Selasa, 16 Agustus 2022

Ternyata Sepenting itu Bertanya Kabar dan Rasa

Salah satu alasan mengapa saya sangat suka mempelajari hal-hal baru dan bertemu orang-orang baru ialah sebab sudah pasti akan menambah modal dalam berpikir secara sistematis. Khususnya, dalam memaknai kehidupan yang sedang saya jalani sembari memperbaiki masa lalu yang agaknya penuh akan garis-garis hitam. Ya setidaknya, dari upaya saya dalam memaknai hidup yang boleh jadi tergolong filosofis ini dapat mengurangi perhitungan amal buruk saya di akhirat kelak.


Sekitar sebulan yang lalu, saya memulai aktivitas saya dalam meneliti bidang keilmuan saya yaitu Diplomasi (Hubungan Internasional). Meskipun ini merupakan pengalaman saya yang ke sepuluh dalam penelitian, namun ini menjadi kali pertama saya yang melibatkan latar belakang manusia dalam pencarian data primer berbasiskan wawancara. Alasan utamanya ialah sebab topik saya akan spesifik membahas Kesehatan Mental. Melakukan beberapa kali wawancara, bertemu beberapa orang-orang yang telah saya kenal cukup lama maupun baru, mendengarkan latar belakang mereka dengan seksama, bahkan di antaranya meminta maaf pada saya sebab beberapa kali tak sengaja berkata kasar (pada sosok dalam masa lalunya) selama proses wawancara berlangsung.

Di antara narasumber, ada yang mengatakan hal yang cukup membuat wawasan saya semakin meluas. Kira-kira seperti ini ujarnya, "Tau ga sih Bril? Kau adalah orang pertama yang menanyakan bagaimana perasaanku secara tulus di akhir percakapan". Sontak saya tersenyum menutupi rasa terkejut yang sedang saya alami. Ternyata sepenting itu ya, bertanya perasaan orang lain dengan tulus.

Pada kesempatan berikutnya, saya mulai mewawancarai narasumber lainnya yang sudah cukup lama saya kenal. Sebagai pembuka, saya mulai proses wawancara dengan bertanya "Bissorohah, kaifa haluk?" (Secara terus terang, bagaimana kabarmu). Tidak menjawab, ia justru meneteskan air mata yang tentu membuat saya sedikit bingung. Saya pun meminta maaf padanya jikalau pertanyaan saya yang baru pembuka itu justru menyakiti perasaannya. Ia pun berujar, bahwa saya tidak salah namun itu adalah kali pertama ia mendapatkan pertanyaan terkait kabar secara mendalam. Biasanya? Pertanyaan kabar hanyalah sekadar basa-basi belaka. Ah, ternyata sepenting itu bertanya kabar dengan tulus.

Seiring berjalannya proses penelitian terkait Mental Health, saya seakan mendapatkan semakin banyak pelajaran kehidupan yang agaknya belum tentu saya peroleh di lain kesempatan. Dari para narasumber ini pula saya mulai berpikir, agaknya inilah sebabnya mengapa kawan-kawan British saya selalu bertanya "Alright?" (Apa kabarmu versi British) setiap kali bertemu orang lain. Inilah alasan di balik Anas Bukhas, podcaster asal UEA selalu bertanya "How are you really doing?" Di awal percakapannya dengan lawan bicara. Sebab bertanya kabar dan perasaan seseorang dengan tulus, setidaknya dapat mengurangi rasa sakit yang ia alami selagi ada. Jadi begini pentingnya menanyakan kabar dan rasa secara tulus.

Namun demikian, agaknya budaya Indonesia menjadikan pertanyaan kabar dan rasa sebagai basa-basi belaka. Sebagai formalitas, hingga tanpa jawaban pun tak mengapa. Dan agaknya itulah yang menjadi alasan mengapa isu kesehatan mental di Indonesia masih tabu. Pun, masyarakatnya seolah selalu mengaitkan kesehatan mental hanya sebatas 'gila', yang pada hakikatnya, isu ini tentu kian luas bahkan mencakup hampir keseluruhan aktivitas hidup manusia.


Ya, sebagai manusia biasa yang tentu memiliki garis hitam di masa lalunya, setidaknya dari sini saya mendapatkan pelajaran berharga. Bahwa menanyakan kabar ataupun perasaan orang lain secara tulus itu bukanlah basa-basi belaka, melainkan ada ikatan kemanusiaan di dalamnya. Sebab sekuat apapun seseorang, ia tetaplah manusia, yang ada masa dimana ia lemah akan perjalanan kehidupan yang acapkali porak-poranda.


So, how are you really doing? And how do you really feel?


Pendek saja untuk kali ini. Semoga bermanfaat. 


Hormat Saya,

Oyek Jiddan