Cukup lama sekali rasanya laman blog pribadi saya ini tak terisi oleh coretan-coretan ringan hasil dari kusutnya benang dalam pikiran saya. Maka dengan ini, tulisan ini akan menjadi tumpahan pikiran saya pertama di tahun 2024 yang sekaligus sambil menghitung waktu kepulangan saya ke Indonesia yang semakin mendekat.
Sejauh ini, 2024 menjadi tahun yang cukup unik sekaligus menghadirkan pertanyaan-pertanyaan kecil dalam pikiran saya meskipun kemudian saya menemukan sendiri jawabannya tak lama kemudian. Entahlah, mungkin sebab ini adalah masa akhir saya mengenyam pendidikan di Azerbaijan sehingga seolah Allah memberikan saya pelajaran kehidupan yang begitu banyak hingga terkadang saya berpikir "Yaa Rabb, setidaknya mudahkanlah langkah saya sebagaimana Engkau mudahkan perjalanan RasulMu Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa". Bergumam dengan sekelebat pikiran yang mungkin bisa dibilang cukup berat itu.
5 Mei 2024 telah menjadi pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup saya, ada perasaan tenang, ambisi, hingga kesyukuran tak terkira yang berkecamuk mejadi satu hingga tak dapat dituangkan dalam kata-kata. Hari dimana untuk pertama kalinya saya berhasil mencapai garis finish pada Baku Marathon 2024 yang merupakan ajang marathon pertama dalam hidup saya.
Mungkin bagi sebagian orang, mencapai garis finish marathon merupakan hal yang biasa. Namun mungkin hal ini memiliki kesan tersendiri bagi saya sebab perjalanan untuk memulai berlari pagi setiap hari berawal dari kondisi fisik saya yang tiba-tiba sangat melemah saat itu. Tahun 2024 saya qodarullah walhamdulillah dibuka dengan perjalanan saya menuju Haromain untuk menunaikan ibadah Umroh, sebelum pada akhirnya saya kembali menyelesaikan tugas dan amanah saya sebagai PPLN Baku. Tepat setelah PEMILU dilaksanakan, qodarullah metabolisme tubuh saya mulai menurun yang diawali dengan Radang Tenggorokan hingga suara saya bahkan sempat habis seutuhnya. Namun saya sangat bersyukur, sebab Allah masih memberikan kekuatan untuk menyelesaikan laporan PPLN Baku di KPU Jakarta dengan penuh kelancaran. Ya, meskipun saat perjalanan kembali ke Baku, tubuh saya langsung seolah tak berdaya seutuhnya. Tanpa adanya 'merasa lebih unggul', orang-orang yang sudah mengenali saya pasti tau bahwa pain tolerance saya cukup tinggi, sehingga takkan merasa kesakitan kecuali memang benar-benar sudah 10x lipat rasa sakit manusia pada umumnya. Dan saat itu, untuk pertama kalinya dan semoga benar-benar yang terakhir kalinya saya merasakan kesakitan dalam tubuh saya. Yang pada dasarnya, secara kasat mata poin utama penyakit itu "cuma flu dan batuk doang". Pelajaran pertama bagi saya, bahwa tidak ada penyakit yang "cuma/doang". Sebab hanyalah orang sakit yang dapat merasakan kesakitan itu.
Setelah hampir dua bulan tak kunjung sehat seperti semula, saya terus mencoba untuk memaksakan diri produktif seperti biasanya. Hanya karena satu alasan, sebab saya tak ingin tubuh saya menjadi 'manja' dan melemah sia-sia. Hingga qodarullah tiba-tiba terbesit ingin mencoba ikut event marathon, namun ingin mencoba yang 5K saja dulu sebagai pemula, sekadar ingin segera benar-benar merasakan "sehat yang sesungguhnya" kembali sebab masih ada rasa yang unik di dalam tubuh. Sekadar ingin kembali ke Indonesia usai kelulusan nanti dalam keadaan benar-benar fit, dan sekadar ingin kembali berusaha untuk menjadi manusia yang bermanfaat, meskipun masih sedang berproses. Qodarullah, saat saya iseng berkata pada Oca, salah satu Atlet Badminton di Azerbaijan, dia langsung menyampaikan hal itu pada Dicky, sesama Atlet. Yang qodarullahnya lagi, ternyata perkataan saya yang ingin memulai lari saat Summer justru dimajukan olehnya untuk memulai lari pagi langsung keesokan harinya. Dan sejak itu pula, lari pagi mulai kami lakukan setiap harinya hingga saya terbiasa untuk itu meskipun dalam keadaan sendiri sekalipun. Minggu pertama tentu cukup berat bagi saya, nafas saya sudah tersenggal-senggal saat baru saja beberapa detik mulai berlari. Namun uniknya, saya justru memberanikan diri untuk mendaftar Baku Marathon 2024 sebab dapat diikuti secara gratis untuk pelajar. Nothing to lose, pikir saya. Kalau sampai ke garis finish Alhamdulillah, jikalau tidak, ya, setidaknya saya dapat mengukur kemampuan sekaligus dapat termotivasi untuk terus berlari. Dan qodarullah walhamdulillah, saya benar-benar Allah kasih kekuatan untuk mencapai garis finish Baku Marathon tanpa cedera sedikitpun meski hanya berlatih sekitar 2 minggu. Dengan Pace 8/km, kecepatan yang menjadi personal best saya menngingat saat awal berlari Pace saya hanyalah 13/km padahal kalau jalan kaki Pace saya 15/km :D. Teringat pula pesan Ayah saya, bahwa memulai sesuatu kembali meskipun sudah lama berhenti akan jauh lebih mudah dibandingkan memulainya dari nol. Sebab memulai kembali, artinya kita hanya perlu mempertebal bayangan yang sempat terlalui sebelumnya. Dan mungkin itulah salah satu sebab, mengapa latihan 2 minggu itu tetap bisa membawa saya pada garis finish.
Langsung berpikir panjang, Yaa Rabb, saya minta dikuatkan untuk lari 5K agar kesehatan saya lekas pulih. Ternyata Allah seolah bilang "Kenapa kau hanya minta 5K? Ini, Aku kuatkan kau untuk menyelesaikan Baku Marathon". Dan itulah yang sekiranya akar dari kesyukuran tak terkira itu.
Baiklah sekian kisah marathon itu. Jadi sebetulnya benang kusut dalam pikiran saya ini saya tuangkan ke dalam tulisan sebab ada pelajaran yang saya peroleh dari perjalanan tersebut. Yang, semoga, dapat menjadi pelajaran pula bagi para pembaca.
Beberapa waktu sebelum keberangkatan saya ke Azerbaijan, Ayah saya sudah mulai mengingatkan agar saya dapat mencari fasilitas untuk terus Sparing Silat selama di negara ini. Sebab apabila seorang Atlet yang sangat rajin berolahraga tiba-tiba langsung berhenti berolahraga, tubuhnya akan kaget atau bahkan dapat mengalami cedera pada bagian dalam sel-sel tubuh yang cukup serius. Qodarullah fasilitas untuk terus Sparing pencak silat di sini terkendala beberapa hal sehingga saya hanya sekadar melakukan pemanasan ringan setiap harinya. Ya, setidaknya 50x push up perharinya, atau sekadar pemanasan untuk persiapan penampilan seni beladiri pencak silat pada ajang diplomasi budaya Indonesia. Dan mungkin itulah salah satu sebab mengapa pada bulan ke 16 saya di Azerbaijan tersebut tubuh saya merasa sangat kesakitan padahal hanya sekadar "virus biasa". Ibaratnya kendaraan bermotor, apabila sudah digas dengan kecepatan penuh lalu direm tiba-tiba.
Namun dari kejadian itu pula saya juga belajar, bahwa menjaga kesehatan merupakan hal yang paling penting dilakukan dan tanpa alasan ataupun bantahan tentang hal itu. Sebab pada dasarnya, diri sendirilah yang bertanggung jawab atas segala resiko dan penderitaan sakit itu. Di sisi lain, saya juga belajar banyak hal, betapa pentingnya menjaga silaturahim khususnya di tanah rantau. Sebab selama masa saya sakit, para kerabat saya baik dari para anggota P3I Azerbaijan maupun Diapora ikut mengulurkan tangan baiknya agar saya lekas pulih. Membuat saya sadar, bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sendiri. Sebab Allah pasti kirimkan malaikat melalui hati baik makhlukNya agar makhluk lainnya tak bersedih ataupun merasa sendiri. Yang mungkin, pelajaran itu takkan saya dapatkan apabila pengalaman itu tak saya peroleh. Mungkin takkan saya dapatkan apabila Allah tidak mengirimkan saya ke Azerbaijan. Maka saya ucapkan banyak-banyak terimakasih pada Allah atas risalah yang Dia berikan pada para makhlukNya saat saya butuh kala itu.
Dengan ini, semoga para pembaca dapat mengambil pelajaran agar jangan pernah meremehkan kesehatan. Khususnya, untuk para pembaca yang rajin berolahraga atau bahkan seorang atlet, jangan pernah tinggalkan olahraga itu apapun kondisinya. Setidaknya, jangan menancap rem mendadak.
Sekian dulu tulisan pembuka saya di tahun 2024 yang berisi tentang senang, sedih, dan syukur yang menjadi satu ini. Semoga, bermanfaat dan sampai jumpa pada torehan isi kepala saya yang berikutnya.
Hormat saya,
Oyek Jiddan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar