Rabu, 19 Oktober 2022

RANTING YANG INI!

Terbiasa jauh dari keluarga, berpindah-pindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lainnya, dan bertemu banyak orang baru yang mayoritas di antaranya hanya sekejap saja, agaknya salah satu cara Allah untuk membentuk pribadi yang lain dalam diri saya. Menjadikan saya menganggap kebaikan kecil adalah suatu hal yang besar, mendekap erat kalimat "selama bisa dilakukan sendiri, mengapa perlu oranglain?", hingga selalu melontarkan kata "terimakasih" yang tak terhingga dalam satu waktu pada orang yang sama pun telah menjadi hal yang biasa. Meski sebagian di antaranya jadi salah sangka. Namun dari sini pula saya belajar, bahwa sebaik apapun manusia, akan ada saja manusia lain yang menghardik perbuatan baiknya. Itulah mengapa segala perbuatan harus dilandaskan dengan Lillah.

Sejak kejadian yang benar-benar diluar nalar saya beberapa waktu silam, yang kisahnya dapat dibaca di sini, perjalanan saya dalam menempuh jenjang sarjana dipenuhi akan analisis-analisis yang saya lakukan hingga benar-benar menemukan hikmah apa saja yang terkandung di balik kejadian tersebut. Terseok-seok berkelana, meneliti sekecil apapun pijakan yang sedang dilalui, seolah tak ingin melewatkan sedetikpun pelajaran yang dapat saya peroleh. Hingga beberapa waktu sebelum yudisium jenjang sarjana, dan telah ditetapkan bahwa saya akan mendapatkan penghargaan kala wisuda nanti, ayah saya berujar "Nak, mulai saat ini, kemanapun kau akan pergi, sejauh apapun itu, inshaAllah saya pasti meridhoimu. Sebab kau membawa kalamNya, dan tentu selama kau terus menjaga kalamNya, niscaya Allah langsung yang akan menjagamu. Hingga tak ada lagi hal yang perlu saya khawatirkan." Sejak saat itu, bukannya bahagia, rasa takut justru ikut menyelimuti diri saya. Takut, apabila hasil akhir tak sesuai dengan apa yang diharapkan orang-orang terkasih. Hingga ibu saya suatu kala berujar, "seburuk apapun manusia menilai, jikalau niatmu adalah Lillahi ta'ala, niscaya Dia langsung yang akan melindungimu". Hingga perasaan itu mulai dipudarkan oleh keyakinan yang semakin kuat bahwa Dia ada bahkan jauh lebih dekat dari urat nadi manusia.

Pertengahan tahun 2022, telah saya dapatkan 13 surat yang menyatakan bahwa saya diterima di kampus-kampus tersebut berikut dengan beasiswanya. Di negara-negara yang berbeda, berbeda pula program studinya, namun tetap dalam satu lingkup dengan studi saya saat jenjang sarjana (Hubungan Internasional). Namun demikian, 8 di antaranya akan memulai perkuliahan pada tahun 2023, sedangkan sisanya hanya memberikan gratis biaya kuliah saja tanpa biaya hidup. Yang tentu, menjadikan saya untuk terus mencari dan mencoba, sebab agaknya akan cukup berat di hati jikalau saya harus membebankan biaya tersebut pada orangtua. Hingga tiba pada saat pertengahan berdiskusi ringan dengan ayah saya, dan beliau berujar "kau tau kisah pencari ranting terbaik? Jangan sampai kau berakhir seperti anak pertama ya!". Kisah ranting, dapat dibaca di sini. Secara tersirat, kalimat ayah saya tersebut agaknya bermaksud bahwa beliau akan memperjuangkan biaya hidup saya di tanah rantau, tak masalah. Sebab saya sangat meyakini bahwa orangtua pasti akan berjuang sekuat tenaga untuk keberhasilan dan kebahagiaan anak-anaknya. Namun tetap saja, tetap berat di dada apabila saya harus membebankan beliau sementara adik saya juga baru saja memulai perkuliahan kedokterannya.

Hingga tiba pada suatu Jum'at di sore hari, yang mana berdasarkan sabda rasulNya, bahwa barangsiapa berdo'a pada saat itu niscaya akan Dia kabulkan. Entah mengapa saat itu seolah saya ingin meluapkan segala keluhan hati yang tak dapat saya lontarkan secara lisan. Seolah tak berdaya, 2023 tinggal 4 bulan lagi, sementara saya belum ada kepastian apa yang akan saya lakukan dalam penantian pergantian tahun ini. Saya memang tengah bekerja partial dan tetap menempuh jenjang diploma saat itu. Namun keduanya saya lakukan secara online, hingga muncul adanya kejenuhan sebab tidak adanya interaksi dengan manusia secara offline. Keesokan harinya, saya mendapatkan email yang berisikan bahwa saya diterima kerja di luar kota secara full-time. Namun keesokan harinya pula saya mendapatkan email yang berisikan bahwa saya sudah masuk 3 besar untuk mendapatkan beasiswa full di suatu negara, meski masih ada satu ronde lagi yang harus dinantikan. Sebab hanya satu orang saja yang pada akhirnya akan menjadi penerima beasiswa tersebut. Pada akhirnya saya mulai memberitahu kedua orangtua saya, mohon bantu istikharah. Meski pada dasarnya, hampir tak pernah saya memberitahu hal-hal yang belum pasti pada beliau khususnya terkait beasiswa. Sebab kali ini diskusi sangat dibutuhkan, akibat kebingungan yang saya alami. Mau menerima pekerjaan yang sudah pasti, atau menunggu hasil akhir beasiswa yang belum tentu diterima dan harus melepaskan pekerjaan tersebut. Jadi yang mana ranting terbaik saya itu?.

Pada akhirnya orangtua saya meyakinkan saya bahwa hal yang terbaik ialah menunggu hasil akhir beasiswa yang diperkirakan 2-3 hari lagi, sambil tetap melakukan shalat istikharah. Maka dengan berucap 'bismillah', saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang belum sempat saya mulai itu dan bersedia menunggu pengumuman hasil beasiswa dengan penuh keyakinan bahwa pasti Allah berikan yang terbaik bagi hambaNya. Dari sini pula saya menyadari satu hal, inilah ranting terbaikku, ayah!.

Usai shalat isya', membuka ponsel saya, ada notifikasi email masuk dengan subject "Congratulations". Yaa Rabb. Seolah ikatan tali yang mengikat kuat pada sekujur tubuh saya tiba-tiba terlepas sedemikian rupa, bersimpuh di hadapanNya, memuja asmaNya dan membawa saya berlari menuju kedua orangtua saya. Biidznihi, saya lolos beasiswa tersebut, dapat memulai perkuliahan tahun ini, menjadi satu-satunya penerima beasiswa dari seluruh negara yang mendaftar tahun ini dan orang pertama dari Indonesia yang menerima beasiswa tersebut, bahkan dapat berangkat bulan itu juga. Lagi-lagi saya belajar, bahwa jikalau Allah sudah berkata 'kun' tak ada yang mustahil. Maha, dari yang paling maha. Jadi inilah ranting terbaik saya.

Sambil menghitung hari keberangkatan, saya menjadwalkan untuk berpamitan pada para dosen-dosen saya selama kuliah jenjang sarjana. Memohon do'a restu, sekaligus ucapan terimakasih atas segala ilmu dan dedikasi yang telah beliau berikan. Sebab saya yakin, bahwa tak ada namanya 'mantan guru'. Karena sampai matipun, ilmu dari sang guru akan tetap dan terus dibawa oleh para muridnya. Setidaknya, memberikan dampak pada langkah yang ia lalui di sisa hidupnya. Ucapan terimakasih dan berpamitan juga saya lakukan pada kawan-kawan saya, meski sekadar online sebab jarak dan waktu yang memisahkan. Namun setidaknya, untaian do'a selalu tercurahkan pada mereka yang telah menjadi bagian dari kisah hidup saya selama ini.

Keberangkatan. Telah tiba, walhamdulillah. Saat langkah kaki tengah berjalan keluar dari bandara, semilir angin berhembus lembut, mencairkan batu-batu es yang ada dalam dada, seketika berucap dengan penuh kesyukuran 'jikalau memang ini  ranting terbaikku, maka mudahkanlah, berkahilah, rahmatilah, perjalanan saya dalam menuntut ilmu di sini Yaa Rabb'. Dari sini saya kembali belajar, bahwa jikalau kau tak menduga akan mendapatkan hal baik yang sedang kau alami saat itu. Sebenarnya saat itulah, do'a ibumu Allah kabulkan, dan petuah ayahmu telah kau jalankan. Irhamhuma Yaa Rabb.


Pada akhirnya hidup ini terkadang seperti akhir kisah dalam buku karya Nizami Ganjavi. Tak segala hal yang manusia inginkan harus dicapai, sebab Allah Maha Tau apa yang terbaik bagi hambaNya. Dengan demikian, muncullah kesyukuran mendalam, hingga Dia tambahkan nikmat kembali, sampai Dia berkata "udkhuluha bisalamin aaminin". Masuklah surga dengan penuh keselamatan. Pun demikian, jikalau orangtuanya terpandang baik, belum tentu anaknya juga terbaca baik. Namun jikalau anaknya baik, sudah pasti orangtuanya terbaca baik. Maka demikian, semoga Allah selalu jaga kedua orangtua saya yang do'a-do'anya terus mengalir deras untuk anak-anaknya tak kenal batas.

Sukses selalu untuk para pembaca dimanapun dan apapun yang sedang digeluti saat ini. Do'akan saya yang baik-baik.

Sekian saja untuk kali ini, lain kali kita bercerita kembali. Salam hangat, dari Negara Api, Azerbaijan.


Hormat Saya,

Oyek Jiddan.


Rabu, 05 Oktober 2022

Ranting Yang Mana?

Berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, kali ini saya menulis di dalam bandara saat tengah transit. Sepenggal kisah, yang akan menjadi referensi utama untuk tulisan saya berikutnya.

Usai menjalani prosesi wisuda jenjang sarjana, semangat saya untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi jauh lebih membara. Segala proses terbaik saya lakukan dengan sedemikian rupa. Satu-persatu hasilnya pun kian berdatangan menyambut alamat surel saya. Di antaranya kalimat berawalan "congratulations", di antaranya pula tentu saja "we are regret". Namanya hidup, segala proses harus dijalani, harus dinikmati, hingga dapat benar-benar disyukuri.

Saya termasuk orang yang enggan memberitahu orangtua jikalau saya gagal. Setidaknya, janganlah beliau tau proses saya. Alasannya hanya satu, agar beliau tak ikut cemas lagi kepikiran nan sedih. Hingga saat saya mendapatkan surel berawalkan "congratulations" untuk yang ke sembilan kalinya dalam perjalanan menuju jenjang master, ayah saya tiba-tiba berkisah tentang pencarian ranting pohon yang dilakukan oleh beberapa anak. Kurang lebih, demikianlah kisahnya.

Suatu kala, terdapat tiga anak yang diminta oleh pendidiknya untuk menyusuri hutan dengan tujuan utama untuk membawa ranting terbaik saat telah keluar dari hutan tersebut. Dengan satu syarat utama, tak boleh menengok ke belakang apalagi memundurkan langkahnya. Mereka pun melaksanakan perintah pendidiknya tersebut dengan pola pikir yang berbeda-beda. Anak pertama menyusuri hutan dan mencari ranting dengan penuh kesungguhan, dengan pola pikir utama bahwa akan selalu ada yang terbaik dari yang paling baik. Hingga setiap kali ia menemukan ranting yang baik baginya, ia terus bersikeras dan meyakini bahwa "pasti akan ada ranting yang jauh lebih baik setelah ini". Tanpa sadar, bahwa ia tak tau kapan hutan ini akan berujung yang menjadikannya keluar dari hutan tanpa membawa apapun. Meski pada hakikatnya, ia telah menjumpai banyak sekali ranting-ranting yang baik.

Anak kedua mulai memasuki hutan dengan pola pikir utama "apa yang ku dapatkan pertama kali, itulah yang terbaik". Hingga ia keluar dari hutan dengan membawa ranting pertama yang ia temukan meskipun setelah ranting pertama itu, ia temukan begitu banyak ranting-ranting lainnya. Adapun anak ketiga, ia memasuki hutan dengan pola pikir utama "setiap jalanan terdapat ranting yang sama baiknya. Namun pasti akan ada ranting terbaik yang apabila ku temui sekali, takkan ada ranting lain dengan kualitas yang sama lagi". Hingga pada akhirnya, ia keluar dari hutan dengan membawa ranting terbaik yang ia temui di tengah perjalanan tanpa ada keraguan.

Ketiga anak telah berhasil menyusuri hutan sebagaimana perintah sang pendidik. Tiba saatnya mereka harus menghadap pendidiknya sebagai laporan atas apa yang telah mereka laksanakan. Sang pendidik pun mengajukan pertanyaan yang sama pada masing-masing anak terkait ranting seperti apa yang mereka bawa, dan mengapa mereka mengambil ranting tersebut. Ketiganya pun menjawab sebagaimana adanya hingga mereka bertanya, ada makna apa nian hingga sang pendidik meminta anak-anak tersebut berlaku demikian.

Pada akhirnya, sang pendidik tersenyum lebar. Dan berujar menjelaskan, bahwa apa yang telah mereka lalui merupakan ilustrasi kehidupan yang agaknya tak bisa dihindari. Setiap manusia sudah pasti memiliki tujuan atau target-target dalam hidupnya yang disimbolkan sebagai ranting. Proses untuk meraih tujuan tersebut disimbolkan oleh hutan dengan kelokan jalanan dan rindangan pohon yang acapkali membingungkan. Adapun dalam hidup, manusia tentu memiliki batasan usia yang ia sendiri takkan pernah tau kapan masa itu hadir. Hal itu tak lain disimbolkan oleh adanya jalan keluar hutan.

Acapkali manusia terus mengejar, terus mencari yang paling baik meskipun telah ia temukan hal terbaik itu dalam perjalanan hidupnya. Terus mencari, meninggalkan yang sudah pasti, hingga tanpa disadari waktunya telah habis dan harus berakhir dengan tak membawa apa-apa, lagi tak mendapatkan apapun. Maka apabila telah kalian temukan yang terbaik, jangan lepaskan ia sebab ia takkan pernah datang untuk yang kedua kalinya. Namun apabila timbul adanya keraguan, maka disitulah Tuhanmu memberikan isyarat untuk mendiskusikannya secara privat melalui shalat istikharah. 

Usai berkisah, ayah saya berujar singkat "nak, jangan sampai kau menjadi anak pertama yang memasuki hutan sebagaimana kisah ini". Membuat saya sempat berpikir panjang kala itu, ranting mana yang harus saya ambil?. Namun demikian, agaknya kisah tersebut dapat berlaku bagi segala macam aspek kehidupan yang terjadi pada manusia. Baik kesempatan, beasiswa, pekerjaan, atau mungkin jodoh(?).

Ya sudahlah, sekian saja untuk kali ini. Boleh jadi saya sambung di lain waktu.


Hormat saya,

Oyek Jiddan.