Senin, 30 Juli 2018

Nasehat kehidupan

Layaknya seorang puitis yg sedang mengukir kata indahnya diatas kertas putih nan polos, yang harus berulang kali ia salin di atas kertas lainnya tuk menghilangkan coretan yg tlah ia ukirkan. Langit pun seolah ikut serta bersedih. Rintik hujan pun bertabuh indah, bak pianika yg mengeluarkan suara indah nan mempesona. Hingga indahnya sang pelangi, kian hadir melepas kesedihan..
.
Taukah kau mengapa sang mentari dan sang bulan tak pernah muncul dlm waktu yg bersamaan?
Karna sang mentari, tak ingin sang rembulan merasakan terik nya yg begitu dasyat. Hingga sang rembulan terlihat indah di iringi bintang2 yg berkilauan diantara gelapnya sang malam.
.
.
Tahukah kau mengapa lisan di letakkan tak begitu jauh dr telinga?
Agar kau sll mendengar setiap kalimat yg kau ucapkan. Apakah ia bermanfaat ataukah justru menyakitkan, dengan otak yg berada dlm satu kepala tuk berfikir akan kebenaran nya.
.
.
.

#jiwa...
Janganlah kau merasa ragu atas raga yg terkadang terbawa arus kelabu nan berbatu.
Janganlah kau merasa heran atas kejadian yg terkadang di luar fikiran.
Dan janganlah kau merasa kaget, atas diri yg kian membangun banyak target.
.
.
.

#hati...
Janganlah kau merasa bimbang atas sebuah keputusan yg terasa tak seimbang.
Cukuplah Allah yg bisa membagi dengan imbang. Kau terlahir adalah sebagai PEJUANG dan bukan PECUNDANG.
Dan janganlah kau merasa KECIL, karna orang sukses pasti melalui proses yg tak hanya SECUIL dan tak hanya yg banyak protes.
.
.
.
.
Hidup itu berkarya, tak hanya penuh tanda tanya tak berdaya.
Hidup sekali hiduplah yg berarti, bukan hanya makan hati dan berujung pada sakit hati lalu mati.
.
.
Tak perlu kau harus membeli pakaian baru, cukup kenakan baju usang mu dan bersihkan lah seolah baru.
.
Hidup tak hanya mengenai materi, melainkan bagaimana kita bisa bekerja secara sosialitas dan totalitas hingga semua tuntas dengan hasil puas nan mumtas...
.
.
_Oyekjiddan_

Selasa, 10 Juli 2018

Seuntai kata kala itu

Kala itu kegelapan merajut dengan untaian benang yg bersatu padu,, mengelilingi lintasan sinar mentari yg kian menyinari daratan luas sang bumi...
.
Kala itu seolah sinaran mentari tak tampak di penghujung siang, sebab serabut kegelapan yg kian mengitarinya...
.
Kala itu,, percikan api seolah menyentuh lapisan kulit yg tipis lagi tak berpelumas..

Beruntunglah, ada percikan air yg lebih deras berhasil memadamkan api yg kian membesar.
Namun,,
Di balik padam nya sang api,,
Ia masih menyisakan abu hitam berlambang kekuatan,
Serta air berlambang kejernihan fikiran...

_Oyekjiddan_