alhamdulillah berjalan dengan sangat lancar bahkan di luar ekspektasi saya.

Kisah perjalanan ini tidak lain merupakan pengalaman pribadi saya yang boleh jadi berbeda dengan pengalaman-pengalaman orang lain meskipun dengan kesempatan yang sama. Pun ia dituliskan semoga tanpa menimbulkan segala macam perasaan yang dimurkai Allah hingga murni dapat tersampaikan dengan baik dan dapat diambil pelajaran darinya. Semoga sang pembaca juga lekas Allah berikan kesempatan untuk menunaikan rukun islam yang terakhir dengan caraNya dan dalam keadaan terbaik hingga berakhir dengan kata “Mabrur”. Sekian.

Hajj 1445H/2024

-Brilliant Windy Khairunnisa-

 

Rabu, 08 Januari 2025

Keyakinan Gila Menuju Baitul Maqdis

Wajah yang tegang terpaku, sorot mata yang kosong, seolah bumi berhenti berputar sepersekian detik, kemudian pipi mulai terbasahi oleh air mata haru tiada henti.

"Nak, kami tidak bisa berkata-kata lagi. Padahal kan kau masih menjadi tanggung jawab kami, mengapa harus kau berikan hadiah sedemikian rupa?", ujarnya dengan suara yang terisak oleh tangisan.

Sejak kecil, saya sangat menyadari dan berani mengakui bahwa karakter yang saya miliki sangat jauh berbeda dengan saudara-saudara kandung saya yang lain dimana bentuk kasih sayang dengan mudah dapat mereka sampaikan melalui perilaku yang mesra terhadap orangtua. Mengetahui kekurangan itu, pada akhirnya saya selalu mencoba untuk mencari cara lain untuk membahagiakan beliau selain melalui prestasi di bidang akademik ataupun non-akademik yang saya yakin dari situ dapat membantu menaikkan derajat beliau di hadapan masyarakat. Sekitar tahun 2012, almarhum kakek saya Allah berikan kesempatan untuk mengunjungi Baitul Maqdis di Palestina pada musim dingin meskipun usianya sudah tak lagi muda kala itu. Semangat beliau dalam beribadah sampai tanpa terasa membasahi halaman dengan aliran darah yang mengalir dari telapak kakinya, tak kuasa menahan suhu dingin yang memecahkan pembuluh darah di kulit. Kemudian memberi pesan pada orangtua saya, agar dapat mengunjungi salah satu masjid yang diutamakan untuk dikunjungi selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu untuk semakin memperkuat iman kepada kuasaNya. Pesan itu sampai pada telinga saya, membuat saya selalu mebayangkan agar kedua orangtua saya benar-benar tiba pada Masjidil Aqso tanpa berpikir bagaimana cara beliau dapat tiba di sana dengan situasi dan kondisi geopolitik yang sedang tidak baik-baik saja.

Pada tahun 2019, saya mendapatkan undangan untuk pergi ke Pakistan secara gratis. Anggap saja itu adalah salah satu ambisi saya untuk memperbanyak pengalaman di luar negeri secara gratis agar dapat mempermudah jalan saya mendapatkan beasiswa untuk jenjang S2. Ya, sejak awal perkuliahan S1 saya mendapatkan beasiswa fully funded dari prestasi Pencak Silat yang sudah saya jalani sejak duduk di jenjang sekolah dasar. Mungkin itu adalah ganti terbaik dari Allah sebab saya harus mengikuti permintaan ayah saya untuk membatalkan beasiswa ke luar negeri yang sudah saya dapatkan sekitar 2 bulan setelah mendapatkan ijazah jenjang SMA. Yang pada dasarnya, salah satu alasan saya ingin kuliah jenjang S2 di luar negeri tidak lain ialah agar saya dapat jauh lebih mudah memberangkatkan kedua orangtua saya menginjakkan kaki di Masjidil Aqso, agar penghasilan kerja saya dapat fokus untuk menggapai hal itu sebab biaya hidup saya sudah ditanggung oleh beasiswa. Keinginan kuat itu kemudian saya sampaikan pada status WhatsApp tanpa mengutarakan tujuannya secara spesifik. Di tahun 2022, saya membuat status ucapan 'Happy Anniversary' yang ke 28 tahun pada kedua orangtua saya sambil berujar "Nanti kado anniversary ke 30 tahun di luar negeri ya!" sedang dalam hati saya berdoa dengan kuatnya "Ke Masjidil Aqso yaa Rabb". Di tahun yang sama qodarullah benar-benar Allah kasih saya beasiswa fully funded lagi untuk memulai kuliah jenjang S2 di luar negeri, saat itulah semakin penuh keyakinan saya bahwa mungkin memang Allah berikan saya kesempatan untuk benar-benar membawa kedua orangtua ke Masjidil Aqso.

Semakin berjalannya kehidupan di Azerbaijan, semakin ada saja rezeki bertubi yang Allah berikan melalui berbagai macam proyek yang terus membuat saya berucap dalam hati "Oh, jangan-jangan memang ini cara Allah untuk mewujudkan mimpi besar itu". Saya berprinsip kuat, untuk tidak akan menikmati pesawat kelas bisnis sebelum kedua orangtua saya merasakannya, untuk tidak ke luar negeri dengan tujuan jalan-jalan (sebab sebelumnya saya selalu ke luar negeri hanya dengan tujuan belajar atau bekerja), yang bukan karena agar saya dapat menabungkan uangnya, melainkan karena ingin benar-benar berusaha memuliakan beliau seutuhnya. Saya juga bermunajat, agar benar-benar telah membawa beliau ke Aqso sebelum saya menikah sebab khawatir niat saya tersebut terhalang oleh prinsip pasangan saya kelak. Bahkan saat saya mendaftarkan haji dari Azerbaijan, saya menolak tawaran petugas haji untuk mendapatkan free business class hanya dengan satu alasan 'orangtua saya belum merasakannya'. Seiring berjalannya waktu, kawan saya yang sudah berkeluarga kemudian mengingatkan. Ujarnya, seorang suami akan mudah cemburu terhadap istrinya sekalipun pada orangtua istrinya sendiri. Ya, meskipun hingga saat ini saya tidak percaya akan hal itu, namun pada saat itu saya langsung menambahkan segelintir doa "Yaa Rabb sebelum menikah, sebelum usia seperempat abad, dan sebelum saya bertemu dengan calon suami, saya sudah membawa kedua orangtua ke Aqso yaa Rabb", seolah itu adalah bentuk puncak rayuan terkuat yang saya panjatkan saat itu.

Maret 2024, terbayar lunas untuk keberangkatan kedua orangtua saya ke Masjidil Aqso. Keberangkatan akan dilaksanakan pada akhir bulan Agustus 2024, sengaja saya pilih tanggal tersebut sebab menurut perhitungan, saya sudah tiba di Indonesia sebelum itu. Haru tiada tara saat kwitansi pembayaran telah saya terima. Pembelian tiket pesawat kelas business yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, ternyata dapat saya lakukan dengan tangan dan jerih payah saya sendiri hasil dari keyakinan yang kuat terhadap kuasaNya Allah. Namun siapa sangka, seolah menguji kesabaran saya, tepat satu hari setelah seluruh rangkaian ke Aqso saya lakukan, salah satu akun e-money saya tersadap oleh orang yang tak bertanggung jawab. Hanya menyisakan 500 rupiah di dalamnya. Dan itu adalah satu-satunya akun uang rupiah saya tersimpan, sebab saya tidak memiliki akun bank di Indonesia sama sekali, sebab akun bank di luar negeri adalah satu-satunya yang aktif saya miliki. Namun di balik itu semua, saya yakin bahwa Allah pasti akan mengganti segala kesedihan dan kepedihan yang dialami oleh hambaNya dengan kebahagiaan dan senyuman tak terkira hingga menghasilkan kesyukuran yang tiada hentinya.

Benar saja, tepat pada tanggal 25 April 2024, dengan caraNya Allah saya telah melunasi biaya pendaftaran haji dari Azerbaijan yang padahal sebelumnya tiada informasi sama sekali untuk itu. Namun Allah, berhasil menuntun saya untuk bergerak menuju kantor pusat hingga saya dapat menunaikan haji dari negara tersebut.

H-28 saya tiba di Indonesia. Saya baru sadar bahwa nama yang tercantumkan pada paspor kedua orangtua saya hanyalah satu suku kata, sedangkan untuk mendapatkan visa di negara-negara Timur Tengah khususnya Palestina, suku kata nama minimal harus berjumlah tiga. Harus mengurus di kantor imigrasi untuk memberikan nama tambahan, sedangkan rencana awalnya saya tak ingin memberi tau kedua orangtua saya terkait hadiah anniversary mereka sebelum hari H perayaan tersebut dan saya tak ingin membuat beliau repot-repot jauh ke imigrasi untuk mengurus dokumen. Ah, andai saja mengurus penambahan nama itu dapat saya lakukan dari Azerbaijan. Namun manusia tak elok untuk berandai-andai. Pada akhirnya saya terpaksa harus mengatakan terkait hadiah tersebut kepada orangtua saya melalui Video Call, sebab untuk mengurus penambahan nama di imigrasi tidak bisa diwakilkan.

Masih teringat sangat begitu jelas dalam memori saya bahkan hingga detik ini bagaimana ekspresi beliau saat mendengar bahwa beliau akan berangkat menuju Masjidil Aqso. Ya, meskipun tentu saja tak lepas dari kekhawatiran beliau terkait faktor keamanan sebab keadaan di sana yang belum meredam pada berita-berita yang tersebar. Namun saya tak pernah melunturkan keyakinan pada kuasaNya, bahwa segalanya sudah pasti Allah siapkan secara keseluruhan tanpa kata 'tapi'.

Hari H keberangkatan dengan Mesir sebagai negara tujuan pertama sebab jalan menuju Baitul Maqdis hanya dapat ditempuh melalui jalur darat. Anggap saja itu adalah salah satu cara saya agar kedua orangtua saya dapat melihat negara pertama tempat saya belajar dulu. Saya masih tidak menyangka, sebegitu besarnya kasih sayang Allah pada hambaNya. Yang tadinya hanya saya rencanakan perjalanan ini hanya untuk kedua orangtua saya, justru Allah kasih saya kesempatan untuk ikut juga dimana hal ini saya manfaatkan untuk terus mendokumentasikan setiap pergerakan kedua orangtua saya dalam perjalanan cintanya selama 30 tahun. Detik demi detik, langkah demi langkah, tawa demi tawa seluruhnya saya dokumentasikan dengan rapi melalui segenggap ponsel yang tak hentinya saya bawa. Hingga saya pun hampir lupa untuk mendokumentasikan diri saya sendiri saking bahagianya melihat beliau bahagia.

Usai perjalanan panjang, saat makan siang tiba sebelum perjalan kembali ke Jakarta tiba-tiba ayah saya berujar "Sudah lama tak melihat dia sebahagia itu" sambil memandang ibu saya dengan penuh senyuman bahagia nan cinta. Saat itu juga hati saya seolah terhanyut oleh ketulusan cinta di antara keduanya. Saya tau, bahwa perjalanan ini mungkin memanglah perjalanan yang sederhana di pandangan manusia, atau bahkan terkesan berlebihan sebab sebegitu 'gila' nya saya berdoa memohon kepadaNya bahkan menunda segala macam keinginan saya sendiri untuk membeli atau melakukan perjalanan sebelum itu. Namun dengan melihat wajah bahagia yang tersorot indah dari kedua orangtua saya, seolah saya melihat masa depan yang penuh dengan cahaya terang benderang, seolah segala macam keinginan-keinginan saya sudah tercapai dengan penuh kemudahan, dan tentu saja, tembok tebal yang saya bangun sendiri kali ini sudah benar-benar saya robohkan dan menggantinya dengan jalanan yang kian mulus nan dapat melihat segala arah. Pertanda, bahwa segala hal yang saya batasi pada diri saya sebelumnya seperti jalan-jalan tanpa tujuan belajar dan kerja, fasilitas kelas bisnis, atau bahkan pernikahan sudah dapat saya terima dengan tangan terbuka. Sisanya, tentu saya pasrahkan itu semua padaNya yang Maha Tahu segalanya. Sebab saya yakin, bahwa kasih sayangNya, tiada dua.

Kalau kata Rasulullah SAW kan, jikalau kau ingin melihat Allah tersenyum padamu, maka buatlah ibumu (orangtuamu) tersenyum padamu. Maka yaa Rabb, bahagiakanlah selalu kedua orangtuaku, agar dapat selalu ku lihat Engkau tersenyum padaku. Dengan ini, saya akui bahwa saya sendiri pun tak tau apa tujuan saya melakukan segala macam hal yang saat ini saya lakukan selain untuk membahagiakan kedua orangtua saya. Sebab saya tau bahwa ridho Allah ada pada ridhonya, lalu bagaimana bisa ridho itu dapat dicapai selain dengan kebahagiaannya?

Terdengar klise, namun sebagaimana kata sastrawan bahwa "hanya pecinta yang tau rasanya cinta itu sendiri". Maka mungkin, inilah kisah cintaku yang sangat begitu besar padaMu, dengan orangtua sebagai wasilah untuk menuju itu. Semoga, selalu Engkau ridhoi setiap jalanku.

Terlepas dari kisah saya pribadi, anggap saja bahwa perjalanan saya ini adalah salah satu bukti atas kekuasaanNya Allah yang apabila berkata "Jadilah", maka pasti jadilah ia. Sebab saat bermimpi lima tahunan yang lalu, saya hanyalah sekadar mahasiswi biasa yang sekadar mengantongi beasiswa dan kerja sampingan alakadarnya. Namun jikalau Allah berkehendak, sudah pasti ada saja jalannya :).

Sekian saja. Terimakasih sudah mau menjadi wadah bagi kisah ini.


Mesir-Jordan-Palestina, 20 Agustus - 2 September 2024.

-Brilliant Windy Khairunnisa-

Kamis, 23 Mei 2024

Marathon Kehidupan

Cukup lama sekali rasanya laman blog pribadi saya ini tak terisi oleh coretan-coretan ringan hasil dari kusutnya benang dalam pikiran saya. Maka dengan ini, tulisan ini akan menjadi tumpahan pikiran saya pertama di tahun 2024 yang sekaligus sambil menghitung waktu kepulangan saya ke Indonesia yang semakin mendekat.

Sejauh ini, 2024 menjadi tahun yang cukup unik sekaligus menghadirkan pertanyaan-pertanyaan kecil dalam pikiran saya meskipun kemudian saya menemukan sendiri jawabannya tak lama kemudian. Entahlah, mungkin sebab ini adalah masa akhir saya mengenyam pendidikan di Azerbaijan sehingga seolah Allah memberikan saya pelajaran kehidupan yang begitu banyak hingga terkadang saya berpikir "Yaa Rabb, setidaknya mudahkanlah langkah saya sebagaimana Engkau mudahkan perjalanan RasulMu Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa". Bergumam dengan sekelebat pikiran yang mungkin bisa dibilang cukup berat itu.

5 Mei 2024 telah menjadi pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup saya, ada perasaan tenang, ambisi, hingga kesyukuran tak terkira yang berkecamuk mejadi satu hingga tak dapat dituangkan dalam kata-kata. Hari dimana untuk pertama kalinya saya berhasil mencapai garis finish pada Baku Marathon 2024 yang merupakan ajang marathon pertama dalam hidup saya.

Mungkin bagi sebagian orang, mencapai garis finish marathon merupakan hal yang biasa. Namun mungkin hal ini memiliki kesan tersendiri bagi saya sebab perjalanan untuk memulai berlari pagi setiap hari berawal dari kondisi fisik saya yang tiba-tiba sangat melemah saat itu. Tahun 2024 saya qodarullah walhamdulillah dibuka dengan perjalanan saya menuju Haromain untuk menunaikan ibadah Umroh, sebelum pada akhirnya saya kembali menyelesaikan tugas dan amanah saya sebagai PPLN Baku. Tepat setelah PEMILU dilaksanakan, qodarullah metabolisme tubuh saya mulai menurun yang diawali dengan Radang Tenggorokan hingga suara saya bahkan sempat habis seutuhnya. Namun saya sangat bersyukur, sebab Allah masih memberikan kekuatan untuk menyelesaikan laporan PPLN Baku di KPU Jakarta dengan penuh kelancaran. Ya, meskipun saat perjalanan kembali ke Baku, tubuh saya langsung seolah tak berdaya seutuhnya. Tanpa adanya 'merasa lebih unggul', orang-orang yang sudah mengenali saya pasti tau bahwa pain tolerance saya cukup tinggi, sehingga takkan merasa kesakitan kecuali memang benar-benar sudah 10x lipat rasa sakit manusia pada umumnya. Dan saat itu, untuk pertama kalinya dan semoga benar-benar yang terakhir kalinya saya merasakan kesakitan dalam tubuh saya. Yang pada dasarnya, secara kasat mata poin utama penyakit itu "cuma flu dan batuk doang". Pelajaran pertama bagi saya, bahwa tidak ada penyakit yang "cuma/doang". Sebab hanyalah orang sakit yang dapat merasakan kesakitan itu.

Setelah hampir dua bulan tak kunjung sehat seperti semula, saya terus mencoba untuk memaksakan diri produktif seperti biasanya. Hanya karena satu alasan, sebab saya tak ingin tubuh saya menjadi 'manja' dan melemah sia-sia. Hingga qodarullah tiba-tiba terbesit ingin mencoba ikut event marathon, namun ingin mencoba yang 5K saja dulu sebagai pemula, sekadar ingin segera benar-benar merasakan "sehat yang sesungguhnya" kembali sebab masih ada rasa yang unik di dalam tubuh. Sekadar ingin kembali ke Indonesia usai kelulusan nanti dalam keadaan benar-benar fit, dan sekadar ingin kembali berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat, meskipun masih sedang berproses. Qodarullah, saat saya iseng berkata pada Oca, salah satu Atlet Badminton di Azerbaijan, dia langsung menyampaikan hal itu pada Dicky, sesama Atlet. Yang qodarullahnya lagi, ternyata perkataan saya yang ingin memulai lari saat Summer justru dimajukan olehnya untuk memulai lari pagi langsung keesokan harinya. Dan sejak itu pula, lari pagi mulai kami lakukan setiap harinya hingga saya terbiasa untuk itu meskipun dalam keadaan sendiri sekalipun. Minggu pertama tentu cukup berat bagi saya, nafas saya sudah tersenggal-senggal saat baru saja beberapa detik mulai berlari. Namun uniknya, saya justru memberanikan diri untuk mendaftar Baku Marathon 2024 sebab dapat diikuti secara gratis untuk pelajar. Nothing to lose, pikir saya. Kalau sampai ke garis finish Alhamdulillah, jikalau tidak, ya, setidaknya saya dapat mengukur kemampuan sekaligus dapat termotivasi untuk terus berlari. Dan qodarullah walhamdulillah, saya benar-benar Allah kasih kekuatan untuk mencapai garis finish Baku Marathon tanpa cedera sedikitpun meski hanya berlatih sekitar 2 minggu. Dengan Pace 8/km, kecepatan yang menjadi personal best saya menngingat saat awal berlari Pace saya hanyalah 13/km padahal kalau jalan kaki Pace saya 15/km :D. Teringat pula pesan Ayah saya, bahwa memulai sesuatu kembali meskipun sudah lama berhenti akan jauh lebih mudah dibandingkan memulainya dari nol. Sebab memulai kembali, artinya kita hanya perlu mempertebal bayangan yang sempat terlalui sebelumnya. Dan mungkin itulah salah satu sebab, mengapa latihan 2 minggu itu tetap bisa membawa saya pada garis finish.

Langsung berpikir panjang, Yaa Rabb, saya minta dikuatkan untuk lari 5K agar kesehatan saya lekas pulih. Ternyata Allah seolah bilang "Kenapa kau hanya minta 5K? Ini, Aku kuatkan kau untuk menyelesaikan Baku Marathon". Dan itulah yang sekiranya akar dari kesyukuran tak terkira itu.

Baiklah sekian kisah marathon itu. Jadi sebetulnya benang kusut dalam pikiran saya ini saya tuangkan ke dalam tulisan sebab ada pelajaran yang saya peroleh dari perjalanan tersebut. Yang, semoga, dapat menjadi pelajaran pula bagi para pembaca.

Beberapa waktu sebelum keberangkatan saya ke Azerbaijan, Ayah saya sudah mulai mengingatkan agar saya dapat mencari fasilitas untuk terus Sparing Silat selama di negara ini. Sebab apabila seorang Atlet yang sangat rajin berolahraga tiba-tiba langsung berhenti berolahraga, tubuhnya akan kaget atau bahkan dapat mengalami cedera pada bagian dalam sel-sel tubuh yang cukup serius. Qodarullah fasilitas untuk terus Sparing pencak silat di sini terkendala beberapa hal sehingga saya hanya sekadar melakukan pemanasan ringan setiap harinya. Ya, setidaknya 50x push up perharinya, atau sekadar pemanasan untuk persiapan penampilan seni beladiri pencak silat pada ajang diplomasi budaya Indonesia. Dan mungkin itulah salah satu sebab mengapa pada bulan ke 16 saya di Azerbaijan tersebut tubuh saya merasa sangat kesakitan padahal hanya sekadar "virus biasa". Ibaratnya kendaraan bermotor, apabila sudah digas dengan kecepatan penuh lalu direm tiba-tiba.

Namun dari kejadian itu pula saya juga belajar, bahwa menjaga kesehatan merupakan hal yang paling penting dilakukan dan tanpa alasan ataupun bantahan tentang hal itu. Sebab pada dasarnya, diri sendirilah yang bertanggung jawab atas segala resiko dan penderitaan sakit itu. Di sisi lain, saya juga belajar banyak hal, betapa pentingnya menjaga silaturahim khususnya di tanah rantau. Sebab selama masa saya sakit, para kerabat saya baik dari para anggota P3I Azerbaijan maupun Diapora ikut mengulurkan tangan baiknya agar saya lekas pulih. Membuat saya sadar, bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sendiri. Sebab Allah pasti kirimkan malaikat melalui hati baik makhlukNya agar makhluk lainnya tak bersedih ataupun merasa sendiri. Yang mungkin, pelajaran itu takkan saya dapatkan apabila pengalaman itu tak saya peroleh. Mungkin takkan saya dapatkan apabila Allah tidak mengirimkan saya ke Azerbaijan. Maka saya ucapkan banyak-banyak terimakasih pada Allah atas risalah yang Dia berikan pada para makhlukNya saat saya butuh kala itu.

Dengan ini, semoga para pembaca dapat mengambil pelajaran agar jangan pernah meremehkan kesehatan. Khususnya, untuk para pembaca yang rajin berolahraga atau bahkan seorang atlet, jangan pernah tinggalkan olahraga itu apapun kondisinya. Setidaknya, jangan menancap rem mendadak.

Sekian dulu tulisan pembuka saya di tahun 2024 yang berisi tentang senang, sedih, dan syukur yang menjadi satu ini. Semoga, bermanfaat dan sampai jumpa pada torehan isi kepala saya yang berikutnya.


Hormat saya,

Oyek Jiddan.

Rabu, 22 Maret 2023

Ramadhan yang Baru

Ramadhan di tahun 1444H kali ini sungguh baru, terlebih sebab waktunya yang bersamaan dengan beberapa perayaan pada agama lainnya seperti Hari Nyepi di Indonesia dan Hari Novruz bagi kaum Majusi dimana juga dirayakan dengan begitu meriah di lokasi saya menimba ilmu saat ini, Azerbaijan.

Sebab adanya perayaan Novruz, perkuliahan kami diliburkan hingga satu minggu lamanya. Dimulai dari tanggal 18 hingga 26 Maret 2023, waktu yang cukup panjang apabila hanya berdiam diri di rumah khususnya bagi para perantau. Pada akhirnya kawan sejawat asal Indonesia di Azerbaijan, yang jumlahnya dapat dihitung jari inipun bersepakat untuk mengadakan silaturahim kecil-kecilan selama liburan sembari menikmati kota Baku di samping adanya pekerjaan yang sedang kami pikul. Hingga semalam, kami sepakat untuk mengistirahatkan hari ini dari bermain bersama sebab esok hari merupakan hari pertama Bulan Ramadhan.

Malam pun tiba. Para anggota grup mulai ramai mendiskusikan dimana mereka akan melaksanakan Shalat Tarawih. Ciri khas suatu negara sekuler seperti Azerbaijan. Cukup jarang ditemukan adanya masjid, di kota besar seperti Baku sekalipun. Kalaupun ada, akan ada batas waktunya sebab tidak dibuka selama 24 jam sebagaimana masjid-masjid di Indonesia. Kalaupun tidak ada batasan jam bukanya, jarang ditemukan adanya sholat berjama’ah. Kalaupun ada jama’ahnya, hampir tidak ada perempuannya. Sungguh Ramadhan yang kian baru terasa.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk menunaikan Shalat Tarawih di rumah sebab mendengar kabar beberapa waktu silam, bahwa di negara ini tak ada jama’ah perempuan yang ikut menunaikan Shalat Tarawih di masjid. Namun semuanya semakin terasa kebaruannya saat saya hendak berdiri menunaikan Shalat Tarawih. Tiba-tiba memori masa lalu saya hadir dengan penuh kepekatannya. Setiap kali bulan Ramadhan tiba, saya selalu berdiri menjadi imam shalat tarawih di rumah bersama seluruh keluarga saya sebab kami perempuan semua kecuali ayah saya. Adapun di keluarga kami, menjadi kewajiban bagi seorang laki-laki untuk menunaikan shalat di masjid. Pun demikian, beliau seringkali menjadi imam masjid atau langsung melanjutkan tadarus bersama dengan mikrofon masjid yang suara merdunya terdengar hingga telinga anak-anaknya yang sedang di rumah ini. Ah, membuat saya merindukan suara merdu ayah saya saat melantunkan ayat-ayatNya.

Teringat besarnya suasana Bulan Ramadhan di Indonesia, tak terasa melelehkan air mata saya. Sahut-sahut bilal pada pergantian shalat tarawih, lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan merdunya pada setiap masjid, meriahnya suasana para warga membangunkan sahur, hingga kedermawanan para ahli shodaqoh yang berebut membagikan ta’jil hingga dibutuhkan adanya jadwal bergilir agar sama-sama kebagian pahala, serta suasana-suasana indah lainnya yang seringkali menggetarkan jiwa nan meningkatkan keimanan. Ah, rasanya baru kali ini saya merindukan negara saya sendiri Indonesia dengan suasana Ramadhannya yang penuh akan nuansa islami. Ramadhan, yang penuh dengan kebaruannya.

Namun demikian, saya pun kembali teringat dengan petuah ayah saya kala itu. “Jikalau kau tinggal di negara islam layaknya negara-negara di Timur Tengah, atau di negara dengan masyarakat mayoritas Islam sebagaimana Indonesia dan kau melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangannya, itu wajar, itu sudah biasa. Namun jikalau kau tinggal di negara sekuler dimana sekelilingmu bukanlah orang-orang yang melaksanakan perintahNya tapi kau tetap melaksanakan sebagaimana saat kau di negara islam, itulah pembedanya. Sebab boleh jadi itu yang akan menjadi wasilahmu memasuki jannahNya”. Mengingat perkataan beliau, cukup menenangkan hati saya yang kian lusuh akan suasana. Terlebih, usai mengetahui bahwa suasana Bulan Ramadhan di Inggris jauh lebih meriah dengan dekorasinya yang indah. Ups, namun manusia tak boleh membandingkan dua elemen yang sangat berbeda jauh dari akarnya. Pun demikian, dari sini saya belajar bahwa pada akhirnya meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan kesyukuran kita padaNya tak melulu dapat diperoleh melalui lingkungan yang sangat islami sebagaimana di Timur Tengah. Manusia juga dapat memperoleh itu semua di manapun ia berada, di negara sekuler sekalipun, selagi ia mau meraih semua itu dan mau mengambil pelajaran darinya. Inna fii dzalika la-aayaatil liqomi yatafakkaruun (sesungguhnya dengan demikian terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkannya).

Sekian saja untuk kali ini. Semoga pada Bulan Ramadhan kali ini, Allah tambahkan kami semua kekuatan, keimanan, ketaqwaan, kebaikan, kebahagiaan, kesyukuran, dan segala-galanya yang baik hingga dapat melewati bulan suci ini sebagai manusia yang benar-benar kembali suci dari segala macam dosa. Hingga betul-betul mendapat rohimNya, dan meraih jannahNya dengan penuh kesyukuran dan kenikmatan tak terkira Aamiin.

Sampai jumpa, pada kisah-kisah selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Hormat Saya,

Oyek Jiddan.

Rabu, 19 Oktober 2022

RANTING YANG INI!

Terbiasa jauh dari keluarga, berpindah-pindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lainnya, dan bertemu banyak orang baru yang mayoritas di antaranya hanya sekejap saja, agaknya salah satu cara Allah untuk membentuk pribadi yang lain dalam diri saya. Menjadikan saya menganggap kebaikan kecil adalah suatu hal yang besar, mendekap erat kalimat "selama bisa dilakukan sendiri, mengapa perlu oranglain?", hingga selalu melontarkan kata "terimakasih" yang tak terhingga dalam satu waktu pada orang yang sama pun telah menjadi hal yang biasa. Meski sebagian di antaranya jadi salah sangka. Namun dari sini pula saya belajar, bahwa sebaik apapun manusia, akan ada saja manusia lain yang menghardik perbuatan baiknya. Itulah mengapa segala perbuatan harus dilandaskan dengan Lillah.

Sejak kejadian yang benar-benar diluar nalar saya beberapa waktu silam, yang kisahnya dapat dibaca di sini, perjalanan saya dalam menempuh jenjang sarjana dipenuhi akan analisis-analisis yang saya lakukan hingga benar-benar menemukan hikmah apa saja yang terkandung di balik kejadian tersebut. Terseok-seok berkelana, meneliti sekecil apapun pijakan yang sedang dilalui, seolah tak ingin melewatkan sedetikpun pelajaran yang dapat saya peroleh. Hingga beberapa waktu sebelum yudisium jenjang sarjana, dan telah ditetapkan bahwa saya akan mendapatkan penghargaan kala wisuda nanti, ayah saya berujar "Nak, mulai saat ini, kemanapun kau akan pergi, sejauh apapun itu, inshaAllah saya pasti meridhoimu. Sebab kau membawa kalamNya, dan tentu selama kau terus menjaga kalamNya, niscaya Allah langsung yang akan menjagamu. Hingga tak ada lagi hal yang perlu saya khawatirkan." Sejak saat itu, bukannya bahagia, rasa takut justru ikut menyelimuti diri saya. Takut, apabila hasil akhir tak sesuai dengan apa yang diharapkan orang-orang terkasih. Hingga ibu saya suatu kala berujar, "seburuk apapun manusia menilai, jikalau niatmu adalah Lillahi ta'ala, niscaya Dia langsung yang akan melindungimu". Hingga perasaan itu mulai dipudarkan oleh keyakinan yang semakin kuat bahwa Dia ada bahkan jauh lebih dekat dari urat nadi manusia.

Pertengahan tahun 2022, telah saya dapatkan 13 surat yang menyatakan bahwa saya diterima di kampus-kampus tersebut berikut dengan beasiswanya. Di negara-negara yang berbeda, berbeda pula program studinya, namun tetap dalam satu lingkup dengan studi saya saat jenjang sarjana (Hubungan Internasional). Namun demikian, 8 di antaranya akan memulai perkuliahan pada tahun 2023, sedangkan sisanya hanya memberikan gratis biaya kuliah saja tanpa biaya hidup. Yang tentu, menjadikan saya untuk terus mencari dan mencoba, sebab agaknya akan cukup berat di hati jikalau saya harus membebankan biaya tersebut pada orangtua. Hingga tiba pada saat pertengahan berdiskusi ringan dengan ayah saya, dan beliau berujar "kau tau kisah pencari ranting terbaik? Jangan sampai kau berakhir seperti anak pertama ya!". Kisah ranting, dapat dibaca di sini. Secara tersirat, kalimat ayah saya tersebut agaknya bermaksud bahwa beliau akan memperjuangkan biaya hidup saya di tanah rantau, tak masalah. Sebab saya sangat meyakini bahwa orangtua pasti akan berjuang sekuat tenaga untuk keberhasilan dan kebahagiaan anak-anaknya. Namun tetap saja, tetap berat di dada apabila saya harus membebankan beliau sementara adik saya juga baru saja memulai perkuliahan kedokterannya.

Hingga tiba pada suatu Jum'at di sore hari, yang mana berdasarkan sabda rasulNya, bahwa barangsiapa berdo'a pada saat itu niscaya akan Dia kabulkan. Entah mengapa saat itu seolah saya ingin meluapkan segala keluhan hati yang tak dapat saya lontarkan secara lisan. Seolah tak berdaya, 2023 tinggal 4 bulan lagi, sementara saya belum ada kepastian apa yang akan saya lakukan dalam penantian pergantian tahun ini. Saya memang tengah bekerja partial dan tetap menempuh jenjang diploma saat itu. Namun keduanya saya lakukan secara online, hingga muncul adanya kejenuhan sebab tidak adanya interaksi dengan manusia secara offline. Keesokan harinya, saya mendapatkan email yang berisikan bahwa saya diterima kerja di luar kota secara full-time. Namun keesokan harinya pula saya mendapatkan email yang berisikan bahwa saya sudah masuk 3 besar untuk mendapatkan beasiswa full di suatu negara, meski masih ada satu ronde lagi yang harus dinantikan. Sebab hanya satu orang saja yang pada akhirnya akan menjadi penerima beasiswa tersebut. Pada akhirnya saya mulai memberitahu kedua orangtua saya, mohon bantu istikharah. Meski pada dasarnya, hampir tak pernah saya memberitahu hal-hal yang belum pasti pada beliau khususnya terkait beasiswa. Sebab kali ini diskusi sangat dibutuhkan, akibat kebingungan yang saya alami. Mau menerima pekerjaan yang sudah pasti, atau menunggu hasil akhir beasiswa yang belum tentu diterima dan harus melepaskan pekerjaan tersebut. Jadi yang mana ranting terbaik saya itu?.

Pada akhirnya orangtua saya meyakinkan saya bahwa hal yang terbaik ialah menunggu hasil akhir beasiswa yang diperkirakan 2-3 hari lagi, sambil tetap melakukan shalat istikharah. Maka dengan berucap 'bismillah', saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang belum sempat saya mulai itu dan bersedia menunggu pengumuman hasil beasiswa dengan penuh keyakinan bahwa pasti Allah berikan yang terbaik bagi hambaNya. Dari sini pula saya menyadari satu hal, inilah ranting terbaikku, ayah!.

Usai shalat isya', membuka ponsel saya, ada notifikasi email masuk dengan subject "Congratulations". Yaa Rabb. Seolah ikatan tali yang mengikat kuat pada sekujur tubuh saya tiba-tiba terlepas sedemikian rupa, bersimpuh di hadapanNya, memuja asmaNya dan membawa saya berlari menuju kedua orangtua saya. Biidznihi, saya lolos beasiswa tersebut, dapat memulai perkuliahan tahun ini, menjadi satu-satunya penerima beasiswa dari seluruh negara yang mendaftar tahun ini dan orang pertama dari Indonesia yang menerima beasiswa tersebut, bahkan dapat berangkat bulan itu juga. Lagi-lagi saya belajar, bahwa jikalau Allah sudah berkata 'kun' tak ada yang mustahil. Maha, dari yang paling maha. Jadi inilah ranting terbaik saya.

Sambil menghitung hari keberangkatan, saya menjadwalkan untuk berpamitan pada para dosen-dosen saya selama kuliah jenjang sarjana. Memohon do'a restu, sekaligus ucapan terimakasih atas segala ilmu dan dedikasi yang telah beliau berikan. Sebab saya yakin, bahwa tak ada namanya 'mantan guru'. Karena sampai matipun, ilmu dari sang guru akan tetap dan terus dibawa oleh para muridnya. Setidaknya, memberikan dampak pada langkah yang ia lalui di sisa hidupnya. Ucapan terimakasih dan berpamitan juga saya lakukan pada kawan-kawan saya, meski sekadar online sebab jarak dan waktu yang memisahkan. Namun setidaknya, untaian do'a selalu tercurahkan pada mereka yang telah menjadi bagian dari kisah hidup saya selama ini.

Keberangkatan. Telah tiba, walhamdulillah. Saat langkah kaki tengah berjalan keluar dari bandara, semilir angin berhembus lembut, mencairkan batu-batu es yang ada dalam dada, seketika berucap dengan penuh kesyukuran 'jikalau memang ini  ranting terbaikku, maka mudahkanlah, berkahilah, rahmatilah, perjalanan saya dalam menuntut ilmu di sini Yaa Rabb'. Dari sini saya kembali belajar, bahwa jikalau kau tak menduga akan mendapatkan hal baik yang sedang kau alami saat itu. Sebenarnya saat itulah, do'a ibumu Allah kabulkan, dan petuah ayahmu telah kau jalankan. Irhamhuma Yaa Rabb.


Pada akhirnya hidup ini terkadang seperti akhir kisah dalam buku karya Nizami Ganjavi. Tak segala hal yang manusia inginkan harus dicapai, sebab Allah Maha Tau apa yang terbaik bagi hambaNya. Dengan demikian, muncullah kesyukuran mendalam, hingga Dia tambahkan nikmat kembali, sampai Dia berkata "udkhuluha bisalamin aaminin". Masuklah surga dengan penuh keselamatan. Pun demikian, jikalau orangtuanya terpandang baik, belum tentu anaknya juga terbaca baik. Namun jikalau anaknya baik, sudah pasti orangtuanya terbaca baik. Maka demikian, semoga Allah selalu jaga kedua orangtua saya yang do'a-do'anya terus mengalir deras untuk anak-anaknya tak kenal batas.

Sukses selalu untuk para pembaca dimanapun dan apapun yang sedang digeluti saat ini. Do'akan saya yang baik-baik.

Sekian saja untuk kali ini, lain kali kita bercerita kembali. Salam hangat, dari Negara Api, Azerbaijan.


Hormat Saya,

Oyek Jiddan.


Rabu, 05 Oktober 2022

Ranting Yang Mana?

Berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, kali ini saya menulis di dalam bandara saat tengah transit. Sepenggal kisah, yang akan menjadi referensi utama untuk tulisan saya berikutnya.

Usai menjalani prosesi wisuda jenjang sarjana, semangat saya untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi jauh lebih membara. Segala proses terbaik saya lakukan dengan sedemikian rupa. Satu-persatu hasilnya pun kian berdatangan menyambut alamat surel saya. Di antaranya kalimat berawalan "congratulations", di antaranya pula tentu saja "we are regret". Namanya hidup, segala proses harus dijalani, harus dinikmati, hingga dapat benar-benar disyukuri.

Saya termasuk orang yang enggan memberitahu orangtua jikalau saya gagal. Setidaknya, janganlah beliau tau proses saya. Alasannya hanya satu, agar beliau tak ikut cemas lagi kepikiran nan sedih. Hingga saat saya mendapatkan surel berawalkan "congratulations" untuk yang ke sembilan kalinya dalam perjalanan menuju jenjang master, ayah saya tiba-tiba berkisah tentang pencarian ranting pohon yang dilakukan oleh beberapa anak. Kurang lebih, demikianlah kisahnya.

Suatu kala, terdapat tiga anak yang diminta oleh pendidiknya untuk menyusuri hutan dengan tujuan utama untuk membawa ranting terbaik saat telah keluar dari hutan tersebut. Dengan satu syarat utama, tak boleh menengok ke belakang apalagi memundurkan langkahnya. Mereka pun melaksanakan perintah pendidiknya tersebut dengan pola pikir yang berbeda-beda. Anak pertama menyusuri hutan dan mencari ranting dengan penuh kesungguhan, dengan pola pikir utama bahwa akan selalu ada yang terbaik dari yang paling baik. Hingga setiap kali ia menemukan ranting yang baik baginya, ia terus bersikeras dan meyakini bahwa "pasti akan ada ranting yang jauh lebih baik setelah ini". Tanpa sadar, bahwa ia tak tau kapan hutan ini akan berujung yang menjadikannya keluar dari hutan tanpa membawa apapun. Meski pada hakikatnya, ia telah menjumpai banyak sekali ranting-ranting yang baik.

Anak kedua mulai memasuki hutan dengan pola pikir utama "apa yang ku dapatkan pertama kali, itulah yang terbaik". Hingga ia keluar dari hutan dengan membawa ranting pertama yang ia temukan meskipun setelah ranting pertama itu, ia temukan begitu banyak ranting-ranting lainnya. Adapun anak ketiga, ia memasuki hutan dengan pola pikir utama "setiap jalanan terdapat ranting yang sama baiknya. Namun pasti akan ada ranting terbaik yang apabila ku temui sekali, takkan ada ranting lain dengan kualitas yang sama lagi". Hingga pada akhirnya, ia keluar dari hutan dengan membawa ranting terbaik yang ia temui di tengah perjalanan tanpa ada keraguan.

Ketiga anak telah berhasil menyusuri hutan sebagaimana perintah sang pendidik. Tiba saatnya mereka harus menghadap pendidiknya sebagai laporan atas apa yang telah mereka laksanakan. Sang pendidik pun mengajukan pertanyaan yang sama pada masing-masing anak terkait ranting seperti apa yang mereka bawa, dan mengapa mereka mengambil ranting tersebut. Ketiganya pun menjawab sebagaimana adanya hingga mereka bertanya, ada makna apa nian hingga sang pendidik meminta anak-anak tersebut berlaku demikian.

Pada akhirnya, sang pendidik tersenyum lebar. Dan berujar menjelaskan, bahwa apa yang telah mereka lalui merupakan ilustrasi kehidupan yang agaknya tak bisa dihindari. Setiap manusia sudah pasti memiliki tujuan atau target-target dalam hidupnya yang disimbolkan sebagai ranting. Proses untuk meraih tujuan tersebut disimbolkan oleh hutan dengan kelokan jalanan dan rindangan pohon yang acapkali membingungkan. Adapun dalam hidup, manusia tentu memiliki batasan usia yang ia sendiri takkan pernah tau kapan masa itu hadir. Hal itu tak lain disimbolkan oleh adanya jalan keluar hutan.

Acapkali manusia terus mengejar, terus mencari yang paling baik meskipun telah ia temukan hal terbaik itu dalam perjalanan hidupnya. Terus mencari, meninggalkan yang sudah pasti, hingga tanpa disadari waktunya telah habis dan harus berakhir dengan tak membawa apa-apa, lagi tak mendapatkan apapun. Maka apabila telah kalian temukan yang terbaik, jangan lepaskan ia sebab ia takkan pernah datang untuk yang kedua kalinya. Namun apabila timbul adanya keraguan, maka disitulah Tuhanmu memberikan isyarat untuk mendiskusikannya secara privat melalui shalat istikharah. 

Usai berkisah, ayah saya berujar singkat "nak, jangan sampai kau menjadi anak pertama yang memasuki hutan sebagaimana kisah ini". Membuat saya sempat berpikir panjang kala itu, ranting mana yang harus saya ambil?. Namun demikian, agaknya kisah tersebut dapat berlaku bagi segala macam aspek kehidupan yang terjadi pada manusia. Baik kesempatan, beasiswa, pekerjaan, atau mungkin jodoh(?).

Ya sudahlah, sekian saja untuk kali ini. Boleh jadi saya sambung di lain waktu.


Hormat saya,

Oyek Jiddan.