Ramadhan di tahun 1444H kali ini sungguh baru, terlebih sebab waktunya yang bersamaan dengan beberapa perayaan pada agama lainnya seperti Hari Nyepi di Indonesia dan Hari Novruz bagi kaum Majusi dimana juga dirayakan dengan begitu meriah di lokasi saya menimba ilmu saat ini, Azerbaijan.
Sebab
adanya perayaan Novruz, perkuliahan kami diliburkan hingga satu minggu lamanya.
Dimulai dari tanggal 18 hingga 26 Maret 2023, waktu yang cukup panjang apabila
hanya berdiam diri di rumah khususnya bagi para perantau. Pada akhirnya kawan
sejawat asal Indonesia di Azerbaijan, yang jumlahnya dapat dihitung jari inipun
bersepakat untuk mengadakan silaturahim kecil-kecilan selama liburan sembari
menikmati kota Baku di samping adanya pekerjaan yang sedang kami pikul. Hingga
semalam, kami sepakat untuk mengistirahatkan hari ini dari bermain bersama
sebab esok hari merupakan hari pertama Bulan Ramadhan.
Malam
pun tiba. Para anggota grup mulai ramai mendiskusikan dimana mereka akan
melaksanakan Shalat Tarawih. Ciri khas suatu negara sekuler seperti Azerbaijan.
Cukup jarang ditemukan adanya masjid, di kota besar seperti Baku sekalipun.
Kalaupun ada, akan ada batas waktunya sebab tidak dibuka selama 24 jam
sebagaimana masjid-masjid di Indonesia. Kalaupun tidak ada batasan jam bukanya,
jarang ditemukan adanya sholat berjama’ah. Kalaupun ada jama’ahnya, hampir tidak
ada perempuannya. Sungguh Ramadhan yang kian baru terasa.
Pada
akhirnya saya memutuskan untuk menunaikan Shalat Tarawih di rumah sebab
mendengar kabar beberapa waktu silam, bahwa di negara ini tak ada jama’ah
perempuan yang ikut menunaikan Shalat Tarawih di masjid. Namun semuanya semakin
terasa kebaruannya saat saya hendak berdiri menunaikan Shalat Tarawih.
Tiba-tiba memori masa lalu saya hadir dengan penuh kepekatannya. Setiap kali
bulan Ramadhan tiba, saya selalu berdiri menjadi imam shalat tarawih di rumah
bersama seluruh keluarga saya sebab kami perempuan semua kecuali ayah saya. Adapun
di keluarga kami, menjadi kewajiban bagi seorang laki-laki untuk menunaikan
shalat di masjid. Pun demikian, beliau seringkali menjadi imam masjid atau
langsung melanjutkan tadarus bersama dengan mikrofon masjid yang suara merdunya
terdengar hingga telinga anak-anaknya yang sedang di rumah ini. Ah, membuat
saya merindukan suara merdu ayah saya saat melantunkan ayat-ayatNya.
Teringat
besarnya suasana Bulan Ramadhan di Indonesia, tak terasa melelehkan air mata
saya. Sahut-sahut bilal pada pergantian shalat tarawih, lantunan ayat suci
Al-Qur’an yang dibacakan dengan merdunya pada setiap masjid, meriahnya suasana
para warga membangunkan sahur, hingga kedermawanan para ahli shodaqoh yang
berebut membagikan ta’jil hingga dibutuhkan adanya jadwal bergilir agar
sama-sama kebagian pahala, serta suasana-suasana indah lainnya yang seringkali
menggetarkan jiwa nan meningkatkan keimanan. Ah, rasanya baru kali ini saya
merindukan negara saya sendiri Indonesia dengan suasana Ramadhannya yang penuh
akan nuansa islami. Ramadhan, yang penuh dengan kebaruannya.
Namun
demikian, saya pun kembali teringat dengan petuah ayah saya kala itu. “Jikalau
kau tinggal di negara islam layaknya negara-negara di Timur Tengah, atau di
negara dengan masyarakat mayoritas Islam sebagaimana Indonesia dan kau
melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangannya, itu wajar, itu
sudah biasa. Namun jikalau kau tinggal di negara sekuler dimana sekelilingmu
bukanlah orang-orang yang melaksanakan perintahNya tapi kau tetap melaksanakan
sebagaimana saat kau di negara islam, itulah pembedanya. Sebab boleh jadi itu
yang akan menjadi wasilahmu memasuki jannahNya”. Mengingat perkataan beliau,
cukup menenangkan hati saya yang kian lusuh akan suasana. Terlebih, usai
mengetahui bahwa suasana Bulan Ramadhan di Inggris jauh lebih meriah dengan
dekorasinya yang indah. Ups, namun manusia tak boleh membandingkan dua elemen
yang sangat berbeda jauh dari akarnya. Pun demikian, dari sini saya belajar
bahwa pada akhirnya meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan kesyukuran kita
padaNya tak melulu dapat diperoleh melalui lingkungan yang sangat islami
sebagaimana di Timur Tengah. Manusia juga dapat memperoleh itu semua di manapun
ia berada, di negara sekuler sekalipun, selagi ia mau meraih semua itu dan mau
mengambil pelajaran darinya. Inna fii dzalika la-aayaatil liqomi yatafakkaruun
(sesungguhnya dengan demikian terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum
yang memikirkannya).
Sekian
saja untuk kali ini. Semoga pada Bulan Ramadhan kali ini, Allah tambahkan kami
semua kekuatan, keimanan, ketaqwaan, kebaikan, kebahagiaan, kesyukuran, dan
segala-galanya yang baik hingga dapat melewati bulan suci ini sebagai manusia
yang benar-benar kembali suci dari segala macam dosa. Hingga betul-betul
mendapat rohimNya, dan meraih jannahNya dengan penuh kesyukuran dan kenikmatan
tak terkira Aamiin.
Sampai
jumpa, pada kisah-kisah selanjutnya. Semoga bermanfaat.
Hormat
Saya,
Oyek
Jiddan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar