Sabtu, 03 September 2022

Jadi Begini Ceritanya: 5 Tahun Pencak Silat Alkautsar Putri

Agaknya tak biasa bagi saya menuliskan terkait proses yang telah terjalani khususnya terkait Pencak Silat Al-Kautsar Al-Gontory Putri atau yang biasa dikenal sebagai Martial Arts Alkautsar for Girls (MAAG) secara internasional. Namun demikian, sebagai bagian dari penghormatan saya di usia MAAG yang ke 5 tahun, izinkan saya membagikan kisah bagaimana ia terbentuk. Mungkin tulisan ini cukup panjang, namun semoga tetap menuai keberkahan dan kemanfaatan bagi para pembaca dari setiap katanya.


5 Juli 2017, untuk kali pertama saya menginjakkan kaki di Lombok Timur untuk menunaikan tugas saya. Secara mudah, sebut saja ia merupakan tugas kerja yang wajib saya tunaikan. Beberapa saat sebelum keberangkatan, saya sempat bimbang dan bertanya pada Ibu saya "Saya tak memiliki kafa'ah apapun, bagaimana saya dapat bertahan di sana?". Saat itu beliau menjawab, "Kau dapat memanfaatkan hal paling kecil sekalipun yang kau miliki, pencak silat misalkan". Kata-kata sederhana itu saya pegang seerat mungkin hingga saat saya diajak berkeliling kawasan sekitar tempat tugas, saya menganalisa bahwa sebaik dan semulia apapun suatu tempat, pasti akan Allah hadirkan orang-orang yang kurang baik untuk menguji ketaqwaan penghuninya. Saat itu pula saya mengingat kembali perkataan Ibu saya dan bertekad, "saya harus berbuat sesuatu". Kami pun diajak berkeliling menggunakan kendaraan beroda empat dimana Ayah saya (yang saat itu ikut mengantar) duduk tepat di samping Bapak Pengasuh Pondok. Di pertengahan beliau yang sedang asyik membicarakan tinju dan beladiri, salah satu anak beliau yang duduk tepat di samping saya seketika bertanya "Ayahnya suka beladiri?", saya pun menganggukkan kepala. "Kamu juga?", saya pun tersenyum menyetujui. 

Singkat cerita, pondok akan mengadakan acara tepat satu minggu setibanya saya di sana. Saya pun langsung memohon izin untuk mengajarkan para murid pencak silat untuk dapat ditampilkan pada acara perkenalan tahunan nanti dan Alhamdulillah langsung disetujui. Perkumpulan dimulai dan hanya satu orang saja yang ingin mempelajari beladiri saat itu. Agaknya pencak silat bagi perempuan masih tabu kala itu di wilayah tugas saya. Saya pun memberikan sedikit penjelasan, bahwa apapun yang kami lakukan di sini segalanya untuk kebaikan pondok. Birohmatillah, pada akhirnya cukup banyak di antara mereka yang mau dibina untuk berkontribusi dalam pertunjukan pencak silat pertama kali dari kalangan putri.

Memulai segalanya dari 0, memulai dari bagaimana cara menggenggam tangan dan memukul yang baik, cara menendang dengan posisi kaki yang baik, hingga berujung beberapa gerakan seni yang harus mereka hafalkan demi pertunjukan. Waktunya terlalu singkat, tepat di tanggal 12 Juli 2017 kami sudah harus menyunggingkan diri di depan khalayak ramai hingga hanya sempat membina mereka dengan 24 gerakan. Terlalu singkat untuk pertunjukan pembukaan tahunan yang bersifat acara besar. Pada akhirnya saya meminta kesediaan dua kawan saya untuk dapat ikut tampil sebagai seni regu, dimana kami akan fighting namun secara seni. Dalam artian, kami fighting namun ada energi yang harus ditahan hingga tak benar-benar melukai lawan. Mereka pun setuju. Sempat terbesit dalam bena saya kala itu, Ya Rabb ini kali pertama, namun semoga ia tak sekadar lewat saja hingga binasa di kemudian masa. Walhamdulillah, pertunjukan tuntas dengan sedemikian rupa. Paling tidak, senyuman Bapak Pimpinan dan tepuk tangan dari para hadirin dapat mewakili itu semua, meskipun boleh jadi ia merupakan titik munculnya goflah. Beliau pun memanggil saya dan meminta saya untuk tampil kembali seorang diri.

Seiring berjalannya waktu, saya berkoordinasi dan memohon izin pada para pendahulu untuk dapat menjadikan pencak silat sebagai salah satu kegiatan ekstra dengan tujuan utama untuk membentengi para murid perempuan dari hal-hal yang tak diinginkan, upaya menghindari konflik dan amarah, hingga sebagai wadah untuk memberikan pertunjukan pondok pada berbagai acara tertentu. Sebab pada dasarnya, pencak silat tidak hanya sekadar tentang beladiri, melainkan ia juga mengandung unsur olahraga, seni, budaya, hingga nilai-nilai spiritual pada Sang Pencipta yang tidak ditemukan pada perguruan atau olahraga serupa lainnya. Beliau pun menyetujui, hingga Pencak Silat khusus putri diresmikan keberadaannya pada 28 Agustus 2017. Beberapa waktu kemudian saya mulai berpikir, jikalau saya telah menyelesaikan tugas saya, tentu boleh jadi pencak silat akan ikut pergi dan mati. Lalu bagaimana jikalau ternyata hanya inilah yang bisa menjadi wasilah saya selamat di akhirat kelak?. Maka bihidayatillah, saya mulai menyeleksi beberapa murid yang memiliki bakat lebih untuk menjadi "kadiroh" dimana mereka bertugas untuk meneruskan pencak silat hingga akhir hayat khususnya di kawasan ini. Sebab boleh dibilang tugas tersebut tak mudah, saya melakukan beberapa upaya dimulai dari istikhoroh, hingga ujian tulis dan praktek, bahkan dilakukan sumpah. Manusia hanya dapat berusaha, Allah yang menjalankan segalanya. 

Hingga saya berada pada titik dimana beberapa murid 'seolah' meyalahkan saya sebab kesakitan yang mereka alami usai latihan di sore hari. Saya pun mulai instrospeksi, belumkah saya arahkan pada mereka cara yang tepat? Dan saya bertanya pada murid-murid lainnya, namun mereka yang mempraktikkan gerakan dengan tepat tidak merasakan sakit sekalipun. Beberapa hari kemudian orangtuanya datang, saya pun telah mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab apapun yang terjadi jikalau memang itu murni kesalahan saya. Menegaskan, bahwa saya tak pernah memaksa mereka untuk mengikuti pencak silat, bahwa tak ada pencak silat yang tak sakit, sebab ia merupakan bagian dari pembelajaran apabila kejadian tak diinginkan benar-benar terjadi. Tak sekadar pelajaran secara fisik melainkan juga mental. Dan walhamdulillah terlewati sedemikian rupa. Namun saya mulai berpikir keras saat itu, seorang diri sebab memang tak ada yang bisa diajak berdiskusi kecuali pada Rabbi, apakah saya salah memulai sesuatu yang berat seorang diri? Bagaimana jikalau hal ini kembali terjadi bahkan dengan porsi yang jauh lebih besar? Apakah saya harus berhenti di sini saja?. Suatu ketika orangtua saya menghubungi saya bertanya kabar. Saya yang kala itu tak terbiasa bercerita kesulitan saya, akhirnya hanya bertanya "Apakah saya harus berhenti?" tanpa memberitahu apa masalahnya. Dan beliau bicara dengan tegasnya, "Kau memulai untuk siapa? untuk apa? apakah untuk mengunggulkan dirimu di hadapan khalayak? apakah untuk membesarkan namamu? apakah untuk muridmu? ataukah hanya untuk dipandang unggul untuk sosok yang jangan-jangan kau sukai? Sebab memulai sesuatu karna orang lain tentu akan binasa dengan cepat". Bak dihujani introgasi, saya pun mulai berpikir kembali sebab jawaban dari seluruh pertanyaan beliau tersebut ialah satu kata: Tidak. Maka saya mulai membangun hati, berdiskusi kembali dengan Rabbi, dan memulai kembali latihan dengan sepenuh hati.

Tak terasa sudah 2018, sudah masanya saya menyelesaikan tugas kerja saya. Saya pun pergi mengunjungi Bapak Pimpinan guna meminta tanda tangan beliau untuk sertifikat kenaikan tingkat anak-anak pencak silat yang terakhir kalinya saat itu. Usai tiba pada lembaran terakhir sertifikat, beliau seketika bertanya "Lho, kamu ini kan pendiri pencak silat, mana sertifikatmu? sini saya tanda tangani sekalian". Detik itu juga seolah ada batu es yang mencair pada dada saya. Yaa Allah, apakah benar makhluk dhoif yang hanya mencurahkan setitik kebisaannya itu dapat disebut sebagai 'pendiri'?. Namun di saat yang bersamaan, saya mulai menyadari satu hal, bahwa sekecil apapun, setidakberguna apapun aksi yang manusia lakukan, selama di dalamnya ia nyatakan "nawaitu lillahi ta'ala" niscaya Dia lah yang melancarkan, dan membina segalanya. Dimulai dengan menjawab pertanyaan, "Kuda-kuda itu apa zah?", hingga berakhir dengan kata, "Kapan antum ke sini lagi zah?" yang seolah melekat di dada.

Kini 2022, tanpa terasa usianya telah genap 5 tahun dengan total 29 kali aksi pertunjukan. Terus berjalan dengan kawadir yang terus terpilih sebagai penerus pada masanya. Ibaratnya jasad, jiwa dan hati saya seolah tercuci bersih selama tugas saya 5 tahun yang lalu. Sebab ia seolah membina bahkan Allah jadikan wasilah hingga membentuk karakter saya saat ini. Suatu masa, Ibu saya bertanya "Kau hanya bertugas selama 1 tahun, namun mengapa seolah kau telah mengenal tempat dan orang-orang di dalamnya sekian puluh tahun? Apa yang membedakan antara kau saat menuntut ilmu dan saat kau bertugas?". Saya pun menjawab saat itu dengan sedikit menghela napas, "Mungkin karena saat menuntut ilmu, manusia berlomba-lomba untuk meminta dan mendapatkan ilmu sebanyak mungkin. Namun saat bertugas, jiwa manusia menuntut untuk memberikan sebanyak ia mampu memberikan dampak". Ayah saya di lain waktu ikut bertanya, "Darimana kau peroleh kebiasaan baik ini (beliau sebutkan)?", sayapun menjawab dengan beberapa kata kala itu. Kemudian beliau kembali berujar, "Jikalau kau datang ke suatu tempat, dan saat kau kembali ia menambah kedekatanmu pada Allah. Maka itulah yang dinamakan 'lillah'. Kau telah mempelajari konsepnya tanpa kau sadari. Jangan lepaskan tempat itu".

Dengan demikian, terimakasih tak terkira kepada Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Gontory, Al-Ustad KH Muhammad Noor, Al-Ustadzah Yuyum Minwaroh selaku pimpinan pondok, para masayikh pondok, dan seluruh penghuni pondok yang meliputi santriwati dan para jajarannya yang telah memberikan saya kesempatan sedemikian rupa, membentuk karakter saya yang tak ada habisnya, hingga saya berprinsip bahwa setiap yang bernyawa adalah guru bagi saya. Tak peduli muda ataupun tua, hidup ataupun mati, segalanya dapat memberikan pelajaran kehidupan yang berharga. Pun demikian, meski sempat ada keraguan sebab kadiroh yang telah saya bimbing secara langsung mulai tanggal satu per satu dan saya tak tahu betul bagaimana nasib MAAG usai 5 tahun ini, namun saya yakin bahwa MAAG ada dan berdiri "bukan" karena dan oleh saya, melainkan karena dan oleh Allah SWT, maka atas segala upaya dan perjuangan yang telah dilakukan, semoga dan pasti akan Dia jaga dan bina dengan caraNya hingga waktu yang telah Dia tentukan.

Adapun sebagai manusia biasa, nyawa akan mati, nama akan hilang seiring musim berganti. Namun do'a akan kekal abadi, dalam keharibaan Sang Rabbi. Dengan ini, junjungan tinggi do'a saya terus tercurahkan kepada pondok dan para masayikh di dalamnya khususnya dimana beliau-beliau telah Allah jadikan wasilah hingga saya dapat terus tumbuh secara hati, dan jiwa sedemikian rupa. Atas segala kebaikan dan perjuangan, semoga Allah berkahi Pondok Pesantren Alkautsar Algontory dan hadiahkan pada seluruh ahlu nya JannahNya.


Sekian saja.

Hormat Saya,

Oyek Jiddan