Masih ingat dengan salah satu halaman buku novel fiksi yg pernah saya buat SW? Yang menyatakan tentang COVID 19 yg akan terjadi pada tahun 2020 padahal novel tersebut telah diterbitkan pada tahun 1981?
Semakin maraknya virus ini, semakin banyaknya himbauan di seluruh dunia tentang "menyeramkannya" virus ini pula, membuat saya semakin curiga. Sebetulnya ada apa di balik kejadian ini? Padahal secara medis, penyakit TBC jauh lebih memprihatinkan dibandingkan COVID 19.
Saya pernah membaca buku karya Garry D GRAY pada tahun 2017, saat saya baru saja lulus setingkat SMA.
Ia adalah seorang mantan militer US yg mualaf sebab menyadari betapa dholimnya US, bahkan ia sempat menjadi buronan sebab telah mengungkap kedholiman US dalam bukunya.
Dalam bukunya ia menuliskan, bahwa virus HIV adalah ciptaan US yang sengaja ia buat untuk mempermudah dirinya menguasai dunia. Sudah tau bukan cita-cita terbesar US dari zaman purba? "Ingin Menguasai Dunia".
Perang dagang antara US dan China sedang panas-panasnya. Bahkan US ikut ketakutan dengan cepatnya pertumbuhan ekonomi China.
Oktober 2019, pekan olahraga militer se-dunia. Diadakan di kota Wuhan. US mengirimkan 17 cabang olahraganya ke sana, ada 17 team yang masuk, dengan total 280 peserta atlet. Dan dari mereka, ada yg diutus untuk mengunjungi Pasar Induk Huanan, Wuhan.
Dan dua minggu setelah itu, COVID-19 pertama kali lahir di Wuhan.
Seluruh dunia panik, ratusan ribu nyawa berhamburan, ribuan liter air mata bercucuran, dan kesepian, melanda setiap jalanan.
Saat saya membuka kembali novel fiksi tahun 1981, yang berisikan tentang adanya COVID-19 tahun 2020. Ternyata benar, novel berjudul "The Eyes of Darkness" itu telah diterbitkan di New York yang tak lain adalah bagian dari negara pemilik kekuasaan itu.
Dua hari yg lalu, Abi mengajak saya berdiskusi mengenai polemik yang sedang terjadi di dunia saat ini. Sebab segala sesuatu tidak ada yang kebetulan, setiap kejadian pasti ada pelajaran yang dapat diperbincangkan. Dan COVID-19, agaknya bermula dari kekuasaan. Ada unsur politik yang menjelma menjadi penyakit. Sebab novel fiksi itu tidak mungkin hanya sekadar kebetulan, jelas dengan penulisannya "2020" pula.
Diskusi dengan abi berakhir dengan adanya tanggapan kami bahwa COVID-19 pasti ada unsur politik. Beliau mengaitkan kejadian ini dengan peristiwa 1998, saat Presiden kedua Republik Indonesia tiba-tiba menuruti perintah IMF yang menyebabkan USD yang tadinya hanya 2000an rupiah menjadi 15.000an rupiah, dan hingga saat ini sangat sulit diturunkan kembali.
Dengan adanya COVID-19 yang dapat dikaitkan dengan unsur politik. US tentu dapat memenangkan kuasanya dari China, sebab seluruh dunia telah mengutuknya. Bahkan kawan-kawan saya yang sedang melanjutkan studinya di timur tengah pun merasakan imbasnya. Seluruh orang Asia mendapatkan julukan baru, "Pembawa Corona", dari kawan dekatnya sekalipun.
Namun semoga segala pertikaian ini segera berakhir. Oh, bukan. Bukan pertikaian, melainkan semoga penyebaran Coronavirus ini segera berakhir dan jalanan kembali ramai, aktivitas pencarian ilmu di bangku sekolah dan kuliah dapat terlaksana kembali seperti sedia kala. Dan semoga para manusia kembali lebih takut pada Penciptanya, bukan pada COVID-19 yang kian merajalela.
Salam Hormat Saya,
Oyek Jiddan