“Masih 35 tahun lagi nak kalau dari Indonesia. Nanti kalau bisa
haji dari sana, berangkat aja ya. InshaAllah pasti Allah kasih jalan”.
Begitulah kira-kira pesan ayah saya tepat saat pengumuman beasiswa ke
Azerbaijan saya terima pada 13 September 2022 lalu.
Saya selalu berusaha tidak mengutarakan segala macam mimpi atau
tujuan jangka panjang kepada orang lain sebelum tujuan itu benar-benar
mendapatkan titik terang, termasuk pada keluarga saya sendiri. Namun demikian,
sebab saya tidak terlahir dari keluarga yang memiliki kekuasaan atau jaringan
yang luas, seringkali saya mengumpulkan puzzle-puzzle informasi dari orang lain
yang kemudian dapat saya gabungkan dan menjadi kesimpulan informasi yang valid.
Meski pada akhirnya, seringkali Allah seolah meminta saya untuk berusaha
sendiri untuk mendapatkan informasi langsung dari sumber utamanya. Salah
satunya, terkait keberangkatan haji dari Azerbaijan sebagai mahasiswa Indonesia
di Baku.
Sejak awal kedatangan saya di Azerbaijan, beberapa kali saya
menggali informasi terkait pemberangkatan haji dari negara ini kepada beberapa
pihak khususnya yang sudah lama tinggal di Baku. Sayangnya, belum pernah ada
WNI yang berangkat haji dari Azerbaijan kecuali hanya satu kali itupun beliau
dari pihak KBRI dan keberangkatannya merupakan hasil kerjasama dengan Kemlu dan
belum pernah terjadi lagi. Pun, jikalau ada lagi, tentu mahasiswa seperti saya
agaknya tidak mungkin mendapatkan kesempatan tersebut. Sumber informasi yang
saya peroleh terkait hal ini pun menceritakan pada saya betapa sulitnya proses
keberangkatan mereka kala itu. Baiklah, saya terima. Pikir saya saat itu,
mungkin bukan dari Azerbaijan jawabannya untuk menunaikan rukun islam yang
terakhir itu. Namun demikian, ya, seperti biasa. Saya tidak pernah mengubur
mimpi, saya biasa hanya menyimpannya dan terus bermunajat agar diberikan yang
terbaik.
30 Desember 2023, qodarullah saya diberikan kesempatan untuk
menunaikan ibadah umroh untuk pertama kalinya dalam hidup. Keberangkatan saya kala
itupun tanpa direncanakan. Saya ingat betul, tadinya saya hanya merencanakan
untuk merefresh pikiran sebelum ujian akhir semester namun qodarullah
saat terbangun dari tidur tiba-tiba saya terpikir untuk mencari tahu visa
transit ke Saudi. Dan saat saya coba, hanya 2 menit visa saya langsung keluar. Alhamdulillah.
Dan qodarullahnya lagi, keberangkatan umroh yang tadinya hanya saya
rencananya pergi sendirian, justru diikuti oleh 3 kawan saya yang lain hingga
kami berangkat berempat dengan masa umroh total 4 hari sebab visa transit dari
FlyNas hanya berlaku selama 96 jam. Saat itu, salah satu doa saya adalah ingin
menunaikan ibadah haji atau setidaknya umroh pada bulan Ramadhan sebab
pahalanya sama dengan orang yang berhaji. Doa itu pada akhirnya saya upayakan
betul-betul pada bulan Ramadhan. Saya mengajak beberapa kawan saya yang lain
untuk menunaikan ibadah umroh pada akhir Ramadhan hingga kami dapat menaikan
ibadah Shalat Idul Fitri di masjidil Haram. 2 kawan saya tersebut belum pernah
melaksanakan umrah dan belum pernah manasik sebelumnya, sehingga saya ikut
membantu mereka untuk persiapan keberangkatan baik dari segi ibadah maupun dari
segi dokumen. Beberapa kali pun saya bermalam di rumahnya untuk menyelesaikan
dokumen-dokumen keberangkatan, khususnya dalam pencarian hotel dan tiket
pesawat dengan harga miring sebab pada bulan tersebut semua harga mulai naik.
Visa kami bertiga pun belum juga bisa diurus sebab masih menunggu salah satu
diantara kami mendapatkan izin kerja hingga H-7 idul fitri. Di antara gelapnya
malam, saya coba lagi untuk mengajukan visa namun kali ini saya dahulukan untuk
mengurus visa kedua kawan saya terlebih dahulu. Berhasil, Alhamdulillah. Visa
mereka berdua sudah terbit dan langsung saya kirimkan pada mereka untuk berbagi
kebahagiaan. Namun qodarullah, justru visa saya tidak bisa keluar, yang entah
dimana letak permasalahannya. Bahkan saya sudah mencoba untuk melakukan
pembelian tiket pesawat lagi dan telah mencoba mengurus visa dari kementerian
Saudi langsung namun tetap saja visa saya tidak bisa diterbitkan dan biaya yang
sudah saya keluarkan tidak bisa dikembalikan. “Kalian tetap berangkat aja
ya, kalau qodarullah saya berangkat ya pasti akan nyusul. Kalau ga, ya sudahlah.
Jangan sampai hanya karna saya tidak berangkat, kalian batal berangkat juga”,
pesan akhir saya untuk meyakinkan kedua kawan saya yang hampir membatalkan
keberangkatan mereka sebab khawatir tidak ada pemandu selama ibadah
nanti. Dan, mereka pun pada akhirnya yakin untuk tetap berangkat tanpa saya.
H+1 hari raya Idul Fitri. Tak henti-hentinya kepala saya bising
akan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di jiwa, rahasia apa Allah tidak
memberangkatkan saya umroh pada bulan Ramadhan ya? Apakah saya pernah menyakiti
hati orang lain? Ataukan ada dosa besar yang menghalangi terkabulnya doa? Masa
sih Allah tidak mengabulkan doa saya saat umroh kemarin? Hingga saat
terbangun dari tidur hari itu, saya tiba-tiba teringat akan doa yang saya
panjatkan kala umroh pada tahun baru bahwa saya tidak hanya memanjatkan “umroh
pada bulan Ramadhan yaa Rabb”, melainkan ada tujuan utama di balik doa saya
tersebut “sebab pahalanya setara dengan menunaikan ibadah haji”. Eh,
apakah jangan-jangan ini adalah salah satu tanda bahwa Allah meminta saya untuk
daftar haji dari Azerbaijan ya? Detik itu juga saya mencari-cari di internet
terkait keberangkatan haji dari Azerbaijan. Dimulai dari biayanya, siapa yang
memberangkatkan, rombongannya, persyaratannya, hingga travel yang mengakomodasi
keberangkatan jamaahnya. Saya bahkan melakukan sholat istikharah untuk mencari
agen keberangkatan haji tersebut sebab dikhawatirkan adanya penipuan meskipun
saya tahu bahwa Azerbaijan adalah negara dengan tingkat kriminalitas yang
sangat rendah.
Dapat. Saya mulai menghubungi beberapa travel keberangkatan haji di
Azerbaijan untuk menanyakan apakah bisa mahasiswa asing bergabung dalam
rombongan mereka dengan Bahasa Azeri. Kebiasaan orang Azeri yang menggunakan voice
note pun pada akhirnya membuat saya meminta bantuan pada kawan Azeri saya
sebagai translator. Hal ini saya lakukan juga untuk mengurangi kemungkinan
adanya penipuan sebab biaya yang harus dikeluarkan nanti tentu tidak sedikit di
samping adanya dokumen-dokumen pribadi yang harus dibagikan. Tidak bisa.
Pendaftaran haji dari Azerbaijan sudah ditutup. Pada akhirnya saya mengurus
perpanjangan paspor di KBRI sebab masa aktif paspor saya akan habis sekitar 8
bulanan lagi. Ya, hitung-hitung sebagai salah satu upaya siapa tahu Allah kasih
jalan tiba-tiba berangkat haji. Pikir saya kala itu.
Masih ada 1 travel lagi yang belum merespon pesan saya. Pada
akhirnya, sebagai alasan keamanan pula, saya meminta tolong pada bagian
protokoler KBRI yang merupakan orang Azeri untuk membantu bicara melalui
telepon pada agen travel tersebut agar jawaban dapat saya peroleh lebih cepat.
Sebab travel sebelum-sebelumnya berkata bahwa pendaftaran sudah ditutup. Masih
bisa. Namun saya harus membawa orang Azeri saat mengumpulkan dokumen sebab
terkendala bahasa dan alasan keamanan (lagi). “Tapi kalau mau, saya ada
kontaknya pengurus haji. Kamu bisa bahasa Arab kan?”, sahut beliau. Saya
pun mengiyakan.
Saat itu juga saya langsung menghubungi kontak tersebut dengan
Bahasa Arab, sebab beliau kurang mahir berbahasa Inggris dan saya kurang pandai
berbahasa Azeri. Langsung direspon. Beliau langsung meminta saya untuk
mengirimkan dokumen berupa paspor dan TRP (Surat Izin Tinggal), namun tidak
lagi direspon. Keesokan harinya, saya mencoba mencari alamat kantor beliau dan
langsung saya kunjungi dengan membawa kedua dokumen tadi. Maklum, saya hanya
ingin agar kekhawatiran saya lekas hilang sebab pendaftaran haji melalui
travel-travel sudah ditutup. Beliau pun menyambut saya dengan hangat dan penuh
hormat sambil langsung mengangkat genggam teleponnya untuk menghubungi
seseorang, dan bertanya “Kamu sunni atau syi’ah” lalu saya jawab “Sunni”.
Hal ini memang sangat mereka butuhkan untuk pengelompokan jamaah haji agar
sesuai dengan mutowwifnya pula.
Seseorang yang ditelponnya pun datang dan ikut menyambut saya
dengan Bahasa Arab, yang ternyata beliau adalah ketua majlis ulama di Azerbaijan
yang mengurus keberangkatan seluruh jamaah haji dan umroh dari negara ini.
Sambil memasukkan data diri saya di komputernya, beliau mengajak saya
berbincang hangat dan menyampaikan kesan baiknya ‘Kok bisa-bisanya pelajar
Indonesia di negeri orang, sendirian, perempuan pula berani-beraninya haji dari
Azerbaijan sedangkan dia cuma bermodalkan Bahasa Arab dan Inggris. Pun, hanya
sedikit orang Azeri yang bisa berbahasa Inggris’. Sayapun hanya tersenyum
sambil berkata “qodarullah”, dan disambut pula dengan tawa. Usai
memasukkan data diri dan melakukan pembayaran secara cash, saat saya hendak
berjalan keluar ruangan tiba-tiba beliau memanggil saya kembali, “Brilliant,
ini ada sisa kelas bisnis. Kau kan mahasiswa, mau mengisinya kah?”. Saya
hanya terdiam sambil dalam hati berpikir ‘ah, ingin sekali. Kapan lagi bisa
upgrade business class gratis saat haji pula. Tapi orangtua saya belum pernah,
saya tak ingin mendahulukan beliau’. “Kalau berubah pikiran langsung kabari
saya saja ya, saya tunggu hingga hari H keberangkatan”, sambungnya.
Kemudian beliau juga menyampaikan bahwa saya akan dihubungi kembali maksimal 7
hari lagi saat saya bertanya bagaimana proses selanjutnya.
Saat itu, kondisi saya masih bingung apakah semua orang yang
daftar haji di Azerbaijan pasti akan berangkat? Apakah ada kemungkinan saya
tidak dapat visanya sebab saya mahasiswa asing? Dan segala macam pertanyaan
lainnya yang hanya dapat saya simpan sendiri sebab saya pun tak tahu harus bertanya
pada siapa. Namun saat itu, saya hanya memiliki keyakinan yang kuat bahwa tidak
mungkin Allah membiarkan saya membayar sekian banyak uang tapi visa haji tidak
keluar setelah segala macam proses yang terjadi. Pun, pendaftaran haji yang
pada awalnya ditutup ternyata setelah berambisi gila untuk langsung menghadiri
kantor pusat nyatanya Alhamdulillah masih bisa terdaftar dengan penuh
kemudahan. Ups, hampir lupa saya sampaikan. Itu adalah kali pertama saya
bertemu dengan orang Azeri yang fasih berbahasa Arab dan sangat begitu baik
dengan ketulusannya dan seketika itu juga pandangan saya terhadap orang Azeri
berubah. Ya, di samping adanya kenyataan bahwa saya selalu merasa seperti bersama
keluarga sendiri setiap kali bertemu penutur Bahasa Arab.
Di tengah sedang Video Call dengan orangtua saya, tiba-tiba
pesan baru masuk dari ketua MU tersebut. Visa haji saya keluar, Alhamdulillah.
Di waktu yang tepat dengan kebersamaan bersama orangtua, kami bersujud syukur
atas kuasaNya Allah yang sedemikian dasyatnya. Beberapa menit kemudian saya
mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal yang ternyata adanya mutowwif
saya. Saya pun diminta untuk menemuinya di salah satu masjid terbesar di Baku.
Itu adalah kali pertama manasik haji dilakukan dan tentu saja dengan bahasa
Azeri. Usai memberikan materi dan 90% jamaah sudah meninggalkan masjid, saya
menghampiri mutowwif tersebut dan bertanya dengan Bahasa Azeri “Apakah kau
bisa berbahasa Inggris atau Arab?”. Beliau pun ternyata menjawab tidak.
Beruntungnya, salah satu jamaah bisa berbahasa Inggris dan bersedia untuk
menjadi translator kami berdua. Pada akhirnya mutowwif tersebut menyampaikan
bahwa saya akan dialihkan pada jamaah kawannya di masjid lain yang bisa
berbahasa Arab agar pelaksanaan ibadah haji saya dapat jauh lebih mudah. Kawannya
pun langsung menghubungi saya beberapa waktu kemudian dan meminta saya untuk
menemuinya di masjid tempat ia menjadi imam beberapa hari kemudian. Ups, dan
sebab hal ini juga pada akhirnya saya melakukan manasik haji sendiri dengan
kedua orangtua saya melalui Video Call setiap hari hingga hari keberangkatan.
Sebab lainnya, ialah sebab masyarakat di sini termasuk mutowwifnya bermadzhab
Hanafi dan keluarga saya bermadzhab Syafi’i, pada akhirnya manasik ini saya
butuhkan untuk menghindari kesalahpahaman saat adanya perbedaan. Sebab salah
satu kunci utama haji mabrur, berawal dari manasik yang sempurna. Allahummaj’al
hajjana hajjan mabruron.
Singkat cerita, sebab pergantian mutowwif tersebut pada akhirnya
keberangkatan saya diubah H+1 dari jadwal sebelumnya. Bandara Heydar Aliyev
saat itu penuh dengan para jamaah haji yang, entahlah, mungkin memang pada
waktu tersebut penerbangan sudah dikhususkan bagi para jamaah haji. Saat
melakukan check in, saya bertemu kembali dengan pengurus administrasi yang saya
temui di kantor saat itu, yang kemudian beliau mengenalkan saya pada beberapa
kerabatnya dari kalangan business class yang sepertinya juga para pejabat “Ini
dia mahasiswi Indonesia tapi haji dari Azerbaijan” lalu saya sambut dengan
senyuman.
Mungkin juga sebab faktor jamaah yang jumlahnya sedikit dan tidak
sebanyak di Indonesia sehingga akomodirnya jauh lebih mudah, setibanya di
Bandara Jeddah kami langsung disambut dengan para petugas negara. Dilarang
membawa barang bawaan sendiri, diberikan buku agama berbahasa Arab-Azeri-Turkish,
disambut dengan kenikmatan kopi yang diberikan secara gratis, makanan ringan,
air zam-zam, hingga transportasi bus yang sangat nyaman. Petugas dari Saudi pun
langsung membagikan ID Card Nusuk pada kami sebagai pengganti paspor sebab
paspor kami dikumpulkan di pusat, di samping mutowwif yang membagikan kamar
kami selama di Makkah sambil berteriak “Jangan macam-macam, ini adikku dari
Indonesia dia pandai berbahasa Arab dan Inggris” sambil menunjuk saya. (Baiklah,
kisah spiritual dengan mutowwif ini akan saya bagikan di kisah selanjutnya).
Pun setibanya di hotel, kami kembali disambut dengan makanan ringan, dan ID
card berwarna merah beserta gelang haji khas bagi jamaah dari kawasan Caucasus.
Malam itu juga kami langsung melakukan Towaf Qudum bersama-sama dan
serangkaian ibadah lainnya. Sang mutowwif pun juga menyampaikan beberapa hal
terkait kegiatan kami selama di Makkah sebelum puncak haji berlangsung,
kemudian dilanjutkan dengan segala macam hal yang perlu kami ketahui terkait
akomodasi dan transportasi dari dan menuju hotel. Poin utamanya, sebab haji
merupakan hasil kerjasama antar negara, sehingga segala macam hal termasuk
makanan di hotel sudah disesuaikan dengan budaya negara kami berasal. Yang
demikian, makanan saya sehari-hari selama di sana termasuk snack yang
disediakan merupakan makanan khas Azerbaijan dan saya termasuk orang yang tak
pernah mempermasalahkan terkait hal itu.
Puncak haji. Seluruh jamaah bersama-sama menuju Mina-Arofah-Muzdalifah-Mina
yang di seluruh tempat tersebut Alhamdulillahnya kami difasilitasi dengan tenda
yang sangat nyaman, kasur yang empuk, ruangan yang luas dan dingin, dan yang
paling penting bagi saya serta paling saya syukuri ialah tenda kami selalu
dipisah antara jamaah laki-laki dan perempuan. Dimana hal tersebut tidak
didapatkan apabila berangkat dari Indonesia. Pun saat di Muzdalifah, seluruh
jamaan haji dari Azerbaijan sudah disediakan tempat khusus dengan karpet yang
tebal sehingga seluruh jamaah merasa nyaman. Yang mana dengan demikian, secara
fasilitas akomodasi dan transportasi, saya sangat bersyukur Allah berikan
kesempatan berangkat dari negara ini. Pun secara hablu minannas, seluruh jamaah
haji di rombongan khususnya mutowwifnya seolah merasa sangat bertanggung jawab
atas keamanan dan kenyamanan saya, dimana hal tersebut selalu mereka tanyakan
tanpa henti. Ya, mungkin sebab saya merupakan jamaah paling muda, sendirian
pula saat itu.
Email dari kampus masuk. Jadwal sidang thesis terbuka saya sudah
keluar dan seluruh dokumen sudah harus diserahkan pada dekan saat itu juga.
Pada akhirnya saya meminta keringanan dan meminta Hanhae (kawan belajar saya)
untuk membantu mencetak thesis dan beberapa dokumen lainnya serta menyerahkan
pada dekan. Ah, kalau-kalau dia tahu bahasa Indonesia. Dear Hanhae, terimakasih
banyak!. Anyway, sidang thesis terbuka saya dijadwalkan tepat satu
minggu sebelum jadwal tiket kepulangan saya ke Baku. Qodarullah kedua
jadwal tersebut tidak bisa diganti meskipun saya sudah menghubungi beberapa
pihak. Di sisi lain, ketua MU dan mutowwif saya pun beberapa kali meyakinkan
saya untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga ke kembali ke Baku dari Madinah
yang tentu saja membuat saya sangat dengan berat hati meninggalkan kota suci
tersebut lebih cepat. Orangtua saya pun mengingatkan sebab telah
dilaksanakannya seluruh rangkaian haji dengan sempurna dan jadwal sidang thesis
terbuka yang terjadi tepat setelah itu semua saja, itu sudahlah merupakan nikmat
Allah yang sangat begitu besar. Benar saja, tidak terbayang bagaimana jikalau
sidang thesis terbuka saya dijadwalkan sebelum rangkaian haji selesai, Yassalam.
Malam itu juga pada akhirnya saya menyampaikan keputusan akhir saya
pada ketua MU dan mutowwif bahwa saya harus kembali ke Baku terlebih dahulu
sebab akan adanya ujian. Beliau pun kemudian memberikan kembali paspor saya
serta kurma muda sebagai buah tangan, dan menyampaikan pada seluruh jamaah atas
kepulangan saya tersebut. Pun pada akhirnya, malam itu juga sang mutowwif dan
seluruh jamaah haji ikut mengantarkan saya menuju taxi di depan hotel. Seolah
tak ingin membiarkan saya sendiri, Qodarullah, terdapat dua jamaah
lainnya yang juga harus kembali ke Baku terlebih dahulu dan satu pesawat dengan
saya sehingga kami bertiga dapat bersama-sama kembali ke Baku yang qodarullah
pula beliau dapat berbahasa Inggris. Pun selama menunggu pesawat di bandara
Jeddah kami sempat berbincang-bincang sambil menikmati hidangan makan malam yang
beliau berikan pada saya.
Udara kota Baku kembali terhirup melalui hidung saya. Pertanda, perjuangan
kembali dimulai. Bagaimana tidak, keesokan harinya ialah hari dimana saya
harus menghadapi sidang thesis terbuka. Yang, Alhamdulillah berjalan
dengan sangat lancar bahkan di luar ekspektasi saya.
Kisah perjalanan ini tidak lain merupakan pengalaman pribadi saya
yang boleh jadi berbeda dengan pengalaman-pengalaman orang lain meskipun dengan
kesempatan yang sama. Pun ia dituliskan semoga tanpa menimbulkan segala macam
perasaan yang dimurkai Allah hingga murni dapat tersampaikan dengan baik dan
dapat diambil pelajaran darinya. Semoga sang pembaca juga lekas Allah berikan
kesempatan untuk menunaikan rukun islam yang terakhir dengan caraNya dan dalam
keadaan terbaik hingga berakhir dengan kata “Mabrur”. Sekian.
Hajj 1445H/2024
-Brilliant Windy Khairunnisa-