Jumat, 29 Juli 2022

Hati Yang Mati

Kisah ini berawal dari adik saya yang akan memulai jenjang sarjana pada Prodi Kedokteran Gigi, yang tentu mengharuskannya untuk pandai dalam Bahasa Inggris sebab adanya tuntutan dari materi-materinya nanti yang akan full dalam bahasa tersebut. Pada akhirnya orangtua saya meminta saya untuk menemaninya belajar Bahasa Inggris di luar kota sebab kurangnya motivasi jikalau ia harus belajar secara otodidak. Saya pun mulai melakukan riset terkait tempat kursus yang terbaik untuk menunjang kemampuannya tersebut. Di sisi lain, saya mulai intensif untuk menyelesaikan beberapa tugas-tugas dan kewajiban saya sebagai pelajar sekaligus pekerja dengan tujuan agar saat saya menemaninya di luar kota, saya tak harus lagi kepikiran akan tugas tersebut. 


Dapat. Tempat kursus terbaik berdasarkan hasil riset saya. Daftar, berhasil. Dan tentu saja, pada akhirnya saya harus ikut mendaftar pula sebab akan sayang sekali rasanya jikalau sekadar menemani adik saya tanpa mendapatkan ilmu, pengalaman, dan kawan baru yang mana saya sangat menyukai ketiga hal tersebut.

Singkat cerita, hampir setiap harinya kami harus menuliskan kisah pada buku yang sudah disediakan dan harus disetorkan secara lisan pada sore harinya dengan topik yang telah ditentukan. Suatu hari, topik yang menurut kebanyakan orang paling ringan untuk dikisahkan, justru menjadi topik terberat yang bahkan membuat saya harus terlambat untuk menyetorkan hasil tulisan dan kisah saya tersebut. Topiknya: My Love. Yassalam, entah mengapa sulit nian terasa kala itu. Tak sampai di situ, sehari sebelum saya kembali ke rumah, saya harus melakukan wawancara dengan narasumber sebagai data primer topik penelitian saya. Saat itu narasumber sedang bersama seseorang yang tidak lain ialah kawan sekelas saya di tempat bimbingan. Ia tiba-tiba menanyakan usia saya, yang mana pada hakikatnya, agaknya selama lima tahun terakhir saya tak pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu. Bahkan seringkali saya melupakan berapa usia saya hingga saya harus menghitung terlebih dahulu. Sepele, namun entah mengapa kian membuat saya berpikir "Di usia segini sudah berbuat apa yang bermanfaat bagi umat?". Dan, tentu saja, berat nian terasa.

Topik terkait "My Love" pada akhirnya membawa saya untuk memilih keputusan terakhir, menjadikan orangtua saya ikut andil sebagai subjek dalam kisah itu. Bagaimana lagi? Di usia yang hampir seperempat abad ini, dan selama ini pula entah mengapa saya tak pernah merasakan apapun terhadap semua orang (both crush/in love). Semuanya terasa sama tiada beda. Hingga saya menuliskan puisi-puisi dan buku-buku yang berbau romansa, itupun sebagai pemanasan untuk memunculkan rasa tersebut. Ditambah lagi dengan penulisan topik dan pertanyaan kala itu, membuat saya jadi berpikir panjang "Apakah benar, hati saya kian mati hingga tak bisa merasakan apapun?". 

Beberapa di antara kawan dan orang-orang sekitar saya memercayai saya untuk menjadi tempat curahan hatinya terkait permasalahan hati yang mereka rasakan. Pun apabila mereka meminta masukan, tetap saya beri masukan. Namun berdasarkan riset, bukan berdasarkan apa yang saya rasakan sebab saya tak pernah sama sekali merasakannya. Konon katanya, setiap orang pasti memiliki 'crush' meski hanya sekali dalam hidupnya. Namun mengapa saya tak pernah? Apakah memang benar, hati saya kian mati?.


Topik penelitian saya kali ini terkait Mental Health, yang tentu berkaitan erat pula dengan akhir dari kisah romansa. Namun setiap kali mendengarkan data primer dari narasumber saat wawancara berlangsung, saya kembali berpikir "Memang iya, hati saya sudah mati?".

Saya jadi teringat dengan perkataan salah satu narasumber yang cukup melekat di pikiran saya saat interview berlangsung, "Aku takut menikah, namun aku juga takut takkan pernah menikah." Membuat saya jadi sempat berpikir, apakah jangan-jangan saya sedang berada pada posisi itu?. Ah, sudahlah. Jadi betulan nih, hati sudah mati?.

Di akhir masa, saat saya telah tiba di rumah dan bertemu dengan Ummi, kebetulan beliau sedang mendiskusikan perihal jodoh. Beliau pun tahu betul, bahwa saya tidak ingin 'menduakan' jenjang magister saya dengan hal-hal berbau romansa khususnya pernikahan. Dan saya sangat bersyukur, bahwa beliau mengiyakan hingga takkan pernah menanyakan/menawarkan sosok lelaki pada saya sebelum masa yang telah disepakati tersebut. Namun di sisi lain, topik tulisan saat itu lagi-lagi merasuki pikiran saya hingga saya pun memutuskan untuk bertanya pada beliau "Apakah memang hati saya sudah mati, hingga saya tak pernah memiliki crush sama sekali sejauh ini?".

Kemudian beliau pun menjawab dengan kata-kata yang cukup membawa ketenangan pada hati saya, "Bukan hati kau yang mati. Mungkin itu adalah salah satu cara Allah untuk menjaga Al-Qur'an yang ada di dadamu. Pasti ada masa dimana Allah hadirkan rasa itu, untuk orang yang tepat dan terbaik, di waktu yang terbaik pula."

Yaa Rabb. Meski demikian, agaknya saya tiada memiliki kekuatan lain selain keyakinan, bahwa kuasaNya lebih dari apapun yang ada. Maka jikalau demikian adanya, hanya satu yang saya minta: kekuatan untuk terus menjaga apa yang telah dititipkanNya dalam dada.


Sekian saja untuk tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.


Hormat Saya,

Oyek Jiddan


Sabtu, 09 Juli 2022

Dari Anak Rantau di Hari Raya Idul Adha 1443H

Sayup-sayup takbir menggema menggetarkan jiwa. Patriot pembawa obor kian bersemangat, menghardik jalanan dengan kekuatan lantunan takbir yang ia persembahkan untuk Rabb-nya. Malam yang biasa sunyi, seketika hidup, terbangkitkan oleh kekuatan jiwa yang tak lelah akan do'a.

Hari raya Idul Adha kian hadir kembali dengan suasana penuh gembira nan menggetarkan jiwa, usai beberapa masa menanti baiknya alam semesta yang terhimpit pandemi hingga para manusia harus mengurung diri. Namun demikian, dari pandemi banyak nian pelajaran yang dapat diperoleh. Khususnya, bagi diri saya sendiri. Dari pandemi, kekeluargaan terasa amat berharga dari segala hal yang ada, kesehatan adalah nikmat terindah dariNya yang tak bisa dibeli dengan harta, dan harta di dunia tentulah ada masanya. 

Manusia kian menghardik masa sebab darinya hartanya kian surut nan hanyut tanpa sisa. Manusia kian mengganti kesehatannya dengan kenikmatan sementara, hingga menyesal pada akhirnya. Manusia kian menjadikan ponsel sebagai kekasihnya, meski keluarga sedang berada di sampingnya. Ah, manusia kerap kali mengharap yang tiada, dibandingkan memanfaatkan yang ada. Lesuh nian di akhir masa.

Sepanjang usia, hari raya Idul Adha dengan keadaan jauh di tanah rantau merupakan hal yang kian biasa terjamah oleh saya secara khusus. Melakukan panggilan suara di keesokan harinya ialah pengganti dari segala rindu yang kian berkecamuk dalam jiwa. Namun demikian, selalu ada yang tetap membersamai orangtua sebab saya lima bersaudara. Setidaknya, rumah kian ramai dengan kisah-kisah yang tertorehkan dari lisan penghuninya.

Tujuh kali Idul Adha di tanah rantau kian berlalu, kali ini merupakan kedelapan kalinya saya di tanah rantau. Namun dalam keadaan yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Kedua kaka saya telah menikah, yang tentu memiliki kewajiban unggul pada suaminya. Adik terakhir saya masih menimba ilmu di tanah rantau yang tak bisa dihubungi apalagi ditemui. Adik saya yang sebelum akhir pun demikian adanya. Demikian pula saya, yang masih dihadapkan dengan 'tugas negara' yang tak bisa ditinggal hingga harus jauh dari peradaban kedua orang tua. Beberapa orang mungkin kian terbiasa memiliki orangtua yang hidup hanya berdua sebab anak-anaknya kian berjuang pada ranahnya masing-masing. Namun agaknya kami masih pemula, hingga harus membayangkan raga saling menyatu, menjabat tangan tak kenal sekat sebab rumah yang kian sunyi akan kisah-kisah yang biasa kami semarakkan setiap malam.

Kejadian ini membuat beberapa di antara kami (berlima saudara) berpikir keras. Mengapa nian Allah takdirkan semua ini terjadi sedemikian rupa?. Beberapa dari kami pun mencoba untuk menarik benang merah pada masa yang akan datang. Agaknya inilah cara Allah mencintai kami sebagai hambaNya, memberikan 'pemanasan' terlebih dahulu sebelum tahun depan benar-benar berjauhan raga, waktu setempat, bahkan kesibukan hingga hanya dapat menghubungi dengan metode 'selagi sempat'.

Sebab memang benar adanya, hidup ini hanya perihal pulang dan pergi, meninggalkan atau ditinggalkan. Meski demikian, saya bersyukur nian pada Allah, sebab telah menghadirkan kecanggihan pada era globalisasi saat kami sekeluarga harus berjauhan jiwa dan raga. Hingga apabila rindu tak lagi dapat tertolong oleh bayangan yang kami ciptakan sendiri, Voice call, video call, dan melihat CCTV rumah adalah jalan pintas merayakan rindu hingga puas. Pun, kami tau, bahwa do'a kami saling berbalas dengan ikhlas pada-Nya setiap saat tak kenal malas.

Selamat Idul Adha 1443 H. 

كل عام وأنتم بخير.


Hormat Kami,

Oyek Jiddan.

Rabu, 02 Februari 2022

Buku Puisi Berjudul "Abstraksi Jiwa" Karya Brilliant Windy K.

 


Spesifikasi Buku
:

Judul: Abstraksi Jiwa

Penulis: Brilliant Windy K.

Genre: Puisi

ISBN: 978-623-5527-01-7

Penerbit: Lintang Semesta Publisher

Tahun Terbit: Oktober 2021

Harga Normal: Rp. 45.000


Buku ini lahir saat seorang penerbit menghubungi penulis, menyatakan ketertarikannya melalui media sosial untuk menerbitkan puisi-puisi karya penulis dalam bentuk buku. Dengan satu syarat, karya puisi harus telah mencapai jumlah tertentu hingga dapat dibukukan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku. Pada akhirnya penulis mengumpulkan beberapa puisi karyanya yang berserakan, dan menambah beberapa untuk mencapai jumlah yang ditentukan. Pada akhirnya, buku puisi ini berhasil diterbitkan pada Oktober 2021 dan berhasil mendapatkan logo Best Seller yang tercantum pada covernya pada September 2021. 

Buku Abstraksi Jiwa berbicara tidak hanya tentang manusia dan sesama manusia, namun ia jauh lebih mendalam terkait hubungan antara manusia dan Tuhannya, manusia dan Rasulullah SAW, manusia dan orangtuanya, bahkan terkait manusia dengan dirinya sendiri yang bahkan seringkali mengalami perdebatan antara akal pikiran dan hati. Buku ini tercipta tidak hanya sekadar untuk dibaca, namun juga untuk dianalisa dan dirasakan keberadaannya. Adapun feedback dari pembaca buku ini:

"Dengan torehan bahasa yang khas, penulis tidak hanya membuat pembaca sekadar membaca karyanya, melainkan juga berpikir kritis dan mengambil pelajaran darinya." -Hajjar Darissalamah-


Terkendala biaya namun ingin mendapatkan buku ini? Hubungi penulis, it's free! 

Atau anda dapat membacanya secara gratis di sini .

Hormat Kami,

Oyek Jiddan

Senin, 21 Juni 2021

NOVEL "BERKENDARA UNTUK HIDUP" KARYA OYEK JIDDAN - SINOPSIS


 Spesifikasi Buku :

Judul : Berkendara Untuk Hidup

Penulis : Oyek Jiddan

Terbit : Juni 2021

Genre : Keluarga, Perjalanan, Motivasi, Misteri

ISBN : 978-623-338-129-1

Penerbit : Jejak Publisher

Halaman : 284 Pages

Size : 14 x 20 cm

Sinopsis 

    Fardan. Demikianlah setiap orang menyebutku dengan ringannya. Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Namun bagiku, tak melangkah maka takkan bisa berjuang. Dengan kata lain, tak kenal pun tak apa asal mendapatkan ruang untuk melangkah. Sebab tak memiliki ruang gerak lebih menyedihkan, daripada tak memiliki kawan, pikirku saat itu. Dari kecil, aku hidup dengan pemikiran yang penuh akan tanda tanya. Hingga terkadang, kakak kandungku bernama Hilya itu kian kewalahan untuk menjawab setiap pertanyaanku yang terus bercabang, dari satu pertanyaan yang kemudian memunculkan berbagai pertanyaan-pertanyaan lain. Namun kesabarannya yang begitu besar, selalu dapat mengalahkan rasa kewalahan itu. Hingga tiada sekalipun aku mendengar kata keluhan dari lisannya, pun tiada sekalipun gestur tubuh yang menyatakan adanya rasa keluhan itu yang aku temukan.

Oh ya, dan inilah kisahku bersama kendaraan yang sering kali kusebut sebagai kehidupan...

Keunggulan Buku :

1. Terdapat lebih dari 50 kosa kata bahasa asing

2. Terdapat sekitar 10 bahasa asing

3. Mengisahkan gaya arsitektur masjid-masjid di negara mayoritas muslim

4. Terdapat banyak sekali pesan yang dapat dipetik perihal pelajaran kehidupan

5. Kisah antara adik dan kakak yang penuh kasih sayang


Get yours fast!

Tersedia di sini , di sini , atau dapat menghubungi penulis langsung!


Regards,

Oyek Jiddan

Minggu, 25 Oktober 2020

Buku Puisi Berjudul PERSASUP - Percikan Sajak Puisi Kehidupan

 

Spesifikasi Buku :

Judul Buku : PERSASUP (Percikan Sajak Puisi Kehidupan)

Penulis : Brilliant Windy K.

Genre : Puisi Kehidupan

Ukuran : 14 x 21 cm

ISBN : 978-623-283-722-5

Penerbit : Guepedia

Terbit : Oktober 2020


INFORMASI PEMBELIAN :

Untuk pembelian, dapat dilihat di sini atau melalui toko-toko online beratasnamakan Guepedia. 

Website , Tokopedia , Bukalapak , Tokotalk , Facebook , Instagram .


SINOPSIS :

HIDUP INI-ITU

/1/

Terkadang,

Hidup ini bak lembaran buku :

kala kau tak menyukai satu halaman

maka beralihlah pada halaman selanjutnya

sebab untuk menetap,

tentu hanya kesiaan semata.


/2/

Hidup ini bak puisi

Saat ini boleh saja kau menulisnya,

namun kau takkan pernah tahu

kapan kau dapat membacakannya.


(2019-2020)


NB : Apabila ada yang perlu ditanyakan, silahkan bertanya melalui kolom komentar atau langsung menghubungi penulis :).

Sekian dan Terimakasih.

Hormat Kami,

Oyek Jiddan.

Buku Puisi Berjudul PERSASA - Percikan Sajak Puisi Manusia

 

Spesifikasi Buku :

Judul Buku : PERSASA  (Percikan Sajak Puisi Manusia)

Penulis : Brilliant Windy K.

Genre : Kumpulan Puisi Perjalanan

Penerbit : Guepedia

Ukuran : 14 x 21 cm

ISBN : 978-623-281-921-4

Terbit : Oktober 2020


INFORMASI PEMBELIAN :

Untuk pembelian, dapat dilihat di sini atau melalui toko-toko online beratas namakan Guepedia. 

Website , Tokopedia , Bukalapak , Tokotalk , Facebook , Instagram

SINOPSIS :

MANUSIA BEGINI

/1/

Kenalilah manusia,

Ia bak lima jari yang kian berbeda

Dimana kala satu jari tiada

Niscaya kekuatan seluruhnya akan hampa,

lagi tak tahu arah.


/2/

Begitulah manusia,

kala sesuatu itu hadir,

kian disia-siakan

namun kala pergi,

kian dicari-cari,

disesali,

dan berharap ia akan kembali.

(2019)


Jikalau ada yang perlu ditanyakan, silahkan bertanya melalui kolom komentar, atau hubungi penulis. Terimakasih


Hormat kami,

Oyek Jiddan

Buku Puisi Berjudul PERSASI - Percikan Sajak Puisi Hati

 

Spesifikasi Buku :

Judul : PERSASI (Percikan Sajak Puisi Hati)

Penulis : Brilliant Windy K.

Genre : Puisi Romance

Penerbit : Guepedia 

Ukuran : 14 x 21 cm

Terbit : Oktober 2020

ISBN : 978-623-294-654-5

SINOPSIS :

MEMANG SUKA BEGITU

/1/

Rindu memang suka begitu,

Ia biarkan jiwa merasa,

namun tak juga dapat bertatap mata

ataukah ia bertugas untuk merenggut segala asa?

/2/

Rindu memang terlalu curang

ia biarkan seseorang merasa

namun ia biarkan begitu saja

tanpa memberi pengobat luka.

/3/

dan ialah kerinduan,

yang hadir terpendam

di balik ampas kopi

yang kian terabaikan.


(2019)


INFORMASI PEMBELIAN :

Lihat di sini atau melalui link berikut :

Website

Tokopedia

Bukalapak

Tokotalk

Facebook

Instagram

Apabila masih ada pertanyaan, silahkan menuliskannya di kolom komentar atau hubungi penulis :).

Terimakasih.

Hormat Kami,

Oyek Jiddan.