Sayup-sayup takbir menggema menggetarkan jiwa. Patriot pembawa obor kian bersemangat, menghardik jalanan dengan kekuatan lantunan takbir yang ia persembahkan untuk Rabb-nya. Malam yang biasa sunyi, seketika hidup, terbangkitkan oleh kekuatan jiwa yang tak lelah akan do'a.
Hari raya Idul Adha kian hadir kembali dengan suasana penuh gembira nan menggetarkan jiwa, usai beberapa masa menanti baiknya alam semesta yang terhimpit pandemi hingga para manusia harus mengurung diri. Namun demikian, dari pandemi banyak nian pelajaran yang dapat diperoleh. Khususnya, bagi diri saya sendiri. Dari pandemi, kekeluargaan terasa amat berharga dari segala hal yang ada, kesehatan adalah nikmat terindah dariNya yang tak bisa dibeli dengan harta, dan harta di dunia tentulah ada masanya.
Manusia kian menghardik masa sebab darinya hartanya kian surut nan hanyut tanpa sisa. Manusia kian mengganti kesehatannya dengan kenikmatan sementara, hingga menyesal pada akhirnya. Manusia kian menjadikan ponsel sebagai kekasihnya, meski keluarga sedang berada di sampingnya. Ah, manusia kerap kali mengharap yang tiada, dibandingkan memanfaatkan yang ada. Lesuh nian di akhir masa.
Sepanjang usia, hari raya Idul Adha dengan keadaan jauh di tanah rantau merupakan hal yang kian biasa terjamah oleh saya secara khusus. Melakukan panggilan suara di keesokan harinya ialah pengganti dari segala rindu yang kian berkecamuk dalam jiwa. Namun demikian, selalu ada yang tetap membersamai orangtua sebab saya lima bersaudara. Setidaknya, rumah kian ramai dengan kisah-kisah yang tertorehkan dari lisan penghuninya.
Tujuh kali Idul Adha di tanah rantau kian berlalu, kali ini merupakan kedelapan kalinya saya di tanah rantau. Namun dalam keadaan yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Kedua kaka saya telah menikah, yang tentu memiliki kewajiban unggul pada suaminya. Adik terakhir saya masih menimba ilmu di tanah rantau yang tak bisa dihubungi apalagi ditemui. Adik saya yang sebelum akhir pun demikian adanya. Demikian pula saya, yang masih dihadapkan dengan 'tugas negara' yang tak bisa ditinggal hingga harus jauh dari peradaban kedua orang tua. Beberapa orang mungkin kian terbiasa memiliki orangtua yang hidup hanya berdua sebab anak-anaknya kian berjuang pada ranahnya masing-masing. Namun agaknya kami masih pemula, hingga harus membayangkan raga saling menyatu, menjabat tangan tak kenal sekat sebab rumah yang kian sunyi akan kisah-kisah yang biasa kami semarakkan setiap malam.
Kejadian ini membuat beberapa di antara kami (berlima saudara) berpikir keras. Mengapa nian Allah takdirkan semua ini terjadi sedemikian rupa?. Beberapa dari kami pun mencoba untuk menarik benang merah pada masa yang akan datang. Agaknya inilah cara Allah mencintai kami sebagai hambaNya, memberikan 'pemanasan' terlebih dahulu sebelum tahun depan benar-benar berjauhan raga, waktu setempat, bahkan kesibukan hingga hanya dapat menghubungi dengan metode 'selagi sempat'.
Sebab memang benar adanya, hidup ini hanya perihal pulang dan pergi, meninggalkan atau ditinggalkan. Meski demikian, saya bersyukur nian pada Allah, sebab telah menghadirkan kecanggihan pada era globalisasi saat kami sekeluarga harus berjauhan jiwa dan raga. Hingga apabila rindu tak lagi dapat tertolong oleh bayangan yang kami ciptakan sendiri, Voice call, video call, dan melihat CCTV rumah adalah jalan pintas merayakan rindu hingga puas. Pun, kami tau, bahwa do'a kami saling berbalas dengan ikhlas pada-Nya setiap saat tak kenal malas.
Selamat Idul Adha 1443 H.
كل عام وأنتم بخير.
Hormat Kami,
Oyek Jiddan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar