Rabu, 08 Januari 2025

Keyakinan Gila Menuju Baitul Maqdis

Wajah yang tegang terpaku, sorot mata yang kosong, seolah bumi berhenti berputar sepersekian detik, kemudian pipi mulai terbasahi oleh air mata haru tiada henti.

"Nak, kami tidak bisa berkata-kata lagi. Padahal kan kau masih menjadi tanggung jawab kami, mengapa harus kau berikan hadiah sedemikian rupa?", ujarnya dengan suara yang terisak oleh tangisan.

Sejak kecil, saya sangat menyadari dan berani mengakui bahwa karakter yang saya miliki sangat jauh berbeda dengan saudara-saudara kandung saya yang lain dimana bentuk kasih sayang dengan mudah dapat mereka sampaikan melalui perilaku yang mesra terhadap orangtua. Mengetahui kekurangan itu, pada akhirnya saya selalu mencoba untuk mencari cara lain untuk membahagiakan beliau selain melalui prestasi di bidang akademik ataupun non-akademik yang saya yakin dari situ dapat membantu menaikkan derajat beliau di hadapan masyarakat. Sekitar tahun 2012, almarhum kakek saya Allah berikan kesempatan untuk mengunjungi Baitul Maqdis di Palestina pada musim dingin meskipun usianya sudah tak lagi muda kala itu. Semangat beliau dalam beribadah sampai tanpa terasa membasahi halaman dengan aliran darah yang mengalir dari telapak kakinya, tak kuasa menahan suhu dingin yang memecahkan pembuluh darah di kulit. Kemudian memberi pesan pada orangtua saya, agar dapat mengunjungi salah satu masjid yang diutamakan untuk dikunjungi selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu untuk semakin memperkuat iman kepada kuasaNya. Pesan itu sampai pada telinga saya, membuat saya selalu mebayangkan agar kedua orangtua saya benar-benar tiba pada Masjidil Aqso tanpa berpikir bagaimana cara beliau dapat tiba di sana dengan situasi dan kondisi geopolitik yang sedang tidak baik-baik saja.

Pada tahun 2019, saya mendapatkan undangan untuk pergi ke Pakistan secara gratis. Anggap saja itu adalah salah satu ambisi saya untuk memperbanyak pengalaman di luar negeri secara gratis agar dapat mempermudah jalan saya mendapatkan beasiswa untuk jenjang S2. Ya, sejak awal perkuliahan S1 saya mendapatkan beasiswa fully funded dari prestasi Pencak Silat yang sudah saya jalani sejak duduk di jenjang sekolah dasar. Mungkin itu adalah ganti terbaik dari Allah sebab saya harus mengikuti permintaan ayah saya untuk membatalkan beasiswa ke luar negeri yang sudah saya dapatkan sekitar 2 bulan setelah mendapatkan ijazah jenjang SMA. Yang pada dasarnya, salah satu alasan saya ingin kuliah jenjang S2 di luar negeri tidak lain ialah agar saya dapat jauh lebih mudah memberangkatkan kedua orangtua saya menginjakkan kaki di Masjidil Aqso, agar penghasilan kerja saya dapat fokus untuk menggapai hal itu sebab biaya hidup saya sudah ditanggung oleh beasiswa. Keinginan kuat itu kemudian saya sampaikan pada status WhatsApp tanpa mengutarakan tujuannya secara spesifik. Di tahun 2022, saya membuat status ucapan 'Happy Anniversary' yang ke 28 tahun pada kedua orangtua saya sambil berujar "Nanti kado anniversary ke 30 tahun di luar negeri ya!" sedang dalam hati saya berdoa dengan kuatnya "Ke Masjidil Aqso yaa Rabb". Di tahun yang sama qodarullah benar-benar Allah kasih saya beasiswa fully funded lagi untuk memulai kuliah jenjang S2 di luar negeri, saat itulah semakin penuh keyakinan saya bahwa mungkin memang Allah berikan saya kesempatan untuk benar-benar membawa kedua orangtua ke Masjidil Aqso.

Semakin berjalannya kehidupan di Azerbaijan, semakin ada saja rezeki bertubi yang Allah berikan melalui berbagai macam proyek yang terus membuat saya berucap dalam hati "Oh, jangan-jangan memang ini cara Allah untuk mewujudkan mimpi besar itu". Saya berprinsip kuat, untuk tidak akan menikmati pesawat kelas bisnis sebelum kedua orangtua saya merasakannya, untuk tidak ke luar negeri dengan tujuan jalan-jalan (sebab sebelumnya saya selalu ke luar negeri hanya dengan tujuan belajar atau bekerja), yang bukan karena agar saya dapat menabungkan uangnya, melainkan karena ingin benar-benar berusaha memuliakan beliau seutuhnya. Saya juga bermunajat, agar benar-benar telah membawa beliau ke Aqso sebelum saya menikah sebab khawatir niat saya tersebut terhalang oleh prinsip pasangan saya kelak. Bahkan saat saya mendaftarkan haji dari Azerbaijan, saya menolak tawaran petugas haji untuk mendapatkan free business class hanya dengan satu alasan 'orangtua saya belum merasakannya'. Seiring berjalannya waktu, kawan saya yang sudah berkeluarga kemudian mengingatkan. Ujarnya, seorang suami akan mudah cemburu terhadap istrinya sekalipun pada orangtua istrinya sendiri. Ya, meskipun hingga saat ini saya tidak percaya akan hal itu, namun pada saat itu saya langsung menambahkan segelintir doa "Yaa Rabb sebelum menikah, sebelum usia seperempat abad, dan sebelum saya bertemu dengan calon suami, saya sudah membawa kedua orangtua ke Aqso yaa Rabb", seolah itu adalah bentuk puncak rayuan terkuat yang saya panjatkan saat itu.

Maret 2024, terbayar lunas untuk keberangkatan kedua orangtua saya ke Masjidil Aqso. Keberangkatan akan dilaksanakan pada akhir bulan Agustus 2024, sengaja saya pilih tanggal tersebut sebab menurut perhitungan, saya sudah tiba di Indonesia sebelum itu. Haru tiada tara saat kwitansi pembayaran telah saya terima. Pembelian tiket pesawat kelas business yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, ternyata dapat saya lakukan dengan tangan dan jerih payah saya sendiri hasil dari keyakinan yang kuat terhadap kuasaNya Allah. Namun siapa sangka, seolah menguji kesabaran saya, tepat satu hari setelah seluruh rangkaian ke Aqso saya lakukan, salah satu akun e-money saya tersadap oleh orang yang tak bertanggung jawab. Hanya menyisakan 500 rupiah di dalamnya. Dan itu adalah satu-satunya akun uang rupiah saya tersimpan, sebab saya tidak memiliki akun bank di Indonesia sama sekali, sebab akun bank di luar negeri adalah satu-satunya yang aktif saya miliki. Namun di balik itu semua, saya yakin bahwa Allah pasti akan mengganti segala kesedihan dan kepedihan yang dialami oleh hambaNya dengan kebahagiaan dan senyuman tak terkira hingga menghasilkan kesyukuran yang tiada hentinya.

Benar saja, tepat pada tanggal 25 April 2024, dengan caraNya Allah saya telah melunasi biaya pendaftaran haji dari Azerbaijan yang padahal sebelumnya tiada informasi sama sekali untuk itu. Namun Allah, berhasil menuntun saya untuk bergerak menuju kantor pusat hingga saya dapat menunaikan haji dari negara tersebut.

H-28 saya tiba di Indonesia. Saya baru sadar bahwa nama yang tercantumkan pada paspor kedua orangtua saya hanyalah satu suku kata, sedangkan untuk mendapatkan visa di negara-negara Timur Tengah khususnya Palestina, suku kata nama minimal harus berjumlah tiga. Harus mengurus di kantor imigrasi untuk memberikan nama tambahan, sedangkan rencana awalnya saya tak ingin memberi tau kedua orangtua saya terkait hadiah anniversary mereka sebelum hari H perayaan tersebut dan saya tak ingin membuat beliau repot-repot jauh ke imigrasi untuk mengurus dokumen. Ah, andai saja mengurus penambahan nama itu dapat saya lakukan dari Azerbaijan. Namun manusia tak elok untuk berandai-andai. Pada akhirnya saya terpaksa harus mengatakan terkait hadiah tersebut kepada orangtua saya melalui Video Call, sebab untuk mengurus penambahan nama di imigrasi tidak bisa diwakilkan.

Masih teringat sangat begitu jelas dalam memori saya bahkan hingga detik ini bagaimana ekspresi beliau saat mendengar bahwa beliau akan berangkat menuju Masjidil Aqso. Ya, meskipun tentu saja tak lepas dari kekhawatiran beliau terkait faktor keamanan sebab keadaan di sana yang belum meredam pada berita-berita yang tersebar. Namun saya tak pernah melunturkan keyakinan pada kuasaNya, bahwa segalanya sudah pasti Allah siapkan secara keseluruhan tanpa kata 'tapi'.

Hari H keberangkatan dengan Mesir sebagai negara tujuan pertama sebab jalan menuju Baitul Maqdis hanya dapat ditempuh melalui jalur darat. Anggap saja itu adalah salah satu cara saya agar kedua orangtua saya dapat melihat negara pertama tempat saya belajar dulu. Saya masih tidak menyangka, sebegitu besarnya kasih sayang Allah pada hambaNya. Yang tadinya hanya saya rencanakan perjalanan ini hanya untuk kedua orangtua saya, justru Allah kasih saya kesempatan untuk ikut juga dimana hal ini saya manfaatkan untuk terus mendokumentasikan setiap pergerakan kedua orangtua saya dalam perjalanan cintanya selama 30 tahun. Detik demi detik, langkah demi langkah, tawa demi tawa seluruhnya saya dokumentasikan dengan rapi melalui segenggap ponsel yang tak hentinya saya bawa. Hingga saya pun hampir lupa untuk mendokumentasikan diri saya sendiri saking bahagianya melihat beliau bahagia.

Usai perjalanan panjang, saat makan siang tiba sebelum perjalan kembali ke Jakarta tiba-tiba ayah saya berujar "Sudah lama tak melihat dia sebahagia itu" sambil memandang ibu saya dengan penuh senyuman bahagia nan cinta. Saat itu juga hati saya seolah terhanyut oleh ketulusan cinta di antara keduanya. Saya tau, bahwa perjalanan ini mungkin memanglah perjalanan yang sederhana di pandangan manusia, atau bahkan terkesan berlebihan sebab sebegitu 'gila' nya saya berdoa memohon kepadaNya bahkan menunda segala macam keinginan saya sendiri untuk membeli atau melakukan perjalanan sebelum itu. Namun dengan melihat wajah bahagia yang tersorot indah dari kedua orangtua saya, seolah saya melihat masa depan yang penuh dengan cahaya terang benderang, seolah segala macam keinginan-keinginan saya sudah tercapai dengan penuh kemudahan, dan tentu saja, tembok tebal yang saya bangun sendiri kali ini sudah benar-benar saya robohkan dan menggantinya dengan jalanan yang kian mulus nan dapat melihat segala arah. Pertanda, bahwa segala hal yang saya batasi pada diri saya sebelumnya seperti jalan-jalan tanpa tujuan belajar dan kerja, fasilitas kelas bisnis, atau bahkan pernikahan sudah dapat saya terima dengan tangan terbuka. Sisanya, tentu saya pasrahkan itu semua padaNya yang Maha Tahu segalanya. Sebab saya yakin, bahwa kasih sayangNya, tiada dua.

Kalau kata Rasulullah SAW kan, jikalau kau ingin melihat Allah tersenyum padamu, maka buatlah ibumu (orangtuamu) tersenyum padamu. Maka yaa Rabb, bahagiakanlah selalu kedua orangtuaku, agar dapat selalu ku lihat Engkau tersenyum padaku. Dengan ini, saya akui bahwa saya sendiri pun tak tau apa tujuan saya melakukan segala macam hal yang saat ini saya lakukan selain untuk membahagiakan kedua orangtua saya. Sebab saya tau bahwa ridho Allah ada pada ridhonya, lalu bagaimana bisa ridho itu dapat dicapai selain dengan kebahagiaannya?

Terdengar klise, namun sebagaimana kata sastrawan bahwa "hanya pecinta yang tau rasanya cinta itu sendiri". Maka mungkin, inilah kisah cintaku yang sangat begitu besar padaMu, dengan orangtua sebagai wasilah untuk menuju itu. Semoga, selalu Engkau ridhoi setiap jalanku.

Terlepas dari kisah saya pribadi, anggap saja bahwa perjalanan saya ini adalah salah satu bukti atas kekuasaanNya Allah yang apabila berkata "Jadilah", maka pasti jadilah ia. Sebab saat bermimpi lima tahunan yang lalu, saya hanyalah sekadar mahasiswi biasa yang sekadar mengantongi beasiswa dan kerja sampingan alakadarnya. Namun jikalau Allah berkehendak, sudah pasti ada saja jalannya :).

Sekian saja. Terimakasih sudah mau menjadi wadah bagi kisah ini.


Mesir-Jordan-Palestina, 20 Agustus - 2 September 2024.

-Brilliant Windy Khairunnisa-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar