“InshaAllah ini akan menjadi jariyahmu nak, sebab berhasil membawa adikmu mengikuti jejakmu untuk dapat ke luar negeri secara gratis melalui tulisan”, ujarnya dengan haru. Seolah masih hangat diingatan, bagaimana wajahnya terpaku masih tak percaya bahwa anaknya yang masih terasa kecil itu akan berangkat ke luar negeri pertama kali karena ilmu bersama kakaknya.
Kisah ini berawal dari ambisi seorang kakak untuk dapat
menjadikan adik-adiknya menjadi orang-orang yang jauh lebih baik darinya, ya
meskipun masih dalam proses dan iapun masih jauh dari kata baik. Ups, namun
di keluarga besar saya, ke luar negeri karena ilmu masih menjadi hal yang
sangat “sesuatu” di benak orangtua kami sebab jikalau ilmu itu tak penting, tak
mungkin Allah sampai mengutarakannya melalui Al-Qur’an bahwa Dia akan
mengangkat orang yang bertakwa dan berilmu beberapa derajat. Bukan satu
derajat, tak hanya dua derajat, namun ‘beberapa’ derajat seolah memberikan
penekanan atasnya. Pun diucapkan setelah adanya ‘ketakwaan’, sebab ilmu tanpa
takwa akan menjadi manusia yang angkuh sedangkan orang yang bertakwa sudah
pasti berilmu. Setidaknya, ia pasti ‘berilmu’ bagaimana menjadi hambaNya yang baik hingga
mencapai kata ‘takwa’ itu sendiri.
Jauh setelah komitmen untuk mengumpulkan 100% uang
pemasukan saya pada salah satu pekerjaan untuk memberangkatkan orangtua ke MasjidilAqso, saya tiba-tiba berangan ingin membawa adik-adik saya ke luar negeri tapi
dengan keterlibatan mereka pula melalui ilmu. Ya, setidaknya negara yang paling
dekat dulu saja dengan Indonesia, setidaknya menjadi pintu pembuka mereka untuk
melihat dunia dan manusia-manusia lain di luar sana yang mungkin akan sulit
mereka dapatkan di Indonesia. Meskipun hanya satu atau dua hari, yang penting
ada pelajaran yang dapat mereka raih. Kemudian beberapa masa setelah itu, adik
pertama saya berujar pada saya bahwa ia memiliki target untuk telah menginjakkan
kaki ke luar negeri sebelum usianya yang ke 20 tahun. Pun di keluarga kami
sudah mudah dipahami, bahwa ucapan “ke luar negeri” artinya bukan untuk sekadar
traveling tanpa tujuan sebab hanya ada dua pilihan sejauh ini: ke luar negeri
untuk belajar atau pekerjaan.
Ucapannya itu membuat saya ikut tergugah, hingga saya
berujar padanya “Kalau kau ingin ke luar negeri dalam waktu dekat, cara tercepat
adalah melalui tulisan”. Kemudian dia bertanya pada saya bagaimana cara
memulai suatu tulisan yang ilmiah dan bagaimana cara menyelesaikannya. Saat itu
saya memulainya dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan
bidang studi yang ia sukai: kedokteran gigi, dengan masing-masing pertanyaan
harus ia jawab dengan minimal 500 kata. Pada akhirnya, tanpa disadari
sebetulnya ia telah berhasil menulis satu artikel penuh. Sebab mengerti bahwa
ia cukup takut untuk memulai, secara diam-diam saya mengajukan karya tulisnya
yang sudah saya bantu proofread dan edit tersebut pada forum
internasional terdekat di luar negeri yang juga menyediakan fully funded
bagi para peserta yang tulisannya lolos seleksi. Alhamdulillah, lolos.
Bahkan tak hanya satu orang yang berangkat, melainkan kami berdua sama-sama
diundang untuk menghadiri acara tersebut dengan dibiayai penuh. Dan kala itu,
adik saya belum tau apa-apa sebab saya buatkan email baru untuknya pun
ia berada di kota rantau yang jauh dari keluarga.
Malam itu juga saya langsung menemui ibu saya dan
menyatakan bahwa saya diundang untuk menghadiri forum internasional di
Singapura secara gratis. “Tau ga dengan siapa?”, tanya saya pada ibu saya. “Siapa?”,
tanyanya sembari menegakkan posisi duduknya pertanda antusias ingin tau.
Matanya seketika berkaca-kaca saat tau bahwa adik pertama saya juga diundang
dalam acara tersebut sembari mendekap tubuh saya dan tak henti mendoakan
kebaikan. Kami pun menanti kedatangan ayah yang tengah masih di masjid saat itu
untuk membagikan kabar gembira. Adik pertama saya yang sebetulnya terlibat
dalam acara ini justru sengaja belum kami kabari, “Nanti saja saat ia sudah
tiba di rumah untuk liburan agar menjadi kejutan baginya” sepakat kami. Qodarullah,
tanggal liburan adik saya tersebut juga dapat disesuaikan dengan acara
keberangkatan kami di Singapura sehingga dapat mempermudah semuanya.
Sudah datang. Bahagia namun berpikir “Aku akan bagaimana di sana nanti?”, tanya adik saya. “Bismillah, kita bersama”,
ujar saya menenangkan. Berangkat. Saat di bandara, saya berikan sedikit tugas
ringan padanya untuk menuliskan setidaknya 10 pelajaran yang ia dapatkan selama
di Singapura dalam berbagai segi termasuk kehidupan, budaya, atau pemikiran
serta harus ia serahkan pada saya saat kami sudah tiba kembali di Indonesia
nanti. Ia setuju. Entahlah, mungkin sebab ambisi awal saya ingin membantu adik
saya pergi ke luar negeri pertama kali melalui ilmu sehingga saya pun tak ingin
pengalaman pertamanya ini hanya berakhir sebagai cerita tanpa ada ‘isi’ di
dalamnya.
Acaranya berjalan dengan sukses, Alhamdulillah. “Wah
kak, kalau begini ceritanya mah aku yakin bisa berikan lebih dari 10 pelajaran
yang sudah aku dapatkan selama perjalanan ini ke kau”, ucapnya dengan mata
berbinar saat kami tengah perjalanan ke bandara Changi untuk kembali ke
Indonesia. Saya pun mendengarnya dengan penuh kesyukuran tak terkira. Beberapa
waktu setelah tiba di Indonesia, benar saja ia mengirimkan list
pelajaran-pelajaran berharga yang telah ia dapatkan selama perjalanan di
Singapura bahkan 5 kali lipat lebih banyak dari kesepakatan awal kami.
Kesyukuran tak terkira benar-benar saya rasakan dari perjalanan ringan ini yang
berawal dari ambisi ringan pula. Pun dengan doa tiada tara, ‘Semoga ini
menjadi langkah pertama bagimu untuk menembus pintu-pintu kesuksesan besar
tiada tara di kemudian waktu bagi adikku Yaa Rabb’.
Suatu hari nanti saat ia ‘merasa’ tak memiliki kemampuan
apapun, atau tak dapat mencapai beberapa hal dalam hidup, semoga ia mengingat
kembali saat ini dimana dengan kemampuan yang ia miliki pada akhirnya dapat
membawanya pergi ke luar negeri secara gratis hingga dapat memperluas wawasan,
pengalaman, serta kemampuan dan relasi yang ia miliki bahkan sekaligus
tercapainya cita untuk dapat ke luar negeri pertamakali sebelum usia ke 20
tahun. Pun pada akhirnya kembali saya sadari, bahwa standar kesuksesan setiap
orang memang berbeda-beda namun setiap pencapaian besar pasti berawal dari doa
kuat, ridho orangtua dan ambisi dalam berusaha tiada tara sebab itulah
perintahNya yang paling agung.
Sekian saja kisah tentang Singa Murni (Singapore,
read: Singapure) dalam pengalaman adik saya ke luar negeri untuk yang
pertama kalinya. Semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca, pun bagi diri saya
sendiri agar dapat menjadi wasilah dalam beribadah.
Salam Semangat,
Oyek Jiddan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar