Sabtu, 11 Januari 2025

Panggilan Suci Dari Azerbaijan

Masih 35 tahun lagi nak kalau dari Indonesia. Nanti kalau bisa haji dari sana, berangkat aja ya. InshaAllah pasti Allah kasih jalan”. Begitulah kira-kira pesan ayah saya tepat saat pengumuman beasiswa ke Azerbaijan saya terima pada 13 September 2022 lalu.

Saya selalu berusaha tidak mengutarakan segala macam mimpi atau tujuan jangka panjang kepada orang lain sebelum tujuan itu benar-benar mendapatkan titik terang, termasuk pada keluarga saya sendiri. Namun demikian, sebab saya tidak terlahir dari keluarga yang memiliki kekuasaan atau jaringan yang luas, seringkali saya mengumpulkan puzzle-puzzle informasi dari orang lain yang kemudian dapat saya gabungkan dan menjadi kesimpulan informasi yang valid. Meski pada akhirnya, seringkali Allah seolah meminta saya untuk berusaha sendiri untuk mendapatkan informasi langsung dari sumber utamanya. Salah satunya, terkait keberangkatan haji dari Azerbaijan sebagai mahasiswa Indonesia di Baku.

Sejak awal kedatangan saya di Azerbaijan, beberapa kali saya menggali informasi terkait pemberangkatan haji dari negara ini kepada beberapa pihak khususnya yang sudah lama tinggal di Baku. Sayangnya, belum pernah ada WNI yang berangkat haji dari Azerbaijan kecuali hanya satu kali itupun beliau dari pihak KBRI dan keberangkatannya merupakan hasil kerjasama dengan Kemlu dan belum pernah terjadi lagi. Pun, jikalau ada lagi, tentu mahasiswa seperti saya agaknya tidak mungkin mendapatkan kesempatan tersebut. Sumber informasi yang saya peroleh terkait hal ini pun menceritakan pada saya betapa sulitnya proses keberangkatan mereka kala itu. Baiklah, saya terima. Pikir saya saat itu, mungkin bukan dari Azerbaijan jawabannya untuk menunaikan rukun islam yang terakhir itu. Namun demikian, ya, seperti biasa. Saya tidak pernah mengubur mimpi, saya biasa hanya menyimpannya dan terus bermunajat agar diberikan yang terbaik.

30 Desember 2023, qodarullah saya diberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah umroh untuk pertama kalinya dalam hidup. Keberangkatan saya kala itupun tanpa direncanakan. Saya ingat betul, tadinya saya hanya merencanakan untuk merefresh pikiran sebelum ujian akhir semester namun qodarullah saat terbangun dari tidur tiba-tiba saya terpikir untuk mencari tahu visa transit ke Saudi. Dan saat saya coba, hanya 2 menit visa saya langsung keluar. Alhamdulillah. Dan qodarullahnya lagi, keberangkatan umroh yang tadinya hanya saya rencananya pergi sendirian, justru diikuti oleh 3 kawan saya yang lain hingga kami berangkat berempat dengan masa umroh total 4 hari sebab visa transit dari FlyNas hanya berlaku selama 96 jam. Saat itu, salah satu doa saya adalah ingin menunaikan ibadah haji atau setidaknya umroh pada bulan Ramadhan sebab pahalanya sama dengan orang yang berhaji. Doa itu pada akhirnya saya upayakan betul-betul pada bulan Ramadhan. Saya mengajak beberapa kawan saya yang lain untuk menunaikan ibadah umroh pada akhir Ramadhan hingga kami dapat menaikan ibadah Shalat Idul Fitri di masjidil Haram. 2 kawan saya tersebut belum pernah melaksanakan umrah dan belum pernah manasik sebelumnya, sehingga saya ikut membantu mereka untuk persiapan keberangkatan baik dari segi ibadah maupun dari segi dokumen. Beberapa kali pun saya bermalam di rumahnya untuk menyelesaikan dokumen-dokumen keberangkatan, khususnya dalam pencarian hotel dan tiket pesawat dengan harga miring sebab pada bulan tersebut semua harga mulai naik. Visa kami bertiga pun belum juga bisa diurus sebab masih menunggu salah satu diantara kami mendapatkan izin kerja hingga H-7 idul fitri. Di antara gelapnya malam, saya coba lagi untuk mengajukan visa namun kali ini saya dahulukan untuk mengurus visa kedua kawan saya terlebih dahulu. Berhasil, Alhamdulillah. Visa mereka berdua sudah terbit dan langsung saya kirimkan pada mereka untuk berbagi kebahagiaan. Namun qodarullah, justru visa saya tidak bisa keluar, yang entah dimana letak permasalahannya. Bahkan saya sudah mencoba untuk melakukan pembelian tiket pesawat lagi dan telah mencoba mengurus visa dari kementerian Saudi langsung namun tetap saja visa saya tidak bisa diterbitkan dan biaya yang sudah saya keluarkan tidak bisa dikembalikan. “Kalian tetap berangkat aja ya, kalau qodarullah saya berangkat ya pasti akan nyusul. Kalau ga, ya sudahlah. Jangan sampai hanya karna saya tidak berangkat, kalian batal berangkat juga”, pesan akhir saya untuk meyakinkan kedua kawan saya yang hampir membatalkan keberangkatan mereka sebab khawatir tidak ada pemandu selama ibadah nanti. Dan, mereka pun pada akhirnya yakin untuk tetap berangkat tanpa saya.

H+1 hari raya Idul Fitri. Tak henti-hentinya kepala saya bising akan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di jiwa, rahasia apa Allah tidak memberangkatkan saya umroh pada bulan Ramadhan ya? Apakah saya pernah menyakiti hati orang lain? Ataukan ada dosa besar yang menghalangi terkabulnya doa? Masa sih Allah tidak mengabulkan doa saya saat umroh kemarin? Hingga saat terbangun dari tidur hari itu, saya tiba-tiba teringat akan doa yang saya panjatkan kala umroh pada tahun baru bahwa saya tidak hanya memanjatkan “umroh pada bulan Ramadhan yaa Rabb”, melainkan ada tujuan utama di balik doa saya tersebut “sebab pahalanya setara dengan menunaikan ibadah haji”. Eh, apakah jangan-jangan ini adalah salah satu tanda bahwa Allah meminta saya untuk daftar haji dari Azerbaijan ya? Detik itu juga saya mencari-cari di internet terkait keberangkatan haji dari Azerbaijan. Dimulai dari biayanya, siapa yang memberangkatkan, rombongannya, persyaratannya, hingga travel yang mengakomodasi keberangkatan jamaahnya. Saya bahkan melakukan sholat istikharah untuk mencari agen keberangkatan haji tersebut sebab dikhawatirkan adanya penipuan meskipun saya tahu bahwa Azerbaijan adalah negara dengan tingkat kriminalitas yang sangat rendah.

Dapat. Saya mulai menghubungi beberapa travel keberangkatan haji di Azerbaijan untuk menanyakan apakah bisa mahasiswa asing bergabung dalam rombongan mereka dengan Bahasa Azeri. Kebiasaan orang Azeri yang menggunakan voice note pun pada akhirnya membuat saya meminta bantuan pada kawan Azeri saya sebagai translator. Hal ini saya lakukan juga untuk mengurangi kemungkinan adanya penipuan sebab biaya yang harus dikeluarkan nanti tentu tidak sedikit di samping adanya dokumen-dokumen pribadi yang harus dibagikan. Tidak bisa. Pendaftaran haji dari Azerbaijan sudah ditutup. Pada akhirnya saya mengurus perpanjangan paspor di KBRI sebab masa aktif paspor saya akan habis sekitar 8 bulanan lagi. Ya, hitung-hitung sebagai salah satu upaya siapa tahu Allah kasih jalan tiba-tiba berangkat haji. Pikir saya kala itu.

Masih ada 1 travel lagi yang belum merespon pesan saya. Pada akhirnya, sebagai alasan keamanan pula, saya meminta tolong pada bagian protokoler KBRI yang merupakan orang Azeri untuk membantu bicara melalui telepon pada agen travel tersebut agar jawaban dapat saya peroleh lebih cepat. Sebab travel sebelum-sebelumnya berkata bahwa pendaftaran sudah ditutup. Masih bisa. Namun saya harus membawa orang Azeri saat mengumpulkan dokumen sebab terkendala bahasa dan alasan keamanan (lagi). “Tapi kalau mau, saya ada kontaknya pengurus haji. Kamu bisa bahasa Arab kan?”, sahut beliau. Saya pun mengiyakan.

Saat itu juga saya langsung menghubungi kontak tersebut dengan Bahasa Arab, sebab beliau kurang mahir berbahasa Inggris dan saya kurang pandai berbahasa Azeri. Langsung direspon. Beliau langsung meminta saya untuk mengirimkan dokumen berupa paspor dan TRP (Surat Izin Tinggal), namun tidak lagi direspon. Keesokan harinya, saya mencoba mencari alamat kantor beliau dan langsung saya kunjungi dengan membawa kedua dokumen tadi. Maklum, saya hanya ingin agar kekhawatiran saya lekas hilang sebab pendaftaran haji melalui travel-travel sudah ditutup. Beliau pun menyambut saya dengan hangat dan penuh hormat sambil langsung mengangkat genggam teleponnya untuk menghubungi seseorang, dan bertanya “Kamu sunni atau syi’ah” lalu saya jawab “Sunni”. Hal ini memang sangat mereka butuhkan untuk pengelompokan jamaah haji agar sesuai dengan mutowwifnya pula.

Seseorang yang ditelponnya pun datang dan ikut menyambut saya dengan Bahasa Arab, yang ternyata beliau adalah ketua majlis ulama di Azerbaijan yang mengurus keberangkatan seluruh jamaah haji dan umroh dari negara ini. Sambil memasukkan data diri saya di komputernya, beliau mengajak saya berbincang hangat dan menyampaikan kesan baiknya ‘Kok bisa-bisanya pelajar Indonesia di negeri orang, sendirian, perempuan pula berani-beraninya haji dari Azerbaijan sedangkan dia cuma bermodalkan Bahasa Arab dan Inggris. Pun, hanya sedikit orang Azeri yang bisa berbahasa Inggris’. Sayapun hanya tersenyum sambil berkata “qodarullah”, dan disambut pula dengan tawa. Usai memasukkan data diri dan melakukan pembayaran secara cash, saat saya hendak berjalan keluar ruangan tiba-tiba beliau memanggil saya kembali, “Brilliant, ini ada sisa kelas bisnis. Kau kan mahasiswa, mau mengisinya kah?”. Saya hanya terdiam sambil dalam hati berpikir ‘ah, ingin sekali. Kapan lagi bisa upgrade business class gratis saat haji pula. Tapi orangtua saya belum pernah, saya tak ingin mendahulukan beliau’. “Kalau berubah pikiran langsung kabari saya saja ya, saya tunggu hingga hari H keberangkatan”, sambungnya. Kemudian beliau juga menyampaikan bahwa saya akan dihubungi kembali maksimal 7 hari lagi saat saya bertanya bagaimana proses selanjutnya.

Saat itu, kondisi saya masih bingung apakah semua orang yang daftar haji di Azerbaijan pasti akan berangkat? Apakah ada kemungkinan saya tidak dapat visanya sebab saya mahasiswa asing? Dan segala macam pertanyaan lainnya yang hanya dapat saya simpan sendiri sebab saya pun tak tahu harus bertanya pada siapa. Namun saat itu, saya hanya memiliki keyakinan yang kuat bahwa tidak mungkin Allah membiarkan saya membayar sekian banyak uang tapi visa haji tidak keluar setelah segala macam proses yang terjadi. Pun, pendaftaran haji yang pada awalnya ditutup ternyata setelah berambisi gila untuk langsung menghadiri kantor pusat nyatanya Alhamdulillah masih bisa terdaftar dengan penuh kemudahan. Ups, hampir lupa saya sampaikan. Itu adalah kali pertama saya bertemu dengan orang Azeri yang fasih berbahasa Arab dan sangat begitu baik dengan ketulusannya dan seketika itu juga pandangan saya terhadap orang Azeri berubah. Ya, di samping adanya kenyataan bahwa saya selalu merasa seperti bersama keluarga sendiri setiap kali bertemu penutur Bahasa Arab.

Di tengah sedang Video Call dengan orangtua saya, tiba-tiba pesan baru masuk dari ketua MU tersebut. Visa haji saya keluar, Alhamdulillah. Di waktu yang tepat dengan kebersamaan bersama orangtua, kami bersujud syukur atas kuasaNya Allah yang sedemikian dasyatnya. Beberapa menit kemudian saya mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal yang ternyata adanya mutowwif saya. Saya pun diminta untuk menemuinya di salah satu masjid terbesar di Baku. Itu adalah kali pertama manasik haji dilakukan dan tentu saja dengan bahasa Azeri. Usai memberikan materi dan 90% jamaah sudah meninggalkan masjid, saya menghampiri mutowwif tersebut dan bertanya dengan Bahasa Azeri “Apakah kau bisa berbahasa Inggris atau Arab?”. Beliau pun ternyata menjawab tidak. Beruntungnya, salah satu jamaah bisa berbahasa Inggris dan bersedia untuk menjadi translator kami berdua. Pada akhirnya mutowwif tersebut menyampaikan bahwa saya akan dialihkan pada jamaah kawannya di masjid lain yang bisa berbahasa Arab agar pelaksanaan ibadah haji saya dapat jauh lebih mudah. Kawannya pun langsung menghubungi saya beberapa waktu kemudian dan meminta saya untuk menemuinya di masjid tempat ia menjadi imam beberapa hari kemudian. Ups, dan sebab hal ini juga pada akhirnya saya melakukan manasik haji sendiri dengan kedua orangtua saya melalui Video Call setiap hari hingga hari keberangkatan. Sebab lainnya, ialah sebab masyarakat di sini termasuk mutowwifnya bermadzhab Hanafi dan keluarga saya bermadzhab Syafi’i, pada akhirnya manasik ini saya butuhkan untuk menghindari kesalahpahaman saat adanya perbedaan. Sebab salah satu kunci utama haji mabrur, berawal dari manasik yang sempurna. Allahummaj’al hajjana hajjan mabruron.

Singkat cerita, sebab pergantian mutowwif tersebut pada akhirnya keberangkatan saya diubah H+1 dari jadwal sebelumnya. Bandara Heydar Aliyev saat itu penuh dengan para jamaah haji yang, entahlah, mungkin memang pada waktu tersebut penerbangan sudah dikhususkan bagi para jamaah haji. Saat melakukan check in, saya bertemu kembali dengan pengurus administrasi yang saya temui di kantor saat itu, yang kemudian beliau mengenalkan saya pada beberapa kerabatnya dari kalangan business class yang sepertinya juga para pejabat “Ini dia mahasiswi Indonesia tapi haji dari Azerbaijan” lalu saya sambut dengan senyuman.

Mungkin juga sebab faktor jamaah yang jumlahnya sedikit dan tidak sebanyak di Indonesia sehingga akomodirnya jauh lebih mudah, setibanya di Bandara Jeddah kami langsung disambut dengan para petugas negara. Dilarang membawa barang bawaan sendiri, diberikan buku agama berbahasa Arab-Azeri-Turkish, disambut dengan kenikmatan kopi yang diberikan secara gratis, makanan ringan, air zam-zam, hingga transportasi bus yang sangat nyaman. Petugas dari Saudi pun langsung membagikan ID Card Nusuk pada kami sebagai pengganti paspor sebab paspor kami dikumpulkan di pusat, di samping mutowwif yang membagikan kamar kami selama di Makkah sambil berteriak “Jangan macam-macam, ini adikku dari Indonesia dia pandai berbahasa Arab dan Inggris” sambil menunjuk saya. (Baiklah, kisah spiritual dengan mutowwif ini akan saya bagikan di kisah selanjutnya). Pun setibanya di hotel, kami kembali disambut dengan makanan ringan, dan ID card berwarna merah beserta gelang haji khas bagi jamaah dari kawasan Caucasus.

Malam itu juga kami langsung melakukan Towaf Qudum bersama-sama dan serangkaian ibadah lainnya. Sang mutowwif pun juga menyampaikan beberapa hal terkait kegiatan kami selama di Makkah sebelum puncak haji berlangsung, kemudian dilanjutkan dengan segala macam hal yang perlu kami ketahui terkait akomodasi dan transportasi dari dan menuju hotel. Poin utamanya, sebab haji merupakan hasil kerjasama antar negara, sehingga segala macam hal termasuk makanan di hotel sudah disesuaikan dengan budaya negara kami berasal. Yang demikian, makanan saya sehari-hari selama di sana termasuk snack yang disediakan merupakan makanan khas Azerbaijan dan saya termasuk orang yang tak pernah mempermasalahkan terkait hal itu.

Puncak haji. Seluruh jamaah bersama-sama menuju Mina-Arofah-Muzdalifah-Mina yang di seluruh tempat tersebut Alhamdulillahnya kami difasilitasi dengan tenda yang sangat nyaman, kasur yang empuk, ruangan yang luas dan dingin, dan yang paling penting bagi saya serta paling saya syukuri ialah tenda kami selalu dipisah antara jamaah laki-laki dan perempuan. Dimana hal tersebut tidak didapatkan apabila berangkat dari Indonesia. Pun saat di Muzdalifah, seluruh jamaan haji dari Azerbaijan sudah disediakan tempat khusus dengan karpet yang tebal sehingga seluruh jamaah merasa nyaman. Yang mana dengan demikian, secara fasilitas akomodasi dan transportasi, saya sangat bersyukur Allah berikan kesempatan berangkat dari negara ini. Pun secara hablu minannas, seluruh jamaah haji di rombongan khususnya mutowwifnya seolah merasa sangat bertanggung jawab atas keamanan dan kenyamanan saya, dimana hal tersebut selalu mereka tanyakan tanpa henti. Ya, mungkin sebab saya merupakan jamaah paling muda, sendirian pula saat itu.

Email dari kampus masuk. Jadwal sidang thesis terbuka saya sudah keluar dan seluruh dokumen sudah harus diserahkan pada dekan saat itu juga. Pada akhirnya saya meminta keringanan dan meminta Hanhae (kawan belajar saya) untuk membantu mencetak thesis dan beberapa dokumen lainnya serta menyerahkan pada dekan. Ah, kalau-kalau dia tahu bahasa Indonesia. Dear Hanhae, terimakasih banyak!. Anyway, sidang thesis terbuka saya dijadwalkan tepat satu minggu sebelum jadwal tiket kepulangan saya ke Baku. Qodarullah kedua jadwal tersebut tidak bisa diganti meskipun saya sudah menghubungi beberapa pihak. Di sisi lain, ketua MU dan mutowwif saya pun beberapa kali meyakinkan saya untuk tetap melanjutkan perjalanan hingga ke kembali ke Baku dari Madinah yang tentu saja membuat saya sangat dengan berat hati meninggalkan kota suci tersebut lebih cepat. Orangtua saya pun mengingatkan sebab telah dilaksanakannya seluruh rangkaian haji dengan sempurna dan jadwal sidang thesis terbuka yang terjadi tepat setelah itu semua saja, itu sudahlah merupakan nikmat Allah yang sangat begitu besar. Benar saja, tidak terbayang bagaimana jikalau sidang thesis terbuka saya dijadwalkan sebelum rangkaian haji selesai, Yassalam.

Malam itu juga pada akhirnya saya menyampaikan keputusan akhir saya pada ketua MU dan mutowwif bahwa saya harus kembali ke Baku terlebih dahulu sebab akan adanya ujian. Beliau pun kemudian memberikan kembali paspor saya serta kurma muda sebagai buah tangan, dan menyampaikan pada seluruh jamaah atas kepulangan saya tersebut. Pun pada akhirnya, malam itu juga sang mutowwif dan seluruh jamaah haji ikut mengantarkan saya menuju taxi di depan hotel. Seolah tak ingin membiarkan saya sendiri, Qodarullah, terdapat dua jamaah lainnya yang juga harus kembali ke Baku terlebih dahulu dan satu pesawat dengan saya sehingga kami bertiga dapat bersama-sama kembali ke Baku yang qodarullah pula beliau dapat berbahasa Inggris. Pun selama menunggu pesawat di bandara Jeddah kami sempat berbincang-bincang sambil menikmati hidangan makan malam yang beliau berikan pada saya.

Udara kota Baku kembali terhirup melalui hidung saya. Pertanda, perjuangan kembali dimulai. Bagaimana tidak, keesokan harinya ialah hari dimana saya harus menghadapi sidang thesis terbuka. Yang, Alhamdulillah berjalan dengan sangat lancar bahkan di luar ekspektasi saya.

Kisah perjalanan ini tidak lain merupakan pengalaman pribadi saya yang boleh jadi berbeda dengan pengalaman-pengalaman orang lain meskipun dengan kesempatan yang sama. Pun ia dituliskan semoga tanpa menimbulkan segala macam perasaan yang dimurkai Allah hingga murni dapat tersampaikan dengan baik dan dapat diambil pelajaran darinya. Semoga sang pembaca juga lekas Allah berikan kesempatan untuk menunaikan rukun islam yang terakhir dengan caraNya dan dalam keadaan terbaik hingga berakhir dengan kata “Mabrur”. Sekian.

Hajj 1445H/2024

-Brilliant Windy Khairunnisa-

 

Rabu, 08 Januari 2025

Keyakinan Gila Menuju Baitul Maqdis

Wajah yang tegang terpaku, sorot mata yang kosong, seolah bumi berhenti berputar sepersekian detik, kemudian pipi mulai terbasahi oleh air mata haru tiada henti.

"Nak, kami tidak bisa berkata-kata lagi. Padahal kan kau masih menjadi tanggung jawab kami, mengapa harus kau berikan hadiah sedemikian rupa?", ujarnya dengan suara yang terisak oleh tangisan.

Sejak kecil, saya sangat menyadari dan berani mengakui bahwa karakter yang saya miliki sangat jauh berbeda dengan saudara-saudara kandung saya yang lain dimana bentuk kasih sayang dengan mudah dapat mereka sampaikan melalui perilaku yang mesra terhadap orangtua. Mengetahui kekurangan itu, pada akhirnya saya selalu mencoba untuk mencari cara lain untuk membahagiakan beliau selain melalui prestasi di bidang akademik ataupun non-akademik yang saya yakin dari situ dapat membantu menaikkan derajat beliau di hadapan masyarakat. Sekitar tahun 2012, almarhum kakek saya Allah berikan kesempatan untuk mengunjungi Baitul Maqdis di Palestina pada musim dingin meskipun usianya sudah tak lagi muda kala itu. Semangat beliau dalam beribadah sampai tanpa terasa membasahi halaman dengan aliran darah yang mengalir dari telapak kakinya, tak kuasa menahan suhu dingin yang memecahkan pembuluh darah di kulit. Kemudian memberi pesan pada orangtua saya, agar dapat mengunjungi salah satu masjid yang diutamakan untuk dikunjungi selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu untuk semakin memperkuat iman kepada kuasaNya. Pesan itu sampai pada telinga saya, membuat saya selalu mebayangkan agar kedua orangtua saya benar-benar tiba pada Masjidil Aqso tanpa berpikir bagaimana cara beliau dapat tiba di sana dengan situasi dan kondisi geopolitik yang sedang tidak baik-baik saja.

Pada tahun 2019, saya mendapatkan undangan untuk pergi ke Pakistan secara gratis. Anggap saja itu adalah salah satu ambisi saya untuk memperbanyak pengalaman di luar negeri secara gratis agar dapat mempermudah jalan saya mendapatkan beasiswa untuk jenjang S2. Ya, sejak awal perkuliahan S1 saya mendapatkan beasiswa fully funded dari prestasi Pencak Silat yang sudah saya jalani sejak duduk di jenjang sekolah dasar. Mungkin itu adalah ganti terbaik dari Allah sebab saya harus mengikuti permintaan ayah saya untuk membatalkan beasiswa ke luar negeri yang sudah saya dapatkan sekitar 2 bulan setelah mendapatkan ijazah jenjang SMA. Yang pada dasarnya, salah satu alasan saya ingin kuliah jenjang S2 di luar negeri tidak lain ialah agar saya dapat jauh lebih mudah memberangkatkan kedua orangtua saya menginjakkan kaki di Masjidil Aqso, agar penghasilan kerja saya dapat fokus untuk menggapai hal itu sebab biaya hidup saya sudah ditanggung oleh beasiswa. Keinginan kuat itu kemudian saya sampaikan pada status WhatsApp tanpa mengutarakan tujuannya secara spesifik. Di tahun 2022, saya membuat status ucapan 'Happy Anniversary' yang ke 28 tahun pada kedua orangtua saya sambil berujar "Nanti kado anniversary ke 30 tahun di luar negeri ya!" sedang dalam hati saya berdoa dengan kuatnya "Ke Masjidil Aqso yaa Rabb". Di tahun yang sama qodarullah benar-benar Allah kasih saya beasiswa fully funded lagi untuk memulai kuliah jenjang S2 di luar negeri, saat itulah semakin penuh keyakinan saya bahwa mungkin memang Allah berikan saya kesempatan untuk benar-benar membawa kedua orangtua ke Masjidil Aqso.

Semakin berjalannya kehidupan di Azerbaijan, semakin ada saja rezeki bertubi yang Allah berikan melalui berbagai macam proyek yang terus membuat saya berucap dalam hati "Oh, jangan-jangan memang ini cara Allah untuk mewujudkan mimpi besar itu". Saya berprinsip kuat, untuk tidak akan menikmati pesawat kelas bisnis sebelum kedua orangtua saya merasakannya, untuk tidak ke luar negeri dengan tujuan jalan-jalan (sebab sebelumnya saya selalu ke luar negeri hanya dengan tujuan belajar atau bekerja), yang bukan karena agar saya dapat menabungkan uangnya, melainkan karena ingin benar-benar berusaha memuliakan beliau seutuhnya. Saya juga bermunajat, agar benar-benar telah membawa beliau ke Aqso sebelum saya menikah sebab khawatir niat saya tersebut terhalang oleh prinsip pasangan saya kelak. Bahkan saat saya mendaftarkan haji dari Azerbaijan, saya menolak tawaran petugas haji untuk mendapatkan free business class hanya dengan satu alasan 'orangtua saya belum merasakannya'. Seiring berjalannya waktu, kawan saya yang sudah berkeluarga kemudian mengingatkan. Ujarnya, seorang suami akan mudah cemburu terhadap istrinya sekalipun pada orangtua istrinya sendiri. Ya, meskipun hingga saat ini saya tidak percaya akan hal itu, namun pada saat itu saya langsung menambahkan segelintir doa "Yaa Rabb sebelum menikah, sebelum usia seperempat abad, dan sebelum saya bertemu dengan calon suami, saya sudah membawa kedua orangtua ke Aqso yaa Rabb", seolah itu adalah bentuk puncak rayuan terkuat yang saya panjatkan saat itu.

Maret 2024, terbayar lunas untuk keberangkatan kedua orangtua saya ke Masjidil Aqso. Keberangkatan akan dilaksanakan pada akhir bulan Agustus 2024, sengaja saya pilih tanggal tersebut sebab menurut perhitungan, saya sudah tiba di Indonesia sebelum itu. Haru tiada tara saat kwitansi pembayaran telah saya terima. Pembelian tiket pesawat kelas business yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya, ternyata dapat saya lakukan dengan tangan dan jerih payah saya sendiri hasil dari keyakinan yang kuat terhadap kuasaNya Allah. Namun siapa sangka, seolah menguji kesabaran saya, tepat satu hari setelah seluruh rangkaian ke Aqso saya lakukan, salah satu akun e-money saya tersadap oleh orang yang tak bertanggung jawab. Hanya menyisakan 500 rupiah di dalamnya. Dan itu adalah satu-satunya akun uang rupiah saya tersimpan, sebab saya tidak memiliki akun bank di Indonesia sama sekali, sebab akun bank di luar negeri adalah satu-satunya yang aktif saya miliki. Namun di balik itu semua, saya yakin bahwa Allah pasti akan mengganti segala kesedihan dan kepedihan yang dialami oleh hambaNya dengan kebahagiaan dan senyuman tak terkira hingga menghasilkan kesyukuran yang tiada hentinya.

Benar saja, tepat pada tanggal 25 April 2024, dengan caraNya Allah saya telah melunasi biaya pendaftaran haji dari Azerbaijan yang padahal sebelumnya tiada informasi sama sekali untuk itu. Namun Allah, berhasil menuntun saya untuk bergerak menuju kantor pusat hingga saya dapat menunaikan haji dari negara tersebut.

H-28 saya tiba di Indonesia. Saya baru sadar bahwa nama yang tercantumkan pada paspor kedua orangtua saya hanyalah satu suku kata, sedangkan untuk mendapatkan visa di negara-negara Timur Tengah khususnya Palestina, suku kata nama minimal harus berjumlah tiga. Harus mengurus di kantor imigrasi untuk memberikan nama tambahan, sedangkan rencana awalnya saya tak ingin memberi tau kedua orangtua saya terkait hadiah anniversary mereka sebelum hari H perayaan tersebut dan saya tak ingin membuat beliau repot-repot jauh ke imigrasi untuk mengurus dokumen. Ah, andai saja mengurus penambahan nama itu dapat saya lakukan dari Azerbaijan. Namun manusia tak elok untuk berandai-andai. Pada akhirnya saya terpaksa harus mengatakan terkait hadiah tersebut kepada orangtua saya melalui Video Call, sebab untuk mengurus penambahan nama di imigrasi tidak bisa diwakilkan.

Masih teringat sangat begitu jelas dalam memori saya bahkan hingga detik ini bagaimana ekspresi beliau saat mendengar bahwa beliau akan berangkat menuju Masjidil Aqso. Ya, meskipun tentu saja tak lepas dari kekhawatiran beliau terkait faktor keamanan sebab keadaan di sana yang belum meredam pada berita-berita yang tersebar. Namun saya tak pernah melunturkan keyakinan pada kuasaNya, bahwa segalanya sudah pasti Allah siapkan secara keseluruhan tanpa kata 'tapi'.

Hari H keberangkatan dengan Mesir sebagai negara tujuan pertama sebab jalan menuju Baitul Maqdis hanya dapat ditempuh melalui jalur darat. Anggap saja itu adalah salah satu cara saya agar kedua orangtua saya dapat melihat negara pertama tempat saya belajar dulu. Saya masih tidak menyangka, sebegitu besarnya kasih sayang Allah pada hambaNya. Yang tadinya hanya saya rencanakan perjalanan ini hanya untuk kedua orangtua saya, justru Allah kasih saya kesempatan untuk ikut juga dimana hal ini saya manfaatkan untuk terus mendokumentasikan setiap pergerakan kedua orangtua saya dalam perjalanan cintanya selama 30 tahun. Detik demi detik, langkah demi langkah, tawa demi tawa seluruhnya saya dokumentasikan dengan rapi melalui segenggap ponsel yang tak hentinya saya bawa. Hingga saya pun hampir lupa untuk mendokumentasikan diri saya sendiri saking bahagianya melihat beliau bahagia.

Usai perjalanan panjang, saat makan siang tiba sebelum perjalan kembali ke Jakarta tiba-tiba ayah saya berujar "Sudah lama tak melihat dia sebahagia itu" sambil memandang ibu saya dengan penuh senyuman bahagia nan cinta. Saat itu juga hati saya seolah terhanyut oleh ketulusan cinta di antara keduanya. Saya tau, bahwa perjalanan ini mungkin memanglah perjalanan yang sederhana di pandangan manusia, atau bahkan terkesan berlebihan sebab sebegitu 'gila' nya saya berdoa memohon kepadaNya bahkan menunda segala macam keinginan saya sendiri untuk membeli atau melakukan perjalanan sebelum itu. Namun dengan melihat wajah bahagia yang tersorot indah dari kedua orangtua saya, seolah saya melihat masa depan yang penuh dengan cahaya terang benderang, seolah segala macam keinginan-keinginan saya sudah tercapai dengan penuh kemudahan, dan tentu saja, tembok tebal yang saya bangun sendiri kali ini sudah benar-benar saya robohkan dan menggantinya dengan jalanan yang kian mulus nan dapat melihat segala arah. Pertanda, bahwa segala hal yang saya batasi pada diri saya sebelumnya seperti jalan-jalan tanpa tujuan belajar dan kerja, fasilitas kelas bisnis, atau bahkan pernikahan sudah dapat saya terima dengan tangan terbuka. Sisanya, tentu saya pasrahkan itu semua padaNya yang Maha Tahu segalanya. Sebab saya yakin, bahwa kasih sayangNya, tiada dua.

Kalau kata Rasulullah SAW kan, jikalau kau ingin melihat Allah tersenyum padamu, maka buatlah ibumu (orangtuamu) tersenyum padamu. Maka yaa Rabb, bahagiakanlah selalu kedua orangtuaku, agar dapat selalu ku lihat Engkau tersenyum padaku. Dengan ini, saya akui bahwa saya sendiri pun tak tau apa tujuan saya melakukan segala macam hal yang saat ini saya lakukan selain untuk membahagiakan kedua orangtua saya. Sebab saya tau bahwa ridho Allah ada pada ridhonya, lalu bagaimana bisa ridho itu dapat dicapai selain dengan kebahagiaannya?

Terdengar klise, namun sebagaimana kata sastrawan bahwa "hanya pecinta yang tau rasanya cinta itu sendiri". Maka mungkin, inilah kisah cintaku yang sangat begitu besar padaMu, dengan orangtua sebagai wasilah untuk menuju itu. Semoga, selalu Engkau ridhoi setiap jalanku.

Terlepas dari kisah saya pribadi, anggap saja bahwa perjalanan saya ini adalah salah satu bukti atas kekuasaanNya Allah yang apabila berkata "Jadilah", maka pasti jadilah ia. Sebab saat bermimpi lima tahunan yang lalu, saya hanyalah sekadar mahasiswi biasa yang sekadar mengantongi beasiswa dan kerja sampingan alakadarnya. Namun jikalau Allah berkehendak, sudah pasti ada saja jalannya :).

Sekian saja. Terimakasih sudah mau menjadi wadah bagi kisah ini.


Mesir-Jordan-Palestina, 20 Agustus - 2 September 2024.

-Brilliant Windy Khairunnisa-