Rabu, 22 Maret 2023

Ramadhan yang Baru

Ramadhan di tahun 1444H kali ini sungguh baru, terlebih sebab waktunya yang bersamaan dengan beberapa perayaan pada agama lainnya seperti Hari Nyepi di Indonesia dan Hari Novruz bagi kaum Majusi dimana juga dirayakan dengan begitu meriah di lokasi saya menimba ilmu saat ini, Azerbaijan.

Sebab adanya perayaan Novruz, perkuliahan kami diliburkan hingga satu minggu lamanya. Dimulai dari tanggal 18 hingga 26 Maret 2023, waktu yang cukup panjang apabila hanya berdiam diri di rumah khususnya bagi para perantau. Pada akhirnya kawan sejawat asal Indonesia di Azerbaijan, yang jumlahnya dapat dihitung jari inipun bersepakat untuk mengadakan silaturahim kecil-kecilan selama liburan sembari menikmati kota Baku di samping adanya pekerjaan yang sedang kami pikul. Hingga semalam, kami sepakat untuk mengistirahatkan hari ini dari bermain bersama sebab esok hari merupakan hari pertama Bulan Ramadhan.

Malam pun tiba. Para anggota grup mulai ramai mendiskusikan dimana mereka akan melaksanakan Shalat Tarawih. Ciri khas suatu negara sekuler seperti Azerbaijan. Cukup jarang ditemukan adanya masjid, di kota besar seperti Baku sekalipun. Kalaupun ada, akan ada batas waktunya sebab tidak dibuka selama 24 jam sebagaimana masjid-masjid di Indonesia. Kalaupun tidak ada batasan jam bukanya, jarang ditemukan adanya sholat berjama’ah. Kalaupun ada jama’ahnya, hampir tidak ada perempuannya. Sungguh Ramadhan yang kian baru terasa.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk menunaikan Shalat Tarawih di rumah sebab mendengar kabar beberapa waktu silam, bahwa di negara ini tak ada jama’ah perempuan yang ikut menunaikan Shalat Tarawih di masjid. Namun semuanya semakin terasa kebaruannya saat saya hendak berdiri menunaikan Shalat Tarawih. Tiba-tiba memori masa lalu saya hadir dengan penuh kepekatannya. Setiap kali bulan Ramadhan tiba, saya selalu berdiri menjadi imam shalat tarawih di rumah bersama seluruh keluarga saya sebab kami perempuan semua kecuali ayah saya. Adapun di keluarga kami, menjadi kewajiban bagi seorang laki-laki untuk menunaikan shalat di masjid. Pun demikian, beliau seringkali menjadi imam masjid atau langsung melanjutkan tadarus bersama dengan mikrofon masjid yang suara merdunya terdengar hingga telinga anak-anaknya yang sedang di rumah ini. Ah, membuat saya merindukan suara merdu ayah saya saat melantunkan ayat-ayatNya.

Teringat besarnya suasana Bulan Ramadhan di Indonesia, tak terasa melelehkan air mata saya. Sahut-sahut bilal pada pergantian shalat tarawih, lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan merdunya pada setiap masjid, meriahnya suasana para warga membangunkan sahur, hingga kedermawanan para ahli shodaqoh yang berebut membagikan ta’jil hingga dibutuhkan adanya jadwal bergilir agar sama-sama kebagian pahala, serta suasana-suasana indah lainnya yang seringkali menggetarkan jiwa nan meningkatkan keimanan. Ah, rasanya baru kali ini saya merindukan negara saya sendiri Indonesia dengan suasana Ramadhannya yang penuh akan nuansa islami. Ramadhan, yang penuh dengan kebaruannya.

Namun demikian, saya pun kembali teringat dengan petuah ayah saya kala itu. “Jikalau kau tinggal di negara islam layaknya negara-negara di Timur Tengah, atau di negara dengan masyarakat mayoritas Islam sebagaimana Indonesia dan kau melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangannya, itu wajar, itu sudah biasa. Namun jikalau kau tinggal di negara sekuler dimana sekelilingmu bukanlah orang-orang yang melaksanakan perintahNya tapi kau tetap melaksanakan sebagaimana saat kau di negara islam, itulah pembedanya. Sebab boleh jadi itu yang akan menjadi wasilahmu memasuki jannahNya”. Mengingat perkataan beliau, cukup menenangkan hati saya yang kian lusuh akan suasana. Terlebih, usai mengetahui bahwa suasana Bulan Ramadhan di Inggris jauh lebih meriah dengan dekorasinya yang indah. Ups, namun manusia tak boleh membandingkan dua elemen yang sangat berbeda jauh dari akarnya. Pun demikian, dari sini saya belajar bahwa pada akhirnya meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan kesyukuran kita padaNya tak melulu dapat diperoleh melalui lingkungan yang sangat islami sebagaimana di Timur Tengah. Manusia juga dapat memperoleh itu semua di manapun ia berada, di negara sekuler sekalipun, selagi ia mau meraih semua itu dan mau mengambil pelajaran darinya. Inna fii dzalika la-aayaatil liqomi yatafakkaruun (sesungguhnya dengan demikian terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkannya).

Sekian saja untuk kali ini. Semoga pada Bulan Ramadhan kali ini, Allah tambahkan kami semua kekuatan, keimanan, ketaqwaan, kebaikan, kebahagiaan, kesyukuran, dan segala-galanya yang baik hingga dapat melewati bulan suci ini sebagai manusia yang benar-benar kembali suci dari segala macam dosa. Hingga betul-betul mendapat rohimNya, dan meraih jannahNya dengan penuh kesyukuran dan kenikmatan tak terkira Aamiin.

Sampai jumpa, pada kisah-kisah selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Hormat Saya,

Oyek Jiddan.