Rabu, 19 Februari 2025

Singa Murni yang Pertama

 InshaAllah ini akan menjadi jariyahmu nak, sebab berhasil membawa adikmu mengikuti jejakmu untuk dapat ke luar negeri secara gratis melalui tulisan”, ujarnya dengan haru. Seolah masih hangat diingatan, bagaimana wajahnya terpaku masih tak percaya bahwa anaknya yang masih terasa kecil itu akan berangkat ke luar negeri pertama kali karena ilmu bersama kakaknya.

Kisah ini berawal dari ambisi seorang kakak untuk dapat menjadikan adik-adiknya menjadi orang-orang yang jauh lebih baik darinya, ya meskipun masih dalam proses dan iapun masih jauh dari kata baik. Ups, namun di keluarga besar saya, ke luar negeri karena ilmu masih menjadi hal yang sangat “sesuatu” di benak orangtua kami sebab jikalau ilmu itu tak penting, tak mungkin Allah sampai mengutarakannya melalui Al-Qur’an bahwa Dia akan mengangkat orang yang bertakwa dan berilmu beberapa derajat. Bukan satu derajat, tak hanya dua derajat, namun ‘beberapa’ derajat seolah memberikan penekanan atasnya. Pun diucapkan setelah adanya ‘ketakwaan’, sebab ilmu tanpa takwa akan menjadi manusia yang angkuh sedangkan orang yang bertakwa sudah pasti berilmu. Setidaknya, ia pasti ‘berilmu bagaimana menjadi hambaNya yang baik hingga mencapai kata ‘takwa’ itu sendiri.

Jauh setelah komitmen untuk mengumpulkan 100% uang pemasukan saya pada salah satu pekerjaan untuk memberangkatkan orangtua ke MasjidilAqso, saya tiba-tiba berangan ingin membawa adik-adik saya ke luar negeri tapi dengan keterlibatan mereka pula melalui ilmu. Ya, setidaknya negara yang paling dekat dulu saja dengan Indonesia, setidaknya menjadi pintu pembuka mereka untuk melihat dunia dan manusia-manusia lain di luar sana yang mungkin akan sulit mereka dapatkan di Indonesia. Meskipun hanya satu atau dua hari, yang penting ada pelajaran yang dapat mereka raih. Kemudian beberapa masa setelah itu, adik pertama saya berujar pada saya bahwa ia memiliki target untuk telah menginjakkan kaki ke luar negeri sebelum usianya yang ke 20 tahun. Pun di keluarga kami sudah mudah dipahami, bahwa ucapan “ke luar negeri” artinya bukan untuk sekadar traveling tanpa tujuan sebab hanya ada dua pilihan sejauh ini: ke luar negeri untuk belajar atau pekerjaan.

Ucapannya itu membuat saya ikut tergugah, hingga saya berujar padanya “Kalau kau ingin ke luar negeri dalam waktu dekat, cara tercepat adalah melalui tulisan”. Kemudian dia bertanya pada saya bagaimana cara memulai suatu tulisan yang ilmiah dan bagaimana cara menyelesaikannya. Saat itu saya memulainya dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan bidang studi yang ia sukai: kedokteran gigi, dengan masing-masing pertanyaan harus ia jawab dengan minimal 500 kata. Pada akhirnya, tanpa disadari sebetulnya ia telah berhasil menulis satu artikel penuh. Sebab mengerti bahwa ia cukup takut untuk memulai, secara diam-diam saya mengajukan karya tulisnya yang sudah saya bantu proofread dan edit tersebut pada forum internasional terdekat di luar negeri yang juga menyediakan fully funded bagi para peserta yang tulisannya lolos seleksi. Alhamdulillah, lolos. Bahkan tak hanya satu orang yang berangkat, melainkan kami berdua sama-sama diundang untuk menghadiri acara tersebut dengan dibiayai penuh. Dan kala itu, adik saya belum tau apa-apa sebab saya buatkan email baru untuknya pun ia berada di kota rantau yang jauh dari keluarga.

Malam itu juga saya langsung menemui ibu saya dan menyatakan bahwa saya diundang untuk menghadiri forum internasional di Singapura secara gratis. Tau ga dengan siapa?”, tanya saya pada ibu saya. “Siapa?”, tanyanya sembari menegakkan posisi duduknya pertanda antusias ingin tau. Matanya seketika berkaca-kaca saat tau bahwa adik pertama saya juga diundang dalam acara tersebut sembari mendekap tubuh saya dan tak henti mendoakan kebaikan. Kami pun menanti kedatangan ayah yang tengah masih di masjid saat itu untuk membagikan kabar gembira. Adik pertama saya yang sebetulnya terlibat dalam acara ini justru sengaja belum kami kabari, “Nanti saja saat ia sudah tiba di rumah untuk liburan agar menjadi kejutan baginya” sepakat kami. Qodarullah, tanggal liburan adik saya tersebut juga dapat disesuaikan dengan acara keberangkatan kami di Singapura sehingga dapat mempermudah semuanya.

Sudah datang. Bahagia namun berpikir “Aku akan bagaimana di sana nanti?”, tanya adik saya. “Bismillah, kita bersama”, ujar saya menenangkan. Berangkat. Saat di bandara, saya berikan sedikit tugas ringan padanya untuk menuliskan setidaknya 10 pelajaran yang ia dapatkan selama di Singapura dalam berbagai segi termasuk kehidupan, budaya, atau pemikiran serta harus ia serahkan pada saya saat kami sudah tiba kembali di Indonesia nanti. Ia setuju. Entahlah, mungkin sebab ambisi awal saya ingin membantu adik saya pergi ke luar negeri pertama kali melalui ilmu sehingga saya pun tak ingin pengalaman pertamanya ini hanya berakhir sebagai cerita tanpa ada ‘isi’ di dalamnya.


Acaranya berjalan dengan sukses, Alhamdulillah. “Wah kak, kalau begini ceritanya mah aku yakin bisa berikan lebih dari 10 pelajaran yang sudah aku dapatkan selama perjalanan ini ke kau”, ucapnya dengan mata berbinar saat kami tengah perjalanan ke bandara Changi untuk kembali ke Indonesia. Saya pun mendengarnya dengan penuh kesyukuran tak terkira. Beberapa waktu setelah tiba di Indonesia, benar saja ia mengirimkan list pelajaran-pelajaran berharga yang telah ia dapatkan selama perjalanan di Singapura bahkan 5 kali lipat lebih banyak dari kesepakatan awal kami. Kesyukuran tak terkira benar-benar saya rasakan dari perjalanan ringan ini yang berawal dari ambisi ringan pula. Pun dengan doa tiada tara, ‘Semoga ini menjadi langkah pertama bagimu untuk menembus pintu-pintu kesuksesan besar tiada tara di kemudian waktu bagi adikku Yaa Rabb’.

Suatu hari nanti saat ia ‘merasa’ tak memiliki kemampuan apapun, atau tak dapat mencapai beberapa hal dalam hidup, semoga ia mengingat kembali saat ini dimana dengan kemampuan yang ia miliki pada akhirnya dapat membawanya pergi ke luar negeri secara gratis hingga dapat memperluas wawasan, pengalaman, serta kemampuan dan relasi yang ia miliki bahkan sekaligus tercapainya cita untuk dapat ke luar negeri pertamakali sebelum usia ke 20 tahun. Pun pada akhirnya kembali saya sadari, bahwa standar kesuksesan setiap orang memang berbeda-beda namun setiap pencapaian besar pasti berawal dari doa kuat, ridho orangtua dan ambisi dalam berusaha tiada tara sebab itulah perintahNya yang paling agung.

Sekian saja kisah tentang Singa Murni (Singapore, read: Singapure) dalam pengalaman adik saya ke luar negeri untuk yang pertama kalinya. Semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca, pun bagi diri saya sendiri agar dapat menjadi wasilah dalam beribadah.

Salam Semangat,

Oyek Jiddan