Rabu, 05 Oktober 2022

Ranting Yang Mana?

Berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, kali ini saya menulis di dalam bandara saat tengah transit. Sepenggal kisah, yang akan menjadi referensi utama untuk tulisan saya berikutnya.

Usai menjalani prosesi wisuda jenjang sarjana, semangat saya untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi jauh lebih membara. Segala proses terbaik saya lakukan dengan sedemikian rupa. Satu-persatu hasilnya pun kian berdatangan menyambut alamat surel saya. Di antaranya kalimat berawalan "congratulations", di antaranya pula tentu saja "we are regret". Namanya hidup, segala proses harus dijalani, harus dinikmati, hingga dapat benar-benar disyukuri.

Saya termasuk orang yang enggan memberitahu orangtua jikalau saya gagal. Setidaknya, janganlah beliau tau proses saya. Alasannya hanya satu, agar beliau tak ikut cemas lagi kepikiran nan sedih. Hingga saat saya mendapatkan surel berawalkan "congratulations" untuk yang ke sembilan kalinya dalam perjalanan menuju jenjang master, ayah saya tiba-tiba berkisah tentang pencarian ranting pohon yang dilakukan oleh beberapa anak. Kurang lebih, demikianlah kisahnya.

Suatu kala, terdapat tiga anak yang diminta oleh pendidiknya untuk menyusuri hutan dengan tujuan utama untuk membawa ranting terbaik saat telah keluar dari hutan tersebut. Dengan satu syarat utama, tak boleh menengok ke belakang apalagi memundurkan langkahnya. Mereka pun melaksanakan perintah pendidiknya tersebut dengan pola pikir yang berbeda-beda. Anak pertama menyusuri hutan dan mencari ranting dengan penuh kesungguhan, dengan pola pikir utama bahwa akan selalu ada yang terbaik dari yang paling baik. Hingga setiap kali ia menemukan ranting yang baik baginya, ia terus bersikeras dan meyakini bahwa "pasti akan ada ranting yang jauh lebih baik setelah ini". Tanpa sadar, bahwa ia tak tau kapan hutan ini akan berujung yang menjadikannya keluar dari hutan tanpa membawa apapun. Meski pada hakikatnya, ia telah menjumpai banyak sekali ranting-ranting yang baik.

Anak kedua mulai memasuki hutan dengan pola pikir utama "apa yang ku dapatkan pertama kali, itulah yang terbaik". Hingga ia keluar dari hutan dengan membawa ranting pertama yang ia temukan meskipun setelah ranting pertama itu, ia temukan begitu banyak ranting-ranting lainnya. Adapun anak ketiga, ia memasuki hutan dengan pola pikir utama "setiap jalanan terdapat ranting yang sama baiknya. Namun pasti akan ada ranting terbaik yang apabila ku temui sekali, takkan ada ranting lain dengan kualitas yang sama lagi". Hingga pada akhirnya, ia keluar dari hutan dengan membawa ranting terbaik yang ia temui di tengah perjalanan tanpa ada keraguan.

Ketiga anak telah berhasil menyusuri hutan sebagaimana perintah sang pendidik. Tiba saatnya mereka harus menghadap pendidiknya sebagai laporan atas apa yang telah mereka laksanakan. Sang pendidik pun mengajukan pertanyaan yang sama pada masing-masing anak terkait ranting seperti apa yang mereka bawa, dan mengapa mereka mengambil ranting tersebut. Ketiganya pun menjawab sebagaimana adanya hingga mereka bertanya, ada makna apa nian hingga sang pendidik meminta anak-anak tersebut berlaku demikian.

Pada akhirnya, sang pendidik tersenyum lebar. Dan berujar menjelaskan, bahwa apa yang telah mereka lalui merupakan ilustrasi kehidupan yang agaknya tak bisa dihindari. Setiap manusia sudah pasti memiliki tujuan atau target-target dalam hidupnya yang disimbolkan sebagai ranting. Proses untuk meraih tujuan tersebut disimbolkan oleh hutan dengan kelokan jalanan dan rindangan pohon yang acapkali membingungkan. Adapun dalam hidup, manusia tentu memiliki batasan usia yang ia sendiri takkan pernah tau kapan masa itu hadir. Hal itu tak lain disimbolkan oleh adanya jalan keluar hutan.

Acapkali manusia terus mengejar, terus mencari yang paling baik meskipun telah ia temukan hal terbaik itu dalam perjalanan hidupnya. Terus mencari, meninggalkan yang sudah pasti, hingga tanpa disadari waktunya telah habis dan harus berakhir dengan tak membawa apa-apa, lagi tak mendapatkan apapun. Maka apabila telah kalian temukan yang terbaik, jangan lepaskan ia sebab ia takkan pernah datang untuk yang kedua kalinya. Namun apabila timbul adanya keraguan, maka disitulah Tuhanmu memberikan isyarat untuk mendiskusikannya secara privat melalui shalat istikharah. 

Usai berkisah, ayah saya berujar singkat "nak, jangan sampai kau menjadi anak pertama yang memasuki hutan sebagaimana kisah ini". Membuat saya sempat berpikir panjang kala itu, ranting mana yang harus saya ambil?. Namun demikian, agaknya kisah tersebut dapat berlaku bagi segala macam aspek kehidupan yang terjadi pada manusia. Baik kesempatan, beasiswa, pekerjaan, atau mungkin jodoh(?).

Ya sudahlah, sekian saja untuk kali ini. Boleh jadi saya sambung di lain waktu.


Hormat saya,

Oyek Jiddan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar