Rabu, 19 Oktober 2022

RANTING YANG INI!

Terbiasa jauh dari keluarga, berpindah-pindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lainnya, dan bertemu banyak orang baru yang mayoritas di antaranya hanya sekejap saja, agaknya salah satu cara Allah untuk membentuk pribadi yang lain dalam diri saya. Menjadikan saya menganggap kebaikan kecil adalah suatu hal yang besar, mendekap erat kalimat "selama bisa dilakukan sendiri, mengapa perlu oranglain?", hingga selalu melontarkan kata "terimakasih" yang tak terhingga dalam satu waktu pada orang yang sama pun telah menjadi hal yang biasa. Meski sebagian di antaranya jadi salah sangka. Namun dari sini pula saya belajar, bahwa sebaik apapun manusia, akan ada saja manusia lain yang menghardik perbuatan baiknya. Itulah mengapa segala perbuatan harus dilandaskan dengan Lillah.

Sejak kejadian yang benar-benar diluar nalar saya beberapa waktu silam, yang kisahnya dapat dibaca di sini, perjalanan saya dalam menempuh jenjang sarjana dipenuhi akan analisis-analisis yang saya lakukan hingga benar-benar menemukan hikmah apa saja yang terkandung di balik kejadian tersebut. Terseok-seok berkelana, meneliti sekecil apapun pijakan yang sedang dilalui, seolah tak ingin melewatkan sedetikpun pelajaran yang dapat saya peroleh. Hingga beberapa waktu sebelum yudisium jenjang sarjana, dan telah ditetapkan bahwa saya akan mendapatkan penghargaan kala wisuda nanti, ayah saya berujar "Nak, mulai saat ini, kemanapun kau akan pergi, sejauh apapun itu, inshaAllah saya pasti meridhoimu. Sebab kau membawa kalamNya, dan tentu selama kau terus menjaga kalamNya, niscaya Allah langsung yang akan menjagamu. Hingga tak ada lagi hal yang perlu saya khawatirkan." Sejak saat itu, bukannya bahagia, rasa takut justru ikut menyelimuti diri saya. Takut, apabila hasil akhir tak sesuai dengan apa yang diharapkan orang-orang terkasih. Hingga ibu saya suatu kala berujar, "seburuk apapun manusia menilai, jikalau niatmu adalah Lillahi ta'ala, niscaya Dia langsung yang akan melindungimu". Hingga perasaan itu mulai dipudarkan oleh keyakinan yang semakin kuat bahwa Dia ada bahkan jauh lebih dekat dari urat nadi manusia.

Pertengahan tahun 2022, telah saya dapatkan 13 surat yang menyatakan bahwa saya diterima di kampus-kampus tersebut berikut dengan beasiswanya. Di negara-negara yang berbeda, berbeda pula program studinya, namun tetap dalam satu lingkup dengan studi saya saat jenjang sarjana (Hubungan Internasional). Namun demikian, 8 di antaranya akan memulai perkuliahan pada tahun 2023, sedangkan sisanya hanya memberikan gratis biaya kuliah saja tanpa biaya hidup. Yang tentu, menjadikan saya untuk terus mencari dan mencoba, sebab agaknya akan cukup berat di hati jikalau saya harus membebankan biaya tersebut pada orangtua. Hingga tiba pada saat pertengahan berdiskusi ringan dengan ayah saya, dan beliau berujar "kau tau kisah pencari ranting terbaik? Jangan sampai kau berakhir seperti anak pertama ya!". Kisah ranting, dapat dibaca di sini. Secara tersirat, kalimat ayah saya tersebut agaknya bermaksud bahwa beliau akan memperjuangkan biaya hidup saya di tanah rantau, tak masalah. Sebab saya sangat meyakini bahwa orangtua pasti akan berjuang sekuat tenaga untuk keberhasilan dan kebahagiaan anak-anaknya. Namun tetap saja, tetap berat di dada apabila saya harus membebankan beliau sementara adik saya juga baru saja memulai perkuliahan kedokterannya.

Hingga tiba pada suatu Jum'at di sore hari, yang mana berdasarkan sabda rasulNya, bahwa barangsiapa berdo'a pada saat itu niscaya akan Dia kabulkan. Entah mengapa saat itu seolah saya ingin meluapkan segala keluhan hati yang tak dapat saya lontarkan secara lisan. Seolah tak berdaya, 2023 tinggal 4 bulan lagi, sementara saya belum ada kepastian apa yang akan saya lakukan dalam penantian pergantian tahun ini. Saya memang tengah bekerja partial dan tetap menempuh jenjang diploma saat itu. Namun keduanya saya lakukan secara online, hingga muncul adanya kejenuhan sebab tidak adanya interaksi dengan manusia secara offline. Keesokan harinya, saya mendapatkan email yang berisikan bahwa saya diterima kerja di luar kota secara full-time. Namun keesokan harinya pula saya mendapatkan email yang berisikan bahwa saya sudah masuk 3 besar untuk mendapatkan beasiswa full di suatu negara, meski masih ada satu ronde lagi yang harus dinantikan. Sebab hanya satu orang saja yang pada akhirnya akan menjadi penerima beasiswa tersebut. Pada akhirnya saya mulai memberitahu kedua orangtua saya, mohon bantu istikharah. Meski pada dasarnya, hampir tak pernah saya memberitahu hal-hal yang belum pasti pada beliau khususnya terkait beasiswa. Sebab kali ini diskusi sangat dibutuhkan, akibat kebingungan yang saya alami. Mau menerima pekerjaan yang sudah pasti, atau menunggu hasil akhir beasiswa yang belum tentu diterima dan harus melepaskan pekerjaan tersebut. Jadi yang mana ranting terbaik saya itu?.

Pada akhirnya orangtua saya meyakinkan saya bahwa hal yang terbaik ialah menunggu hasil akhir beasiswa yang diperkirakan 2-3 hari lagi, sambil tetap melakukan shalat istikharah. Maka dengan berucap 'bismillah', saya mengundurkan diri dari pekerjaan yang belum sempat saya mulai itu dan bersedia menunggu pengumuman hasil beasiswa dengan penuh keyakinan bahwa pasti Allah berikan yang terbaik bagi hambaNya. Dari sini pula saya menyadari satu hal, inilah ranting terbaikku, ayah!.

Usai shalat isya', membuka ponsel saya, ada notifikasi email masuk dengan subject "Congratulations". Yaa Rabb. Seolah ikatan tali yang mengikat kuat pada sekujur tubuh saya tiba-tiba terlepas sedemikian rupa, bersimpuh di hadapanNya, memuja asmaNya dan membawa saya berlari menuju kedua orangtua saya. Biidznihi, saya lolos beasiswa tersebut, dapat memulai perkuliahan tahun ini, menjadi satu-satunya penerima beasiswa dari seluruh negara yang mendaftar tahun ini dan orang pertama dari Indonesia yang menerima beasiswa tersebut, bahkan dapat berangkat bulan itu juga. Lagi-lagi saya belajar, bahwa jikalau Allah sudah berkata 'kun' tak ada yang mustahil. Maha, dari yang paling maha. Jadi inilah ranting terbaik saya.

Sambil menghitung hari keberangkatan, saya menjadwalkan untuk berpamitan pada para dosen-dosen saya selama kuliah jenjang sarjana. Memohon do'a restu, sekaligus ucapan terimakasih atas segala ilmu dan dedikasi yang telah beliau berikan. Sebab saya yakin, bahwa tak ada namanya 'mantan guru'. Karena sampai matipun, ilmu dari sang guru akan tetap dan terus dibawa oleh para muridnya. Setidaknya, memberikan dampak pada langkah yang ia lalui di sisa hidupnya. Ucapan terimakasih dan berpamitan juga saya lakukan pada kawan-kawan saya, meski sekadar online sebab jarak dan waktu yang memisahkan. Namun setidaknya, untaian do'a selalu tercurahkan pada mereka yang telah menjadi bagian dari kisah hidup saya selama ini.

Keberangkatan. Telah tiba, walhamdulillah. Saat langkah kaki tengah berjalan keluar dari bandara, semilir angin berhembus lembut, mencairkan batu-batu es yang ada dalam dada, seketika berucap dengan penuh kesyukuran 'jikalau memang ini  ranting terbaikku, maka mudahkanlah, berkahilah, rahmatilah, perjalanan saya dalam menuntut ilmu di sini Yaa Rabb'. Dari sini saya kembali belajar, bahwa jikalau kau tak menduga akan mendapatkan hal baik yang sedang kau alami saat itu. Sebenarnya saat itulah, do'a ibumu Allah kabulkan, dan petuah ayahmu telah kau jalankan. Irhamhuma Yaa Rabb.


Pada akhirnya hidup ini terkadang seperti akhir kisah dalam buku karya Nizami Ganjavi. Tak segala hal yang manusia inginkan harus dicapai, sebab Allah Maha Tau apa yang terbaik bagi hambaNya. Dengan demikian, muncullah kesyukuran mendalam, hingga Dia tambahkan nikmat kembali, sampai Dia berkata "udkhuluha bisalamin aaminin". Masuklah surga dengan penuh keselamatan. Pun demikian, jikalau orangtuanya terpandang baik, belum tentu anaknya juga terbaca baik. Namun jikalau anaknya baik, sudah pasti orangtuanya terbaca baik. Maka demikian, semoga Allah selalu jaga kedua orangtua saya yang do'a-do'anya terus mengalir deras untuk anak-anaknya tak kenal batas.

Sukses selalu untuk para pembaca dimanapun dan apapun yang sedang digeluti saat ini. Do'akan saya yang baik-baik.

Sekian saja untuk kali ini, lain kali kita bercerita kembali. Salam hangat, dari Negara Api, Azerbaijan.


Hormat Saya,

Oyek Jiddan.


Rabu, 05 Oktober 2022

Ranting Yang Mana?

Berbeda dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, kali ini saya menulis di dalam bandara saat tengah transit. Sepenggal kisah, yang akan menjadi referensi utama untuk tulisan saya berikutnya.

Usai menjalani prosesi wisuda jenjang sarjana, semangat saya untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi jauh lebih membara. Segala proses terbaik saya lakukan dengan sedemikian rupa. Satu-persatu hasilnya pun kian berdatangan menyambut alamat surel saya. Di antaranya kalimat berawalan "congratulations", di antaranya pula tentu saja "we are regret". Namanya hidup, segala proses harus dijalani, harus dinikmati, hingga dapat benar-benar disyukuri.

Saya termasuk orang yang enggan memberitahu orangtua jikalau saya gagal. Setidaknya, janganlah beliau tau proses saya. Alasannya hanya satu, agar beliau tak ikut cemas lagi kepikiran nan sedih. Hingga saat saya mendapatkan surel berawalkan "congratulations" untuk yang ke sembilan kalinya dalam perjalanan menuju jenjang master, ayah saya tiba-tiba berkisah tentang pencarian ranting pohon yang dilakukan oleh beberapa anak. Kurang lebih, demikianlah kisahnya.

Suatu kala, terdapat tiga anak yang diminta oleh pendidiknya untuk menyusuri hutan dengan tujuan utama untuk membawa ranting terbaik saat telah keluar dari hutan tersebut. Dengan satu syarat utama, tak boleh menengok ke belakang apalagi memundurkan langkahnya. Mereka pun melaksanakan perintah pendidiknya tersebut dengan pola pikir yang berbeda-beda. Anak pertama menyusuri hutan dan mencari ranting dengan penuh kesungguhan, dengan pola pikir utama bahwa akan selalu ada yang terbaik dari yang paling baik. Hingga setiap kali ia menemukan ranting yang baik baginya, ia terus bersikeras dan meyakini bahwa "pasti akan ada ranting yang jauh lebih baik setelah ini". Tanpa sadar, bahwa ia tak tau kapan hutan ini akan berujung yang menjadikannya keluar dari hutan tanpa membawa apapun. Meski pada hakikatnya, ia telah menjumpai banyak sekali ranting-ranting yang baik.

Anak kedua mulai memasuki hutan dengan pola pikir utama "apa yang ku dapatkan pertama kali, itulah yang terbaik". Hingga ia keluar dari hutan dengan membawa ranting pertama yang ia temukan meskipun setelah ranting pertama itu, ia temukan begitu banyak ranting-ranting lainnya. Adapun anak ketiga, ia memasuki hutan dengan pola pikir utama "setiap jalanan terdapat ranting yang sama baiknya. Namun pasti akan ada ranting terbaik yang apabila ku temui sekali, takkan ada ranting lain dengan kualitas yang sama lagi". Hingga pada akhirnya, ia keluar dari hutan dengan membawa ranting terbaik yang ia temui di tengah perjalanan tanpa ada keraguan.

Ketiga anak telah berhasil menyusuri hutan sebagaimana perintah sang pendidik. Tiba saatnya mereka harus menghadap pendidiknya sebagai laporan atas apa yang telah mereka laksanakan. Sang pendidik pun mengajukan pertanyaan yang sama pada masing-masing anak terkait ranting seperti apa yang mereka bawa, dan mengapa mereka mengambil ranting tersebut. Ketiganya pun menjawab sebagaimana adanya hingga mereka bertanya, ada makna apa nian hingga sang pendidik meminta anak-anak tersebut berlaku demikian.

Pada akhirnya, sang pendidik tersenyum lebar. Dan berujar menjelaskan, bahwa apa yang telah mereka lalui merupakan ilustrasi kehidupan yang agaknya tak bisa dihindari. Setiap manusia sudah pasti memiliki tujuan atau target-target dalam hidupnya yang disimbolkan sebagai ranting. Proses untuk meraih tujuan tersebut disimbolkan oleh hutan dengan kelokan jalanan dan rindangan pohon yang acapkali membingungkan. Adapun dalam hidup, manusia tentu memiliki batasan usia yang ia sendiri takkan pernah tau kapan masa itu hadir. Hal itu tak lain disimbolkan oleh adanya jalan keluar hutan.

Acapkali manusia terus mengejar, terus mencari yang paling baik meskipun telah ia temukan hal terbaik itu dalam perjalanan hidupnya. Terus mencari, meninggalkan yang sudah pasti, hingga tanpa disadari waktunya telah habis dan harus berakhir dengan tak membawa apa-apa, lagi tak mendapatkan apapun. Maka apabila telah kalian temukan yang terbaik, jangan lepaskan ia sebab ia takkan pernah datang untuk yang kedua kalinya. Namun apabila timbul adanya keraguan, maka disitulah Tuhanmu memberikan isyarat untuk mendiskusikannya secara privat melalui shalat istikharah. 

Usai berkisah, ayah saya berujar singkat "nak, jangan sampai kau menjadi anak pertama yang memasuki hutan sebagaimana kisah ini". Membuat saya sempat berpikir panjang kala itu, ranting mana yang harus saya ambil?. Namun demikian, agaknya kisah tersebut dapat berlaku bagi segala macam aspek kehidupan yang terjadi pada manusia. Baik kesempatan, beasiswa, pekerjaan, atau mungkin jodoh(?).

Ya sudahlah, sekian saja untuk kali ini. Boleh jadi saya sambung di lain waktu.


Hormat saya,

Oyek Jiddan. 

Sabtu, 03 September 2022

Jadi Begini Ceritanya: 5 Tahun Pencak Silat Alkautsar Putri

Agaknya tak biasa bagi saya menuliskan terkait proses yang telah terjalani khususnya terkait Pencak Silat Al-Kautsar Al-Gontory Putri atau yang biasa dikenal sebagai Martial Arts Alkautsar for Girls (MAAG) secara internasional. Namun demikian, sebagai bagian dari penghormatan saya di usia MAAG yang ke 5 tahun, izinkan saya membagikan kisah bagaimana ia terbentuk. Mungkin tulisan ini cukup panjang, namun semoga tetap menuai keberkahan dan kemanfaatan bagi para pembaca dari setiap katanya.


5 Juli 2017, untuk kali pertama saya menginjakkan kaki di Lombok Timur untuk menunaikan tugas saya. Secara mudah, sebut saja ia merupakan tugas kerja yang wajib saya tunaikan. Beberapa saat sebelum keberangkatan, saya sempat bimbang dan bertanya pada Ibu saya "Saya tak memiliki kafa'ah apapun, bagaimana saya dapat bertahan di sana?". Saat itu beliau menjawab, "Kau dapat memanfaatkan hal paling kecil sekalipun yang kau miliki, pencak silat misalkan". Kata-kata sederhana itu saya pegang seerat mungkin hingga saat saya diajak berkeliling kawasan sekitar tempat tugas, saya menganalisa bahwa sebaik dan semulia apapun suatu tempat, pasti akan Allah hadirkan orang-orang yang kurang baik untuk menguji ketaqwaan penghuninya. Saat itu pula saya mengingat kembali perkataan Ibu saya dan bertekad, "saya harus berbuat sesuatu". Kami pun diajak berkeliling menggunakan kendaraan beroda empat dimana Ayah saya (yang saat itu ikut mengantar) duduk tepat di samping Bapak Pengasuh Pondok. Di pertengahan beliau yang sedang asyik membicarakan tinju dan beladiri, salah satu anak beliau yang duduk tepat di samping saya seketika bertanya "Ayahnya suka beladiri?", saya pun menganggukkan kepala. "Kamu juga?", saya pun tersenyum menyetujui. 

Singkat cerita, pondok akan mengadakan acara tepat satu minggu setibanya saya di sana. Saya pun langsung memohon izin untuk mengajarkan para murid pencak silat untuk dapat ditampilkan pada acara perkenalan tahunan nanti dan Alhamdulillah langsung disetujui. Perkumpulan dimulai dan hanya satu orang saja yang ingin mempelajari beladiri saat itu. Agaknya pencak silat bagi perempuan masih tabu kala itu di wilayah tugas saya. Saya pun memberikan sedikit penjelasan, bahwa apapun yang kami lakukan di sini segalanya untuk kebaikan pondok. Birohmatillah, pada akhirnya cukup banyak di antara mereka yang mau dibina untuk berkontribusi dalam pertunjukan pencak silat pertama kali dari kalangan putri.

Memulai segalanya dari 0, memulai dari bagaimana cara menggenggam tangan dan memukul yang baik, cara menendang dengan posisi kaki yang baik, hingga berujung beberapa gerakan seni yang harus mereka hafalkan demi pertunjukan. Waktunya terlalu singkat, tepat di tanggal 12 Juli 2017 kami sudah harus menyunggingkan diri di depan khalayak ramai hingga hanya sempat membina mereka dengan 24 gerakan. Terlalu singkat untuk pertunjukan pembukaan tahunan yang bersifat acara besar. Pada akhirnya saya meminta kesediaan dua kawan saya untuk dapat ikut tampil sebagai seni regu, dimana kami akan fighting namun secara seni. Dalam artian, kami fighting namun ada energi yang harus ditahan hingga tak benar-benar melukai lawan. Mereka pun setuju. Sempat terbesit dalam bena saya kala itu, Ya Rabb ini kali pertama, namun semoga ia tak sekadar lewat saja hingga binasa di kemudian masa. Walhamdulillah, pertunjukan tuntas dengan sedemikian rupa. Paling tidak, senyuman Bapak Pimpinan dan tepuk tangan dari para hadirin dapat mewakili itu semua, meskipun boleh jadi ia merupakan titik munculnya goflah. Beliau pun memanggil saya dan meminta saya untuk tampil kembali seorang diri.

Seiring berjalannya waktu, saya berkoordinasi dan memohon izin pada para pendahulu untuk dapat menjadikan pencak silat sebagai salah satu kegiatan ekstra dengan tujuan utama untuk membentengi para murid perempuan dari hal-hal yang tak diinginkan, upaya menghindari konflik dan amarah, hingga sebagai wadah untuk memberikan pertunjukan pondok pada berbagai acara tertentu. Sebab pada dasarnya, pencak silat tidak hanya sekadar tentang beladiri, melainkan ia juga mengandung unsur olahraga, seni, budaya, hingga nilai-nilai spiritual pada Sang Pencipta yang tidak ditemukan pada perguruan atau olahraga serupa lainnya. Beliau pun menyetujui, hingga Pencak Silat khusus putri diresmikan keberadaannya pada 28 Agustus 2017. Beberapa waktu kemudian saya mulai berpikir, jikalau saya telah menyelesaikan tugas saya, tentu boleh jadi pencak silat akan ikut pergi dan mati. Lalu bagaimana jikalau ternyata hanya inilah yang bisa menjadi wasilah saya selamat di akhirat kelak?. Maka bihidayatillah, saya mulai menyeleksi beberapa murid yang memiliki bakat lebih untuk menjadi "kadiroh" dimana mereka bertugas untuk meneruskan pencak silat hingga akhir hayat khususnya di kawasan ini. Sebab boleh dibilang tugas tersebut tak mudah, saya melakukan beberapa upaya dimulai dari istikhoroh, hingga ujian tulis dan praktek, bahkan dilakukan sumpah. Manusia hanya dapat berusaha, Allah yang menjalankan segalanya. 

Hingga saya berada pada titik dimana beberapa murid 'seolah' meyalahkan saya sebab kesakitan yang mereka alami usai latihan di sore hari. Saya pun mulai instrospeksi, belumkah saya arahkan pada mereka cara yang tepat? Dan saya bertanya pada murid-murid lainnya, namun mereka yang mempraktikkan gerakan dengan tepat tidak merasakan sakit sekalipun. Beberapa hari kemudian orangtuanya datang, saya pun telah mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab apapun yang terjadi jikalau memang itu murni kesalahan saya. Menegaskan, bahwa saya tak pernah memaksa mereka untuk mengikuti pencak silat, bahwa tak ada pencak silat yang tak sakit, sebab ia merupakan bagian dari pembelajaran apabila kejadian tak diinginkan benar-benar terjadi. Tak sekadar pelajaran secara fisik melainkan juga mental. Dan walhamdulillah terlewati sedemikian rupa. Namun saya mulai berpikir keras saat itu, seorang diri sebab memang tak ada yang bisa diajak berdiskusi kecuali pada Rabbi, apakah saya salah memulai sesuatu yang berat seorang diri? Bagaimana jikalau hal ini kembali terjadi bahkan dengan porsi yang jauh lebih besar? Apakah saya harus berhenti di sini saja?. Suatu ketika orangtua saya menghubungi saya bertanya kabar. Saya yang kala itu tak terbiasa bercerita kesulitan saya, akhirnya hanya bertanya "Apakah saya harus berhenti?" tanpa memberitahu apa masalahnya. Dan beliau bicara dengan tegasnya, "Kau memulai untuk siapa? untuk apa? apakah untuk mengunggulkan dirimu di hadapan khalayak? apakah untuk membesarkan namamu? apakah untuk muridmu? ataukah hanya untuk dipandang unggul untuk sosok yang jangan-jangan kau sukai? Sebab memulai sesuatu karna orang lain tentu akan binasa dengan cepat". Bak dihujani introgasi, saya pun mulai berpikir kembali sebab jawaban dari seluruh pertanyaan beliau tersebut ialah satu kata: Tidak. Maka saya mulai membangun hati, berdiskusi kembali dengan Rabbi, dan memulai kembali latihan dengan sepenuh hati.

Tak terasa sudah 2018, sudah masanya saya menyelesaikan tugas kerja saya. Saya pun pergi mengunjungi Bapak Pimpinan guna meminta tanda tangan beliau untuk sertifikat kenaikan tingkat anak-anak pencak silat yang terakhir kalinya saat itu. Usai tiba pada lembaran terakhir sertifikat, beliau seketika bertanya "Lho, kamu ini kan pendiri pencak silat, mana sertifikatmu? sini saya tanda tangani sekalian". Detik itu juga seolah ada batu es yang mencair pada dada saya. Yaa Allah, apakah benar makhluk dhoif yang hanya mencurahkan setitik kebisaannya itu dapat disebut sebagai 'pendiri'?. Namun di saat yang bersamaan, saya mulai menyadari satu hal, bahwa sekecil apapun, setidakberguna apapun aksi yang manusia lakukan, selama di dalamnya ia nyatakan "nawaitu lillahi ta'ala" niscaya Dia lah yang melancarkan, dan membina segalanya. Dimulai dengan menjawab pertanyaan, "Kuda-kuda itu apa zah?", hingga berakhir dengan kata, "Kapan antum ke sini lagi zah?" yang seolah melekat di dada.

Kini 2022, tanpa terasa usianya telah genap 5 tahun dengan total 29 kali aksi pertunjukan. Terus berjalan dengan kawadir yang terus terpilih sebagai penerus pada masanya. Ibaratnya jasad, jiwa dan hati saya seolah tercuci bersih selama tugas saya 5 tahun yang lalu. Sebab ia seolah membina bahkan Allah jadikan wasilah hingga membentuk karakter saya saat ini. Suatu masa, Ibu saya bertanya "Kau hanya bertugas selama 1 tahun, namun mengapa seolah kau telah mengenal tempat dan orang-orang di dalamnya sekian puluh tahun? Apa yang membedakan antara kau saat menuntut ilmu dan saat kau bertugas?". Saya pun menjawab saat itu dengan sedikit menghela napas, "Mungkin karena saat menuntut ilmu, manusia berlomba-lomba untuk meminta dan mendapatkan ilmu sebanyak mungkin. Namun saat bertugas, jiwa manusia menuntut untuk memberikan sebanyak ia mampu memberikan dampak". Ayah saya di lain waktu ikut bertanya, "Darimana kau peroleh kebiasaan baik ini (beliau sebutkan)?", sayapun menjawab dengan beberapa kata kala itu. Kemudian beliau kembali berujar, "Jikalau kau datang ke suatu tempat, dan saat kau kembali ia menambah kedekatanmu pada Allah. Maka itulah yang dinamakan 'lillah'. Kau telah mempelajari konsepnya tanpa kau sadari. Jangan lepaskan tempat itu".

Dengan demikian, terimakasih tak terkira kepada Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Gontory, Al-Ustad KH Muhammad Noor, Al-Ustadzah Yuyum Minwaroh selaku pimpinan pondok, para masayikh pondok, dan seluruh penghuni pondok yang meliputi santriwati dan para jajarannya yang telah memberikan saya kesempatan sedemikian rupa, membentuk karakter saya yang tak ada habisnya, hingga saya berprinsip bahwa setiap yang bernyawa adalah guru bagi saya. Tak peduli muda ataupun tua, hidup ataupun mati, segalanya dapat memberikan pelajaran kehidupan yang berharga. Pun demikian, meski sempat ada keraguan sebab kadiroh yang telah saya bimbing secara langsung mulai tanggal satu per satu dan saya tak tahu betul bagaimana nasib MAAG usai 5 tahun ini, namun saya yakin bahwa MAAG ada dan berdiri "bukan" karena dan oleh saya, melainkan karena dan oleh Allah SWT, maka atas segala upaya dan perjuangan yang telah dilakukan, semoga dan pasti akan Dia jaga dan bina dengan caraNya hingga waktu yang telah Dia tentukan.

Adapun sebagai manusia biasa, nyawa akan mati, nama akan hilang seiring musim berganti. Namun do'a akan kekal abadi, dalam keharibaan Sang Rabbi. Dengan ini, junjungan tinggi do'a saya terus tercurahkan kepada pondok dan para masayikh di dalamnya khususnya dimana beliau-beliau telah Allah jadikan wasilah hingga saya dapat terus tumbuh secara hati, dan jiwa sedemikian rupa. Atas segala kebaikan dan perjuangan, semoga Allah berkahi Pondok Pesantren Alkautsar Algontory dan hadiahkan pada seluruh ahlu nya JannahNya.


Sekian saja.

Hormat Saya,

Oyek Jiddan 

Selasa, 16 Agustus 2022

Ternyata Sepenting itu Bertanya Kabar dan Rasa

Salah satu alasan mengapa saya sangat suka mempelajari hal-hal baru dan bertemu orang-orang baru ialah sebab sudah pasti akan menambah modal dalam berpikir secara sistematis. Khususnya, dalam memaknai kehidupan yang sedang saya jalani sembari memperbaiki masa lalu yang agaknya penuh akan garis-garis hitam. Ya setidaknya, dari upaya saya dalam memaknai hidup yang boleh jadi tergolong filosofis ini dapat mengurangi perhitungan amal buruk saya di akhirat kelak.


Sekitar sebulan yang lalu, saya memulai aktivitas saya dalam meneliti bidang keilmuan saya yaitu Diplomasi (Hubungan Internasional). Meskipun ini merupakan pengalaman saya yang ke sepuluh dalam penelitian, namun ini menjadi kali pertama saya yang melibatkan latar belakang manusia dalam pencarian data primer berbasiskan wawancara. Alasan utamanya ialah sebab topik saya akan spesifik membahas Kesehatan Mental. Melakukan beberapa kali wawancara, bertemu beberapa orang-orang yang telah saya kenal cukup lama maupun baru, mendengarkan latar belakang mereka dengan seksama, bahkan di antaranya meminta maaf pada saya sebab beberapa kali tak sengaja berkata kasar (pada sosok dalam masa lalunya) selama proses wawancara berlangsung.

Di antara narasumber, ada yang mengatakan hal yang cukup membuat wawasan saya semakin meluas. Kira-kira seperti ini ujarnya, "Tau ga sih Bril? Kau adalah orang pertama yang menanyakan bagaimana perasaanku secara tulus di akhir percakapan". Sontak saya tersenyum menutupi rasa terkejut yang sedang saya alami. Ternyata sepenting itu ya, bertanya perasaan orang lain dengan tulus.

Pada kesempatan berikutnya, saya mulai mewawancarai narasumber lainnya yang sudah cukup lama saya kenal. Sebagai pembuka, saya mulai proses wawancara dengan bertanya "Bissorohah, kaifa haluk?" (Secara terus terang, bagaimana kabarmu). Tidak menjawab, ia justru meneteskan air mata yang tentu membuat saya sedikit bingung. Saya pun meminta maaf padanya jikalau pertanyaan saya yang baru pembuka itu justru menyakiti perasaannya. Ia pun berujar, bahwa saya tidak salah namun itu adalah kali pertama ia mendapatkan pertanyaan terkait kabar secara mendalam. Biasanya? Pertanyaan kabar hanyalah sekadar basa-basi belaka. Ah, ternyata sepenting itu bertanya kabar dengan tulus.

Seiring berjalannya proses penelitian terkait Mental Health, saya seakan mendapatkan semakin banyak pelajaran kehidupan yang agaknya belum tentu saya peroleh di lain kesempatan. Dari para narasumber ini pula saya mulai berpikir, agaknya inilah sebabnya mengapa kawan-kawan British saya selalu bertanya "Alright?" (Apa kabarmu versi British) setiap kali bertemu orang lain. Inilah alasan di balik Anas Bukhas, podcaster asal UEA selalu bertanya "How are you really doing?" Di awal percakapannya dengan lawan bicara. Sebab bertanya kabar dan perasaan seseorang dengan tulus, setidaknya dapat mengurangi rasa sakit yang ia alami selagi ada. Jadi begini pentingnya menanyakan kabar dan rasa secara tulus.

Namun demikian, agaknya budaya Indonesia menjadikan pertanyaan kabar dan rasa sebagai basa-basi belaka. Sebagai formalitas, hingga tanpa jawaban pun tak mengapa. Dan agaknya itulah yang menjadi alasan mengapa isu kesehatan mental di Indonesia masih tabu. Pun, masyarakatnya seolah selalu mengaitkan kesehatan mental hanya sebatas 'gila', yang pada hakikatnya, isu ini tentu kian luas bahkan mencakup hampir keseluruhan aktivitas hidup manusia.


Ya, sebagai manusia biasa yang tentu memiliki garis hitam di masa lalunya, setidaknya dari sini saya mendapatkan pelajaran berharga. Bahwa menanyakan kabar ataupun perasaan orang lain secara tulus itu bukanlah basa-basi belaka, melainkan ada ikatan kemanusiaan di dalamnya. Sebab sekuat apapun seseorang, ia tetaplah manusia, yang ada masa dimana ia lemah akan perjalanan kehidupan yang acapkali porak-poranda.


So, how are you really doing? And how do you really feel?


Pendek saja untuk kali ini. Semoga bermanfaat. 


Hormat Saya,

Oyek Jiddan 

Jumat, 29 Juli 2022

Hati Yang Mati

Kisah ini berawal dari adik saya yang akan memulai jenjang sarjana pada Prodi Kedokteran Gigi, yang tentu mengharuskannya untuk pandai dalam Bahasa Inggris sebab adanya tuntutan dari materi-materinya nanti yang akan full dalam bahasa tersebut. Pada akhirnya orangtua saya meminta saya untuk menemaninya belajar Bahasa Inggris di luar kota sebab kurangnya motivasi jikalau ia harus belajar secara otodidak. Saya pun mulai melakukan riset terkait tempat kursus yang terbaik untuk menunjang kemampuannya tersebut. Di sisi lain, saya mulai intensif untuk menyelesaikan beberapa tugas-tugas dan kewajiban saya sebagai pelajar sekaligus pekerja dengan tujuan agar saat saya menemaninya di luar kota, saya tak harus lagi kepikiran akan tugas tersebut. 


Dapat. Tempat kursus terbaik berdasarkan hasil riset saya. Daftar, berhasil. Dan tentu saja, pada akhirnya saya harus ikut mendaftar pula sebab akan sayang sekali rasanya jikalau sekadar menemani adik saya tanpa mendapatkan ilmu, pengalaman, dan kawan baru yang mana saya sangat menyukai ketiga hal tersebut.

Singkat cerita, hampir setiap harinya kami harus menuliskan kisah pada buku yang sudah disediakan dan harus disetorkan secara lisan pada sore harinya dengan topik yang telah ditentukan. Suatu hari, topik yang menurut kebanyakan orang paling ringan untuk dikisahkan, justru menjadi topik terberat yang bahkan membuat saya harus terlambat untuk menyetorkan hasil tulisan dan kisah saya tersebut. Topiknya: My Love. Yassalam, entah mengapa sulit nian terasa kala itu. Tak sampai di situ, sehari sebelum saya kembali ke rumah, saya harus melakukan wawancara dengan narasumber sebagai data primer topik penelitian saya. Saat itu narasumber sedang bersama seseorang yang tidak lain ialah kawan sekelas saya di tempat bimbingan. Ia tiba-tiba menanyakan usia saya, yang mana pada hakikatnya, agaknya selama lima tahun terakhir saya tak pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu. Bahkan seringkali saya melupakan berapa usia saya hingga saya harus menghitung terlebih dahulu. Sepele, namun entah mengapa kian membuat saya berpikir "Di usia segini sudah berbuat apa yang bermanfaat bagi umat?". Dan, tentu saja, berat nian terasa.

Topik terkait "My Love" pada akhirnya membawa saya untuk memilih keputusan terakhir, menjadikan orangtua saya ikut andil sebagai subjek dalam kisah itu. Bagaimana lagi? Di usia yang hampir seperempat abad ini, dan selama ini pula entah mengapa saya tak pernah merasakan apapun terhadap semua orang (both crush/in love). Semuanya terasa sama tiada beda. Hingga saya menuliskan puisi-puisi dan buku-buku yang berbau romansa, itupun sebagai pemanasan untuk memunculkan rasa tersebut. Ditambah lagi dengan penulisan topik dan pertanyaan kala itu, membuat saya jadi berpikir panjang "Apakah benar, hati saya kian mati hingga tak bisa merasakan apapun?". 

Beberapa di antara kawan dan orang-orang sekitar saya memercayai saya untuk menjadi tempat curahan hatinya terkait permasalahan hati yang mereka rasakan. Pun apabila mereka meminta masukan, tetap saya beri masukan. Namun berdasarkan riset, bukan berdasarkan apa yang saya rasakan sebab saya tak pernah sama sekali merasakannya. Konon katanya, setiap orang pasti memiliki 'crush' meski hanya sekali dalam hidupnya. Namun mengapa saya tak pernah? Apakah memang benar, hati saya kian mati?.


Topik penelitian saya kali ini terkait Mental Health, yang tentu berkaitan erat pula dengan akhir dari kisah romansa. Namun setiap kali mendengarkan data primer dari narasumber saat wawancara berlangsung, saya kembali berpikir "Memang iya, hati saya sudah mati?".

Saya jadi teringat dengan perkataan salah satu narasumber yang cukup melekat di pikiran saya saat interview berlangsung, "Aku takut menikah, namun aku juga takut takkan pernah menikah." Membuat saya jadi sempat berpikir, apakah jangan-jangan saya sedang berada pada posisi itu?. Ah, sudahlah. Jadi betulan nih, hati sudah mati?.

Di akhir masa, saat saya telah tiba di rumah dan bertemu dengan Ummi, kebetulan beliau sedang mendiskusikan perihal jodoh. Beliau pun tahu betul, bahwa saya tidak ingin 'menduakan' jenjang magister saya dengan hal-hal berbau romansa khususnya pernikahan. Dan saya sangat bersyukur, bahwa beliau mengiyakan hingga takkan pernah menanyakan/menawarkan sosok lelaki pada saya sebelum masa yang telah disepakati tersebut. Namun di sisi lain, topik tulisan saat itu lagi-lagi merasuki pikiran saya hingga saya pun memutuskan untuk bertanya pada beliau "Apakah memang hati saya sudah mati, hingga saya tak pernah memiliki crush sama sekali sejauh ini?".

Kemudian beliau pun menjawab dengan kata-kata yang cukup membawa ketenangan pada hati saya, "Bukan hati kau yang mati. Mungkin itu adalah salah satu cara Allah untuk menjaga Al-Qur'an yang ada di dadamu. Pasti ada masa dimana Allah hadirkan rasa itu, untuk orang yang tepat dan terbaik, di waktu yang terbaik pula."

Yaa Rabb. Meski demikian, agaknya saya tiada memiliki kekuatan lain selain keyakinan, bahwa kuasaNya lebih dari apapun yang ada. Maka jikalau demikian adanya, hanya satu yang saya minta: kekuatan untuk terus menjaga apa yang telah dititipkanNya dalam dada.


Sekian saja untuk tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.


Hormat Saya,

Oyek Jiddan


Sabtu, 09 Juli 2022

Dari Anak Rantau di Hari Raya Idul Adha 1443H

Sayup-sayup takbir menggema menggetarkan jiwa. Patriot pembawa obor kian bersemangat, menghardik jalanan dengan kekuatan lantunan takbir yang ia persembahkan untuk Rabb-nya. Malam yang biasa sunyi, seketika hidup, terbangkitkan oleh kekuatan jiwa yang tak lelah akan do'a.

Hari raya Idul Adha kian hadir kembali dengan suasana penuh gembira nan menggetarkan jiwa, usai beberapa masa menanti baiknya alam semesta yang terhimpit pandemi hingga para manusia harus mengurung diri. Namun demikian, dari pandemi banyak nian pelajaran yang dapat diperoleh. Khususnya, bagi diri saya sendiri. Dari pandemi, kekeluargaan terasa amat berharga dari segala hal yang ada, kesehatan adalah nikmat terindah dariNya yang tak bisa dibeli dengan harta, dan harta di dunia tentulah ada masanya. 

Manusia kian menghardik masa sebab darinya hartanya kian surut nan hanyut tanpa sisa. Manusia kian mengganti kesehatannya dengan kenikmatan sementara, hingga menyesal pada akhirnya. Manusia kian menjadikan ponsel sebagai kekasihnya, meski keluarga sedang berada di sampingnya. Ah, manusia kerap kali mengharap yang tiada, dibandingkan memanfaatkan yang ada. Lesuh nian di akhir masa.

Sepanjang usia, hari raya Idul Adha dengan keadaan jauh di tanah rantau merupakan hal yang kian biasa terjamah oleh saya secara khusus. Melakukan panggilan suara di keesokan harinya ialah pengganti dari segala rindu yang kian berkecamuk dalam jiwa. Namun demikian, selalu ada yang tetap membersamai orangtua sebab saya lima bersaudara. Setidaknya, rumah kian ramai dengan kisah-kisah yang tertorehkan dari lisan penghuninya.

Tujuh kali Idul Adha di tanah rantau kian berlalu, kali ini merupakan kedelapan kalinya saya di tanah rantau. Namun dalam keadaan yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Kedua kaka saya telah menikah, yang tentu memiliki kewajiban unggul pada suaminya. Adik terakhir saya masih menimba ilmu di tanah rantau yang tak bisa dihubungi apalagi ditemui. Adik saya yang sebelum akhir pun demikian adanya. Demikian pula saya, yang masih dihadapkan dengan 'tugas negara' yang tak bisa ditinggal hingga harus jauh dari peradaban kedua orang tua. Beberapa orang mungkin kian terbiasa memiliki orangtua yang hidup hanya berdua sebab anak-anaknya kian berjuang pada ranahnya masing-masing. Namun agaknya kami masih pemula, hingga harus membayangkan raga saling menyatu, menjabat tangan tak kenal sekat sebab rumah yang kian sunyi akan kisah-kisah yang biasa kami semarakkan setiap malam.

Kejadian ini membuat beberapa di antara kami (berlima saudara) berpikir keras. Mengapa nian Allah takdirkan semua ini terjadi sedemikian rupa?. Beberapa dari kami pun mencoba untuk menarik benang merah pada masa yang akan datang. Agaknya inilah cara Allah mencintai kami sebagai hambaNya, memberikan 'pemanasan' terlebih dahulu sebelum tahun depan benar-benar berjauhan raga, waktu setempat, bahkan kesibukan hingga hanya dapat menghubungi dengan metode 'selagi sempat'.

Sebab memang benar adanya, hidup ini hanya perihal pulang dan pergi, meninggalkan atau ditinggalkan. Meski demikian, saya bersyukur nian pada Allah, sebab telah menghadirkan kecanggihan pada era globalisasi saat kami sekeluarga harus berjauhan jiwa dan raga. Hingga apabila rindu tak lagi dapat tertolong oleh bayangan yang kami ciptakan sendiri, Voice call, video call, dan melihat CCTV rumah adalah jalan pintas merayakan rindu hingga puas. Pun, kami tau, bahwa do'a kami saling berbalas dengan ikhlas pada-Nya setiap saat tak kenal malas.

Selamat Idul Adha 1443 H. 

كل عام وأنتم بخير.


Hormat Kami,

Oyek Jiddan.

Rabu, 02 Februari 2022

Buku Puisi Berjudul "Abstraksi Jiwa" Karya Brilliant Windy K.

 


Spesifikasi Buku
:

Judul: Abstraksi Jiwa

Penulis: Brilliant Windy K.

Genre: Puisi

ISBN: 978-623-5527-01-7

Penerbit: Lintang Semesta Publisher

Tahun Terbit: Oktober 2021

Harga Normal: Rp. 45.000


Buku ini lahir saat seorang penerbit menghubungi penulis, menyatakan ketertarikannya melalui media sosial untuk menerbitkan puisi-puisi karya penulis dalam bentuk buku. Dengan satu syarat, karya puisi harus telah mencapai jumlah tertentu hingga dapat dibukukan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku. Pada akhirnya penulis mengumpulkan beberapa puisi karyanya yang berserakan, dan menambah beberapa untuk mencapai jumlah yang ditentukan. Pada akhirnya, buku puisi ini berhasil diterbitkan pada Oktober 2021 dan berhasil mendapatkan logo Best Seller yang tercantum pada covernya pada September 2021. 

Buku Abstraksi Jiwa berbicara tidak hanya tentang manusia dan sesama manusia, namun ia jauh lebih mendalam terkait hubungan antara manusia dan Tuhannya, manusia dan Rasulullah SAW, manusia dan orangtuanya, bahkan terkait manusia dengan dirinya sendiri yang bahkan seringkali mengalami perdebatan antara akal pikiran dan hati. Buku ini tercipta tidak hanya sekadar untuk dibaca, namun juga untuk dianalisa dan dirasakan keberadaannya. Adapun feedback dari pembaca buku ini:

"Dengan torehan bahasa yang khas, penulis tidak hanya membuat pembaca sekadar membaca karyanya, melainkan juga berpikir kritis dan mengambil pelajaran darinya." -Hajjar Darissalamah-


Terkendala biaya namun ingin mendapatkan buku ini? Hubungi penulis, it's free! 

Atau anda dapat membacanya secara gratis di sini .

Hormat Kami,

Oyek Jiddan